Rabu, 21 Oktober 2009

DONGENG TENTANG NEGERI KETAWA


Di negeri yang serba menggelikan ini, apa sich yang tidak bisa kita tertawakan? Konon katanya orang yang bisa tertawa mencerminkan orang yang sehat.Namun konon katanya lagi orang yang lebih sehat adalah orang yang bisa mentertawakan dirinya sendiri.

Tapi ada orang yang tidak bisa tertawa?! Kalau marah sambil tertawa tentulah tidak mungkin, atau kalau tertawa ketika sedang dalam suasana duka tentulah tidak ‘pas’.Tetapi kisah orang yang tidak bisa tertawa ini, adalah kisah tentang mereka yang tidak bisa tertawa dalam segala suasana…wah gawat! Ketidak tertawaan mereka ini ternyata sudah menjurus dan menjadi penyakit.Namanya gelotophobia alias penyakit tidak bisa tertawa.

Satu lagi penyakit unik yang tidak banyak orang tahu, yaitu penyakit takut ketawa atau gelotophobia. Orang dengan gelotophobia bukan sekedar malu, tertawa sudah menjelma menjadi hal yang menakutkan.

Gelotophobia berasal dari bahasa Yunani yaitu 'gelo' yang artinya ketawa dan 'phobos' yang artinya takut, sehingga 'gelotophobia' memiliki arti takut ketawa atau juga malu ketawa. Jenis phobia ini pertama kali didiskusikan di Spanyol pada acara International Summer School and Symposium on Humour and Laughter. Sedangkan teori, penelitian dan aplikasinya dilakukan oleh University of Granada.

Dalam sebuah studi yang dimuat di Scientific Journal Humour, peneliti dari University of Zurich, Switzerland melakukan survei terhadap orang-orang di sekitar 73 negara dan menemukan beberapa orang yang memang memiliki penyakit malu atau bahkan takut ketawa.

"Seseorang bisa ketawa karena berbagai alasan. Namun orang yang punya penyakit malu ketawa atau gelotophobia justru takut dengan berbagai respons dan reaksi yang muncul terhadap lingkungan sosialnya jika ia ketawa. Ia memiliki ketakutan yang berlebihan untuk ketawa," ujar Victor Rubio, seorang psikolog dari Autonomous University of Madrid, Spanyol seperti dikutip Health24, Minggu (18/10/2009).

Menurut para peneliti, seseorang gelotophobia memiliki gejala yang berbeda-beda, diantaranya ketakutan akan reaksi tidak nyaman dari lingkungan sekitar, takut memberi lelucon dan menghindari situasi lelucon. Takut akan reaksi tidak nyaman membuatnya menjadi tidak percaya diri, sedangkan mereka yang enggan mengeluarkan lelucon karena takut dianggap tidak lucu oleh sekitarnya.

Seorang gelotophobia juga takut bila orang lain ketawa, itu berarti mereka sedang menertawakan dirinya. Untuk itu, mereka lebih memilih untuk menghindari situasi yang memicu terjadinya ketawa atau dengan cara tidak memberikan reaksi ketawa saat orang lain ketawa.

Bagi saya,terlepas dari hasil penelitian ilmiah para ahli di atas, sekarang ini memang ada kecenderungan orang untuk mulai tidak bisa dan tidak membiasakan diri untuk tertawa.Hal yang paling rapuh adalah kita sering terbelenggu kenyataan pada saat menghadapi situasi sosial.Terhimpit kemiskinan [keterbatasan ekonomi] telah membuat dahi kita mengernyit dan simpul urat tawa di bibirpun menghilang.Kita sering tidak bisa tertawa karena terombang-ambing oleh gairah hidup yang fluktuatif.Kitapun terhenti tertawa oleh hal-hal besar tentang negeri ini yang membuat kita terkejut; BBM naik, Gas Elpiji naik, aksi teror bom, sidang kasus korupsi, pemilihan ketua DPR/MPR, pemilihan menteri kabinet, yang kalau dirasa-rasa juga tidak ada hubungan langsung dengan kehidupan kita.

Kondisi Ipoleksosbud hankam [kondisi social bernegara] telah membuat kita kena syndrome depresi mendadak, kita kehilangan nyali untuk gembira, kita kehilangan naluri untuk menghibur diri sendiri, kita lupa bahwa kita orang yang masih sangat sehat, lidah kita pun tiba-tiba terasa ‘kelu’ dengan cara berekpsresi lewat tertawa.

Depresi sosial yang ditandai dengan menghilangnya gairah kita untuk tertawa biasanya akan diikuti oleh tindakan sosial yang juga tidak ‘lucu’: aksi demo dengan bakar-bakaran, kekesalan yang lalu ditumpahkan dengan cara menghilangkan hak dan nyawa orang lain, cacian dan hinaan yang diobral melalui media, berdemokrasi dengan cara pukul-pukulan, mendiamkan teman seiring, tidak mau bertetangga, gampang naik pitam lalu mengumpat sekenanya…dan sebagainya…dan sebagainya.

Tiba-tiba negeri ini dicap sebagai bangsa pemarah, negeri yang tiba-tiba [juga] sepi dengan keramahtamahan.Negeri ini seperti penebar aroma kematian kreatifitas karena dianggap negeri yang sangat tak bersahabat.Lalu kita banyak mebaca di Koran-koran nasional reaksi dari Negara-negara internasional yang memberlakukan travel warning bagi warganya untuk berhati-hati berkunjung ke negeri kita yang konon sangat elok pesona wisatanya.

Akhirnya kita hidup di negeri kita sendiri seperti meratapi kutukan para dewa dan leluhur yang entah ada dimana.Sebagai negeri yang terkenal dengan sebutan ‘the ring of fire’ [negeri cincin api] dan dengan penduduk yang kehilangan rasa tawa-humor bahkan candaannya, makin lengkap lah ketika kita benar-benar tidak bisa tertawa pada saat berkali-kali gempa mengahampiri dan memporak-porandakan negeri ini.

Tertawa adalah hak setiap orang, namun ketika tertawa sudah menjadi suatu penyakit, hak tersebut menjadi terampas. Padahal tertawa adalah salah satu obat stres, dimana ketika tertawa hormon-hormon yang memicu rasa senang seperti oxcytocin, dopamin dan serotonin akan memperlancar sistem aliran dalam dan membuat tubuh jadi rileks.

Ketakutan akan tertawa hanya bisa disembuhkan dengan keberanian dari dalam diri sendiri, jadi beranikanlah diri untuk tertawa, jika memang hal itu patut ditertawakan.

Di negeri yang tiba-tiba sepi denga suara tawa…saya pun terdiam sendiri, dahi saya mengernyit, urat tawa di bibir saya terkatup…apakah saya sudah termasuk seorang gelotophobia? Atau seorang dengan serangan depresi sosial?...ah tidak, saya hanya sedang menulis merangkai kata saja…

So, be relaxs dan mari tertawa; ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha…

Ayo ngguyu dan ramaikan negeri ini; ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha…(LL dalam tertawanya di 19/10/2009).

Difficult Time.


Sering tiba-tiba dalam menjalankan hidup ini langkah kita merasa harus terhenti dengan apa yang kita sebut dengan Difficult Time.Waktu yang sangat sulit, bisa diibaratkan seperti suasana ketika seorang nelayang yang tak bisa menangkap ikan karena laut yang mengganas; sama halnya dengan petani yang tak lagi dapat menanam karena lahan garapannya sudah digusur untuk kepentingan pembangunan; ini kira-kira sama juga dengan dengan karyawan yang kehilangan kinerjanya dan harus berhadapan dengan PHK; atau kurang lebih seperti seniman yang kehilangan ide kreatifitas untuk berekspresi; atau ketika seorang budayawan tak memiliki gagasan tentang konsep kemanusian dalam semesta atau dapat digambarkan laksana politisi yang tak memperoleh dukungan suara dari para konstituennya; atau ketika kita mendapatkan penghianatan dari orang yang kita sangka sebagai teman,…begitulah kira-kira suasana [batin] nya.

Waktu ini membuat kita merasa tertekan, sejenak kita frustasi, meratapi yang tak mungkin kembali lalu kita kehilangan tempat untuk mengadu.Dalam suasana seperti ini perasaan kita terasa diaduk-aduk, tidak karuan entah mengapa, hidup seperti habis seketika, hidup seperti tak memberi solusi, kita menghabisi diri kita sendiri dengan kata sesal.

Ternyata diluar carut marut kegundahan hati kita ketika menghadapi waktu yang sulit ini; dunia tetap berputar, udara tetap berhembus, matahari tetap bersinar, burung-burung tetap berkicau, apa artinya? Artinya adalah ternyata dunia yang kita pijaki belumlah kiamat.Sekalipun tidak banyak orang yang menyukai waktu yang sulit ini, tetapi sebagai manusia yang hidup kita tak akan pernah bisa memungkiri dan ingkar darinya.Ini persoalan jatah orang hidup. Ini kodrat [takdir yang baik] dan juga irodat [takdir yang buruk] bagi orang-orang yang masih diberi nyawa.

Lalu harus bagaimana? Tidak mudah memang untuk segera bebenah diri menyelesaikan semua diwaktu yang sulit. Setidaknya inilah saat yang tepat untuk kita kembali mencoba mengenali diri kita sendiri.Mengapa? Sering tanpa disadari sebagai manusia kita tak pernah melepaskan diri dari nafsu dan ambisi pribadi.Nafsu dan ambisi ini terus melekat sejak nafas pertama kita hirup di dunia ini.Kita menjadikanya kendaraan yang nyaman untuk memenuhi konsep dunia yang ‘ideal’ yang kita damba-dambakan.Sebagai kendaraan [nafsu dan ambisi] telah mengantarkan kita kemanapun dunia yang kita inginkan.Sepertinya tidak ada yang bisa menghentikannya, melarangnya bahkan mencabutnya dari jasad hidup kita.

Kita terus saja membawanya berlari dan melaju sekencang mungkin dengan kecepatan yang kita mau.Nafsu dan ambisi itu bergelora-lora membakar dan menyelimuti kita menuju dunia yang ‘ideal’.Dunia yang ‘ideal yang kita bangun adalah; harta yang berkecukupan, ikan yang banyak serta lautan yang selalu teduh, hasil pertanian yang melimpah dan tanah yang selalu subur, gaji yang besar dan fasilitas kerja yang mewah, ide yang senantiasa melimpah dan karya yang jumawa dengan pasar pembeli yang bagus, ketajaman pikiran dan mendesign konsep kehidupan dunia seperti yang kita mau, atau para politisi yang selalu obral janji dan selalu dapat dukungan suara dengan membeli, atau kita berkecukupan suasana sehingga kita dapat merangkul dan berfoya-foya dengan teman disekeliling kita,… begitulah kira-kira suasana [batin] nya.Dunia ‘ideal’ tanpa duka dan nestapa.

Waktu yang sulit ini, ternyata mengingatkan kita akan harkat bahwa kita masihlah manusia [biasa]. Rocker juga manusia, punya hati-punya rasa. Inilah yang sering kita lupa terhadap diri kita, mungkin saja jasad [hidup] ini berada pada titik jenuh. Ibarat bunga setelah berkembang mungkin dia butuh tambahan pupuk dan siraman air yang lebih. Rotasi waktu membutuhkan ‘sedekah’ pada bumi dan laut untuk menjamin hasil yang langgeng. Tubuh dan segenap pikiran yang lelah ini juga butuh ‘diruwat’ sebagai sebuah interupsi. Interupsi ke dalam jiwa untuk kembali mengenal kesejatian diri dan meluruskan kembali nafsu dan ambisi yang kadung membesar.

Siapa bilang waktu yang sulit ini tidak bermanfaat? Untuk sementara waktu:
Bagi para nelayan ketika laut yang sedang murka ada baiknya untuk merawat jala dan perahu yang selama ini digunakan, bagi para petani mungkin harus kembali mengasah cangkul dan berhati-hati ke depan dengan tawaran mengiurkan terhadap lahan garapan untuk hidup, bagi para karyawan mungkin harus belajar lebih disiplin lagi terhadap komitmen, para seniman juga harus kembali pada kodrat penciptaan, tidak usah terseret pada ‘laku’ yang tidak produktif bagi kekaryaan yang nyata, bagi para budayawan harus kembali berada di tengah-tengah masyarakatnya tidak bermukim pada ruang ber-AC yang penuh dengan aroma kekuasaan, bagi para politisi harus bisa dengan jujur untuk bekerja dengan masyarakat disekitarnya, serta bagi kita pribadi adakah selama ini kita telah mengenal betul dan memberi arti yang lebih pada pertemanan kita? Atau hanya sekedar basa-basi yang tidak perlu untuk melegitimasi pergaulan kita? Wallahualam.

Inilah waktu yang sulit itu, karena dengan segenap kesadaran, kita akan tetap melihatnya sebagai keindahan yang nilainya juga tidaklah kalah dari ketika kita mendapatkan waktu yang mengembirakan.Semua ada suka citanya, semua ada suka dukanya, dunia selalu simetris, terbagi dua, berpasangan dan selalu menjaga keterseimbangan.

Hidup ini hanya mampir untuk minum, waktunya yang sangat singkat, sekejap saja, tak banyak yang bisa kita bawa, kecuali menghargai waktu yang akan datang pada kita.Pada saat kaya maupun miskin, pada saat muda maupun tua, pada saat longgar maupun sempit, pada saat sehat maupun sakit, pada saat hidup maupun mati…I do…, [LL/20/10/2009].

Rabu, 14 Oktober 2009

The Dream


Di saat terdesak Dr. Octopus diminta untuk menghentikan hasil percobaannya yang salah perhitungan dan akan berakibat membahayakan orang lain.

“Kau harus menghentikannya!”
“Tidak, aku tidak dapat menghentikan hasil penelitianku, karena itu mimpi sepanjang hidupku”
“Bukankah kau pernah mengatakan, bahwa ada kecerdasan untuk menguasai itu semua di atas mimpimu sekalipun?”
Dr. Octopus terdiam sejenak, pikiran menerawang jauh seakan memastikan sesuatu.
“Kau benar, aku telah salah perhitungan, biar ku lakukan sendiri, aku tak mau mati menjadi monster’.


Lalu Dr. Octopus turun ke bawah menuju penopang besi yang menyangga mesin fusi cahayanya yang kian bergelora.Dengan segala kekuatan dan teriakan akhirnya roboh pula tiang penyangga besi itu disusul tenggelamnya mesin fusi ciptaannya ke dasar sungai. Dr. Octopus tewas bersama dengan tenggelamnya mesin fusi ciptaannya, sekaligus tenggelam pulalah impiannya.

Kisah di atas adalah cuplikan adegan dalam film spiderman 2. Banyak orang dalam pandangan sosial beranggapan bahwa mimpi hanya lah sebagai bualan, mencari yang nggak-nggak – mengharapan yang bukan-bukan. Bunga tidur!Siapa diantara kita yang tak pernah bermimpi? Mimpi adalah pengalaman bawah sadar yang melibatkan pikiran, perasaan, indra serta melibatkan emosional.

Bagi saya mimpi adalah konstruksi imajinatif dari sebuah gagasan tentang dunia yang belum nyata. Mimpi adalah bahan bakar kreatifitas, ia kekal menginspirasi serta pemicu adrenalin untuk terus merangsek bergerak menuju target. Mimpi adalah angan-angan yang mengembara, ia menembus lintas batas keraguan serta ketidakpastian, dan dalam perjalanannya ia meramu kekuatan logika, insting, kreatifitas, petualangan,spekulasi, resiko serta asa yang senantiasa berpengharapan. Mimpi adalah perjalanan kreatif yang indah dan penuh sensasi.Dengan mimpi kita menjalani dunia seperti memasuki lorong waktu yang senantiasa bergerak.Setiap detiknya adalah nafas, putaran menitnya adalah pengharapan dan ketika jam berdetang adalah kenyataannya.

Tidak ada manusia yang bisa mendustakan mimpi, dan jangan coba untuk berpaling darinya.
kemustahilan mimpi, merupakan the power of live!mimpi adalah gerakan sporadis, ia mencapai target dari berbagai arah probabilitas.Mimpi berbanding terbalik dengan ‘cita-cita’, yang terjebak menjadi jargon yang sangat teknis, dengan beban pencapaian yang harus logis dan target pencapaian yang cenderung hanya satu arah. Dengan kerja keras, kita adalah orang-orang yang pantas memiliki mimpi dan mewujudkan mimpi itu menjadi nyata.Mimpi itu bergejolak, sehingga mimpi adalah energi yang merubah dan menimbulkan reflek tersendiri berupa ‘kegelisahan’ yang mampu mendorong manusia melakukan pencarian yang tiada henti.

Pada era penemuan, sebagaian besar the challenger menggunakan mimpi sebagai modal terbesar untuk rasa ingin tahu dan rasa penasaran dalam proses penaklukan dunia.

Wright bersaudara mencacat sebuah sejarah penting, tentang angan-angan yang menjadi sebuah kenyataan, sebuah mimpi yang bukan lagi ada pada benak yang terpendam, melainkan telah berwujud nyata yang membuat rasa bangga.Orville Wright dan Wilbur Wright tercacat sebagai orang pilihan yang telah mempelopori keinginan manusia untuk bisa terbang merantas cakrawala. Beberapa desain pesawat terbangnya sempat mereka ujicoba, sampai akhirnya mereka menambahkan mesin kedalam pesawat terbangnya yang mereka namai Wright Flyer. Pada pukul 09.30 pagi dalam cuaca yang mendung tanggal 17 Desember 1903, Wright bersaudara menerbangkan untuk pertama kalinya pesawat terbang berkendali sejauh 4 mil di dekat wilayah berbukit pasir di Kitty-Hawk,North-Carolina.

Kini, teknologi berkembang, desain pesawat mereka kini berevolusi dapat membawa ratusan penumpang untuk melintasi langit, melawan grafitasi, membawa dan mengabulkan impian orang yang ingin terbang bagai burung.

Sekecil apapun setidaknya kita harus memiliki mimpi. Karena biar sekecil apapun mimpi, ia memiliki peluang serta kesempatannya tersendiri untuk diwujudkan. Tak usah merasa kacau dan merendah diri karena khawatir dengan bermimpi dianggap seperti pungguk merindukan bulan. Sebab dengan bermimpi, kini; tikus serta monyet sekalipun sudah pernah di daratkan sampai ke bulan.

Apakah dahulu anda juga memimpikan dunia yang sekarang kenyataan berada pada genggaman anda atau anda belum mengimpikannya?The dream will be came true! Sejalan dengan perputaran waktu, ada orang yang sedang dan terus membangun mimpi-mimpinya, serta ada orang di dunia ini sedang dan terus dikejar dan dibangunkan oleh mimpi-mimpinya.Jangan khawatir [berlebihan], bergembiralah [secukupnya], karena kita bukan sedang sendirian dalam bermimpi.

Berikut ini adalah orang-orang yang telah sangat indah menikmati mimpi dan impiannya merengkuh dunia nyatanya: James Watt, Alexander Graham Bell, Thomas Alva Edison, Galileo Galilei, Microsoft, Facebook, twiter, Yahoo, Google,…, Chairil Anwar, WS Rendra, Ismail Marzuki, Jendral Soedirman, RA Kartini,…,Bambang, Nugroho, Sutirto, Sarkowi, Esti, Lena, Basuki,…,Lianto Luseno, Joko Supriyono, Niken S.Winarni,…

Mimpi itu ternyata memang indah tidak hanya di kala kita tertidur, mimpi itu ternyata tetap indah [untuk diwujudkan] dalam keadaan kita terjaga sekalipun.Mimpi itu ‘dunia bebas’ tanpa tekanan dan…………milikilah dia.[LL/13/10/09].

Senin, 05 Oktober 2009

Perasaan yang Terguncang [guncang]


Perasaan/vedana hanyalah salah satu dari 6 cetasika/faktor batin yang selalu ada pada setiap citta/kesadaran (Sabbacittasadharana cetasika 7).

Perasaan merupakan padanan kata yang lebih tepat untuk vedana dibandingkan dengan sensasi seperti yang sering dijumpai.Seperti halnya kontak, perasaan merupakan sebuah kekayaan penting bagi setiap kesadaran. Perasaan dapat berwujud menyenangkan, tidak menyenangkan dan bukan menyenangkan juga bukan tidak menyenangkan / netral. Perasaan merupakan faktor batin yang merasakan objek ketika objek itu 'kontak' dengan indera.

Ramadhan yang lalu ini kita memasuki musim kering dan bulan kemarau yang terkesan ‘gahar’, jadi terasa betul bagaimana menjalankan puasa dengan haus dan dahaga yang teramat sangat. Namun dengan situasi seperti itu tak lantas mengendurkan ‘perasaan’ kita untuk surut dan menghentikan kita dari beribadah puasa.

Banyak yang berbeda ketika Ramdhan tiba; persiapan fisik yang dijaga; jadual kerja yang lebih diatur; lisan, hidung, mata yang direm serta yang tak mungkin dihindari adalah menjaga ‘perasaan’ dari segala macam godaan dan cobaan yang sangat mungkin saja datang menghampiri.

Ketika kita mulai khusuk dan asyik untuk berpuasa, siang itu /2 September tiba-tiba kita merasakan getaran gempa yang menggoyang bumi. Tiba-tiba pula ‘perasaan’ ikut berdebar [membayangkan yang lebih buruk terjadi], dimanakah gempa ini? Melalui TV kita mulai melihat saudara-saudara kita di wilayah Jawa Barat yang terlunta-lunta.Hanya doa kala itu yang terlontar dari ‘perasaan’ yang berdebar, semoga mereka tetap bisa menjalankan puasanya dengan baik.

Ketika musim mudikpun tiba; ‘perasaan’ pun ikut serta merta merasa gembira.tiba-tiba ada rindu yang menyeruak untuk segera ke kampung halaman, menemui Ibu yang kian renta dan ‘perasaan’ yang tertahan sambil berdoa smoga masih ada waktu berjumpa dengan Ibu.

Waktu berjumpa Ibu di kampung, ‘perasaan’ pun ikut serta berbunga. Bahagia nian Ibu yang renta ini masih tersenyum bangga dengan anak-anak serta cucu-cucunya. Ada sedikit yang berubah, ketika menyiapkan perjamuan untuk keluarga, Ibu sudah memblender bumbunya, tak diuleknya lagi bumbu untuk sambel goreng ati dan rendangnya, tenaganya yang kian rapuh.‘Perasaan’ pun berkecamuk melihat keriput di wajahnya yang ayu.Dengan perasaan seperti itu dalam hati kecil mendoa; “Ibu, semoga akan ada banyak waktu kita untuk senantiasa bersama”.

BREAKING NEWS di media TV: NOORDIN M TOP TEWAS DI SOLO! Noordin tewas ; dihajar peluru panas Detasemen 88 on September 17, 2009 11:54.

Lagi-lagi ‘perasaan’ ini mendidih.berita ini telah menjadi penyulut rasa yang selama ini juga ikut merasakan kecemasan, kemarahan dan kelelahan batin diombang-ambing oleh ledakan bom dan berita terorisme. Ada orang yang tewas dibulan Ramadhan dan di rumah, di gardu ronda, di mushola, di pasar hewan, di pasar sayuran kitapun ikut menggunjingkannya dengan ‘perasaan’ yang berbeda-beda.
Lebaran kian dekat tetapi Ramadhan belum usai, di tanah Jawa dari sudut-sudut kampung petani tampak gersang di sana-sini.Teriknya matahari menambah kering tidak hanya pada lahan garapan tetapi rasa nya juga merambah pada ‘perasaan’ yang seakan-akan terselimuti oleh rasa ketidak berharapan [hopeless] pada kenyataan kehidupan.
Sawah kering, palawijapun tertatih-tatih untuk hidup, batang-batang jagung kekurangan air, hewan-hewanpun merangas kekurangan pangan!
Rasanya serba kikuk untuk memulai pembicaraan, inikah konsep ekonomi kerakyatan yang dalam pemilu kemarin ramai dikumandangkan? Inikah pembangunan ketahanan pangan pedesaan itu? Inikah otonomi daerah itu? Petani-petani yang sementara tak memiliki lahan garapan, adalah petani-petani kita yang tabah, yang sangat kuat bertahan walaupun [untuk sementara] tak berpengharapan. Kenyataan ini sungguh sulit di terima oleh ‘perasaan’.

‘Perasaan’ ini terlunta-lunta di kampung halaman sendiri!

Dahulu di musim paceklik ada fenomena pulung gantung sebagai penyebab bunuh diri di Gunung Kidul. Dalam analisisnya seorang peneliti dari UGM menyimpulkan bahwa kasus kasus bunuh diri di Gunung Kidul lebih erat berkaitan dengan kemiskinan, kekeringan dan kesulitan hidup sehari hari. Kasus kasus bunuh diri lebih banyak terjadi di daerah daerah yang sangat kering, miskin dan sulit. Di tahun enam puluhan Gunung Kidul memang terkenal tandus dan rawan kelaparan. Tetapi perbaikan ekonomi selama beberapa tahun terakhir ternyata tak juga mampu mencegah kejadian bunuh diri. Masih banyak faktor psikologi dan psikiatrik yang tak membaik hanya semata mata dengan perbaikan ekonomi…”perasaan” ini tergelincir begitu jauh berimajinasi…


Kini Ramadhan telah usai dan lebaranpun telah berlalu.Walau musim [panas] belum berubah. Semua orang-orang [dari kampung-kampung di seantero negeri] pergi kembali ke kota. Menabur asa, menyemai harapan untuk sesuatu kehidupan yang lebih baik lagi.’Perasaan’ kembali bergelora dengan doa semoga harapan itu memang benar adanya.

Belum lama kaki melangkah di Ibu Kota, Gempa Padang 30 September membuat ‘perasaan’ ini lagi-lagi terguncang. Hujan air mata, ratapan dan derita tiba-tiba hadir di depan mata.dalam ‘perasaan’ yang bimbang berdoa; “Tuhan, gempa dan musibah Mu pasti tak pernah salah sasaran, Engkau adalah pemberi yang terbaik maka biarkanlah dengan apapun kami menerima kebaikan Mu…sekalipun dengan ‘perasaan’ yang tidak menentu”

Ada pula kabar gembira, melalui badan dunia Unesco; batik Indonesia dinyataan sebagai kekayaan dunia. Hari batik 2 Oktober kita sambut dengan ‘perasaan’ suka cita. Namun di belahan kampung-kampung di jawa, telah lama pengrajin-pengrajin batik telah gulung tikar karena ekonomi yang porak-poranda.’perasaan’ ini kembali bercampur aduk, batik; telah menjadikan kita bangga sekaligus meninggalkan tanggung jawab yang ternyata tidak sederhana.

Hanya karena masalah ‘teknis’ yang hanya PLN dan Tuhan yang tahu, masalah kelistrikan pun menyengat perasaan kita dengan tegangan yang tak kalah tinggi.’perasaan’ ini juga tidak bisa membiarkan PLN byar pet dan kita tidak siap menerima situasi ini.Pemadaman listrik bergilir telah membuat ‘perasaan’ kita marah dan melambungkan ‘perasaan’ pada ketidaknyamanan yang teramat sangat diantara ketidak berdayaan.
Semua manusia pasti memiliki perasaan, hanya saja kadarnya berbeda-beda, ada yang kuat ada yang lemah. Perasaan adalah rasa-rasa yang terletak di hati nurani insan.Perasaan-perasaan itu seperti rasa kasih, rasa cinta, rasa benci, rasa jijik, rasa simpati, rasa marah, rasa dendam, rasa rindu, rasa malu, rasa megah, rasa sombong, rasa takut, rasa serba salah, rasa kecewa, dll.
Perasaan-perasaan yang merupakan fitrah alami manusia, tidak mudah untuk diasuh, dididik, didisiplinkan, dikendalikan dan diurus karena ia ada yang positif, ada yang negatif. Yang positif hendak dilepaskan, yang negatif hendak ditahan.
Kitalah yang membuatnya menjadi menyenangkan, tidak menyenangkan dan bukan menyenangkan juga bukan tidak menyenangkan / netral.

Lupakan atau simpan semua yang terjadi…So, tunggu apa lagi, “Jagalah Perasaanmu!”…[LL/04/10/09].