Senin, 10 Agustus 2009

MEREKA-MEREKA YANG 'PERGI'


“Kematian hanyalah tidur panjang,
maka bermimpi indahlah kau Camellia…”


Sepotong bait di atas merupakan pemaknaan yang dilakukan Ebiet tentang perpisahan antara nyawa dan raga. Perpisahan yang syahdu, mengharu biru namun membekaskan romantisme bagi mereka yang ditinggal pergi.Mereka-mereka yang pergi itu tak pernah kembali lagi, mereka abadi di sana, mereka hanya meninggalkan nama, mereka meninggal gading karyanya dan mereka meninggalkan belang perbuatan-tindak tanduknya. Sementara kita yang ditinggalkan berusaha menyimpan namanya [sebisa mungkin jauh di lubuk hati]. Kita juga berusaha menjadi pewaris karya [sebisa mungkin selalu menikmatinya]. Dan kita selalu berusaha melamunkan saat-saat bersama mereka [sebisa mungkin berdoa dan memaafkannya]

Kisah-kisah kepergian meninggalkan duniawi cukup banyak menginspirasi setiap kebudayaan di beberapa tempat di tanah air, hingga kinipun jejak-jejaknya masih bisa dilacak.Upacara adat Rambu Solo di Toraja, Gending Megatruh di Jawa, Upacara Tarik Batu di Sumba, Upacara Ngaben di Bali, Tahlilan di Tanah Melayu. Semua bentuk-bentuk upacara ritual itu ada dan dibuat berkaitan untuk memaknai sebuah kematian. Itulah kematian, peristiwa alam yang selalu dimaknai dalam setiap kebudayaan umat manusia.Tidak ada yang bisa menolak dan tidak ada yang bisa menghindarinya.

Mereka yang Pergi dalam Perjalanan.

Secara pribadi saya tidak kenal Mbah Surip, lagunya ‘tak gendong’ rasanya memang enak untuk didengar; ringan, kocak, tidak bertele-tele dan cukup menghibur.Nyaris tiga bulan sebelum beliau meninggal [dari medio Juni s/d Agustus] siapa sich yang tidak bisa menyanyikan lagu ini? Semua pasti bisa, tidak harus pada posisi menyanyikan karena suka apalagi ‘jatuh hati’, rasanya kita menyanyikan lagu ini dalam kategori ‘enak’ saja.

Mbah Surip pun menjadi demikian populer. Kita sudah bisa mengakses kehidupan pribadinya atau setidaknya melonggok gossip si Mbah.Soal gossip ini merupakan salah ciri [industri] ketika seseorang sudah mulai dikenal oleh khalayak. Kita melihat si Mbah dengan rambut gimbal ala rasta, tertawanya yang ‘khas’ dan renyah serta kalimat I Love you Full diucap dimana-mana.

Hanya tiga bulan, kita ‘akrab’ dengan sosok si Mbah, tapi bagi mereka yang pernah dekat dengan kehidupan si Mbah, sungguh tiga bulan ini terlalu singkat. Kalau memang sudah dari tahun 85’ Mbah merantau ke Jakarta, maka perjalanan [karier] sekitar 25 tahun justru kita tak tahu rimbanya.Setiap karya membawa dan memiliki nasibnya sendiri-sendiri.Bisa saja lagu ‘Tak Gendong’ merupakan bahasa ‘khas’ perjalanan, lagu itu mengemban pengalaman yang mencipta dan lagu itu mengekspresikan perjalanan yang empunya.

Waktu adalah segalanya.Waktu jua yang mempertemukan kita dengan karyanya dan waktu jua yang memisahkan kita dengan si Mbah. Mungkin kita belum mengenal betul liku dan terjal perjalanan si Mbah dengan karyanya, tetapi si Mbah tampaknya hanya pasrah, karena waktu tak memungkinkannya meneruskan perjalananannya.

Sekali berarti, sesudah itu mati…[Chairil Anwar]
Catatan tanggal 4 Agustus 09.


Mereka yang Pergi dalam Pesona Alam.

Inilah si Burung Merak yang penuh pesona itu.Warna bulun ‘karya’ nya pun bertabur mahligai cahaya menebar di tanah air.Rendra merupakan ‘orang besar’ di Republik ini. Perjuangannya besar, karya-karyanya besar, dan jejaknya pun mengukir jalan besar dunia kesusastraan Indonesia.

Tidak ada yang meragukan konsistensi Mas Willy dalam berkesenian.Dedikasinya menakjubkan, spirit idealismenya memungkinnya untuk menjadikan kesenian adalah pilihan dalam jalan hidupnya.

Ketika masih menjadi mahasiswa di sekolah kesenian, saya melihat mereka orang-orang besar seperti Mas Willy ini adalah batu karang yang tegar.Mereka sudah menjadi dirinya sendiri bukan karena ‘karbitan’ tetapi mereka menjadi ‘besar’ karena daya tahan ‘perjuangan’ mereka dari tekanan ‘ekonomi dan politik’ yang juga besar. Menyimak Mas Willy membaca puisi laksana melihat alam membentang makna kehidupan, lalu bergemuruh menjadi samudera ilmu pengetahuan.

Mas Willy mewakafkan pada mahasiswa-mahasiswa ‘kecil’ kesenian itu adalah penyadaran diri untuk menjadi dan mengerti ‘diri sendiri’.

Karena kami arus kali
Dan kamu batu tanpa hati
Maka air akan mengikis batu
…[Rendra, Sajak Orang Kepanasan]
Catatan tanggal 7 Agustus 09.


Mereka yang Pergi dalam Kemurkaan/Kemarahan.

Siapa jasad yang tergeletak, terhunus peluru dan pecahan mesiu di Temanggung itu? Kita hanya bisa tersentak, lalu Negara ini kembali seperti sedia kala meninabobokan kita dalam ketidak pastian. Semua diantara kita pasti merindukan kedamaian, untuk kita bisa bekerja, kumpul di tengah keluarga, melihat anak-anak bermain serta merenung mengendapkan kehidupan.

Bagaimana pun sampai detik ini saya tidak mengerti, orang-orang menjalankan kehidupan dengan rasa marah dan dendam serta berusaha menghancurkan orang-orang lain yang dianggap berseberangan?! Mereka mengambil apa yang mereka mau. Mereka tidak peduli kasih sayang dan cinta kesesama manusia lainnya.

Kematian yang menyakitkan seperti menantang ‘maut’ sebelum waktunya. Orang-orang yang ‘mati’ dalam kemarahan yang belum usai; masih ada dendam di hatinya; masih ada kebiadaban yang menyumbat pikirannya serta sejuta sumpah serapah mengiringi kepergiannya.

Saya terbayang kepada orang-orang yang ditinggalkan, pastilah masih ada ‘luka’ yang terus tergores, masih ada api dendam yang tak padam serta rasa ‘malu’ menanggung cibiran sosial.

Hai Nafsun Mutma’innah… bagaimana kami akan melamunkan saat-saat bersama mu? Lalu dengan apa kami berdoa dan memaafkan mu?

Mereka-mereka yang pergi itu tak pernah kembali lagi.

Dunia segara duka
Tiada cinta selama muda
Derita rama remaja
Susah sepah tersia-sia
…[Amir Hamzah, Pada Senja]
Catatan tanggal 8 Agustus 09.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar