Kamis, 27 Agustus 2009

IN THE NAME OF LOVE


Atas nama tahta suci ‘cinta’ yang terbenam dalam hati, hidup manusia digerakkan olehnya.Para tetua sudah mengatakan bahwa cinta itu buta, tetapi disisi lainnya, kekuatan maha daya cinta menjadikan manusia membuat cerita-cerita yang hebat bagi hidupnya.Ia [cinta] membutakan ‘logika’ tapi menumbuhsuburkan nikmat segala ‘rasa’.

Ah lagi…lagi…Cinta yang membawa prahara…Panah dewa asmara, Cupid, mengarah kemana saja yang dia mau…bahkan seorang Dokter cantik di Palembang pun terkena busurnya. Dokter Alia Pranita Sari (27), sekalipun orang tuanya menentang habis-habisan kisah kasih putri sulungnya itu dengan Iwan Andriansyah (27). Namun Alia tidak menggubris larangan orangtuanya. Secara sembunyi-sembunyi ia tetap menjalin cinta dengan Iwan. Alia yang menghilang sejak Rabu 19 Agustus 2009 ditemukan tewas membusuk di dalam mobil kesayangannya.

Tragis, nyawanya melayang di tangan sang kekasih sendiri. Seorang Dokter sekalipun tak bisa berkelit ketika panah-panah asmara menghujaninya, ketika ‘rasanya’ mulai mengental dan sejak itu juga menyumbat darah ‘logikanya’ menuju otaknya.Kisah ‘sinetron’ dokter Alia hanya sepenggal episode panggung sandiwara yang ada di dunia ini; jauh hari sebelumnya kisah senior mereka; Romeo and Juliet, Damarwulan dan Pronocitro, Rama dan Shinta, Sayekti dan Hanafi, Siti Nurbaya dan Syamsyul Bahri, telah mengumandang di jagat pilu kisah asmara dunia cinta.

Di Planet Bumi yang sudah berumur jutaan tahun ini, kehidupan baru dimulai ketika nabi Adam AS dan Siti Hawa terlempar dari surga. Buah kuldi [buah larangan] akhirnya dipetik pula oleh Adam atas nama cinta pada kekasihnya Hawa.Tapi Allah menghukum keduanya, ini sebagai bukti bahwa cinta itu seharusnya ‘putih’ dan tidak menjadi ‘merah’ karena bujuk rayu syaitan.

Cinta itu rahmatan lil alamin, merupakan rahmat yang diberikan sang khalik untuk sebesar-besarnya ‘kesejahteraan’ bagi mereka yang ada di muka bumi ini.Sehingga, menurut dzatnya maka cinta itu [seharusnya] ‘fitri’. Dia suci dan terbebas dari segala yang kotor.Konon cinta itu adalah perjalanan pengembaraan menuju sukma, yang tampak di dalamnya adalah serangkaian taman hati keindahan dan tak sejenggalpun kita melihat bagian taman yang mengandung kejelekkan.di dalamnya kita akan mudah sekali untuk berkata ‘Ya’ dan sulit sekali untuk mengatakan ‘Tidak’…

Ternyata cinta juga kenal [teori-sains] ‘Logika’. Antropolog Helen Fisher [guru besar Rutgers University AS] mengurai mengapa begitu dahsyatnya racun cinta dalam tubuh manusia? Pada penelusuran jejak kimiawi cinta dalam tubuh, cinta menyalakan caudate nucleus karena merupakan pangkalan yang sarat dengan syaraf penerima yang menyebar untuk pemancar syaraf yang disebut dopamine.

Dalam dosis yang tepat dopamine dapat menciptakan kekuatan, kegembiraan, perhatian yang terpusat, serta dorongan kuat untuk mendapatkan imbalan.Inilah sebabnya mengapa saat baru jatuh cinta, orang akan terjaga sepanjang malam, memandang matahari terbit, berpacu, meluncur cepat dengan ski menuruni tebing yang biasanya terlampau curam untuk kemampuan seseorang.

Cinta membuat kita menempuh resiko besar, yang kadang-kadang tidak dapat diatasi.

Doatella Marazitti, professor psikiatri di Universitas Pisa, Italia meneliti aspek biokimia pada penyakit cinta.Para peneliti telah lama membuat hipotesis, orang dengan gangguan obsesif-kompulsif (OCD) mengalami ketidak seimbangan Serotonin [pemancar syaraf].Kesimpulannya adalah; bahwa cinta dan gangguan [kejiwaan] obsesif-kompulsif bisa memiliki ciri kimiawi yang serupa.Artinya: Cinta dan gangguan jiwa mungkin sulit dibedakan.Artinya: Jangan jadi bodoh.

Thomas Lewis dari University of California membuat hipotesis, kita mencintai orang bukan semata karena masa depan yang kita harap dapat kita bangun tetapi karena masa lalu yang kita harap dapat kita raih kembali.Cinta bersifat reaktif, bukan proaktif dan membelokkan kita ke belakang, itu merupakan sebab kenapa seseorang tertentu ‘terasa cocok’ atau ‘terasa akrab’.Seseorang menjadi akrab bagi kita, karena ia memiliki rupa dan bau atau suara atau sentuhan yang membangkitkan kita pada memori yang terpendam.

Cinta segi tiga Rani Yuliani – Nasrudin – Antasari Ashar serta cinta yang ternista Monohara – Pangeran Negeri Kelantan, adalah berita cinta yang telah banyak di release oleh media infotainment. Belum lagi telah berapa banyak berita yang terexpose media dari para artis yang menyangkut perkara putus nyambung-putus nyambung tentang cinta. Berita cinta bagaikan ‘pasar’ bagi media infotainment, riuh rendah bahkan terkadang terkesan berisik.

Tak cukup sampai disitu, karena cinta telah berapa banyak puisi dan lagu yang tercipta karenanya. Dan semuanya tetap terasa enak, walau kadang terasa sendu bak kalbu teriris sembilu…waduuuh.

Di jagad politik ternyata cintapun tak pandang bulu menerpa. Presiden AS, Bill Clinton pun pernah merasakan ‘bara amukkannya’.Clinton kala itu mengalami ‘impeachment’ politik gara-gara skandalnya ‘bermain api’ cinta dengan pagawai magang gedung putih Monica Lawensky.

Perkara cinta ‘buta’ ini masuk agenda ke gedung Senat AS. Senat AS tersengat untuk melakukan impeachment, inilah pandangan dalam dunia politik tentang cinta; “ Seseorang [pemimpin] yang disinyalir tidak mencintai keluarganya, ada kencenderungan pemimpin itu juga tidak mencintai negaranya”…Clinton akhirnya selamat dari badai impeachment [inipun sudah jadi rahasia umum hanya sebagai kompromi politik semata].Namun disisi lain ironisnya, rakyatnya tak lagi mempercayainya…buah cerita cinta yang kejam.

Cinta itu mengolah ‘rasa’, tetapi cinta itu juga mengolah ‘logika’, lalu bagaimana sejatinya yang menjadi pilihan anda? Ini bukan [kisah] di Republik Cinta, ini kisah untuk mereka yang menjaga cintanya…Oh…jatuh cinta…berjuta rasanya…

Minggu, 16 Agustus 2009

KESETIAAN


Bagaimana orang-orang yang di baiat dengan kesetiaan? Lalu apakah kesetiaan itu akan selalu membutakan? Kalau umat manusia mereka ciderai, kemudian Tuhan pun mereka kianati apakah ini juga bagian dari kesetiaan itu? Kesetiaan selalu menuntut totalitas, ia meminta semuanya yang terang dari sisi hidup manusia maupun yang gelap dari hati setiap manusia yang memegang teguhnya.

Tidak ada alat ukur tentang kesetiaan warga negara terhadap Tanah Airnya, kesetiaan itu hanya butuh bukti dan pengorbanan. Ismail dengan kesadaran penuh, memenuhi permintaannya Ayahanda Nabi Ibrohim AS untuk disembelih – dikorbankan atas mimpi sebagai pentunjuk Allah. Kesetiaan adalah energi, dia menjadi senjata yang ampuh untuk sebuah pengorbanan.dia adalah bahan bakar [sepanjang masa] untuk digunakan mencapai tujuan yang memungkinkan [possible] ataupun tujuan yang tidak memungkinkan [mission impossible].

Kesetiaan tak berpamrih, ia tak tak berharap yang lain kecuali tujuan keyakinannya tercapai.apakah ia juga memperdulikan yang lain? Tentu saja tidak! Kesetian itu tunggal dan tidak bercabang. Ia sepertinya dilahirkan untuk sebuah ‘super ego’ yang besar yang tak hendak diduakan maupun diremehtemehkan. Ia menyelimuti dalam pekat dan menjadi kebenaran tunggal.

Ia pemecah keraguan yang ampuh, di dalam kesetiaan orang senantiasa bertumpu pada pikiran yang terpusatkan. Ia tidak mengenal ‘grey area’, dalam dogmanya kesetiaan adalah hitam-putih, baik-buruk, berhasil-gagal, langit-bumi, surga dan neraka. Di Dalam hanya ada kata Ya dan sulit untuk berkata tidak.

Sepasang manusia menikah atas nama kesetiaan
Seniman berkarya atas nama kesetiaan
Pahlawan berjuang atas nama kesetiaan
Atlet bertanding atas nama kesetiaan
Tentara berperang atas nama kesetiaan
Para bomber rela mati atas nama kesetiaan
Nabi Ibrohim menyembelih anaknya Ismail atas nama kesetiaan
Ibu mengasuh anak atas nama kesetiaan
Semua lelaki mencari nafkah atas nama kesetiaan.


Nyaris tidak ada sesuatupun di muka dunia ini dilakukan tidak mengunakan kesetiaan.Dengan begitu roda dunia terasa berputar.Kesetiaan tumpang tindih membakar ambisi, amarah, kesabaran, cinta kasih lebur menjadi satu didalamnya.Bukan dunia terasa ramai dengan kesetiaan. Dalam budaya pop kesetiaan bikin hidup lebih hidup.

Sebagai fenomena, Kesetiaan seakan berjalan dengan sendirinya, padahal tidak.Kesetiaan itu sistemik, dia berjalan mengunakan perangkat system yang solid, dia berpola secara metodis, bercengkrama dan bermetamorfosis secara sempurna.dia sangat fleksibel bersymbiosis dengan piranti yang lain, saling menciptakan ketergantungan, saling percaya yang kental dan saling menguntungkan satu sama lain.

Hanya satu yang ditabukan bagi mereka-mereka yang berada dalam gengaman kesetiaan yaitu apa yang dinamakan dengan logika. Mereka yang setia membangun logika ‘dalam’ nya sendiri.Tidak butuh referensi serta tidak butuh logika ‘luar’ pada umumnya.Sehingga kesetian itu tanpa logika ‘luar’ menjadi kian mengkristal, menjadi sesuatu yang solid dan bercahaya. Sementara ‘logika’ ‘luar’ bagi mereka adalah retorika [hanya sebatas wacana], logika ‘luar’ menjadikan mereka lemah dalam keraguan, mengaburkan pandangan jiwa serta tidak utuh sebagai persenyawaan hidup.

Artinya; di dunia yang fana ini, hanya sedikit orang dalam kesetiaan yang memakai logika ‘luar’ sebagai panggilan jiwa. Tidak ada alat ukur tentang kesetiaan juga tidak logika ‘luar’, kesetiaan itu hanya butuh bukti dan pengorbanan. Menjadi orang-orang yang ada dalam kesetiaan atau bukan, masing-masing dari kita telah memainkan logikanya sendiri baik logika ‘dalam’ maupun logika ‘luar’.

Kesetiaan ini…
Bukannya sandiwara
Berkorban untukmu
Walau akhir kecewa…[Pance F. Pondaag]

Senin, 10 Agustus 2009

MEREKA-MEREKA YANG 'PERGI'


“Kematian hanyalah tidur panjang,
maka bermimpi indahlah kau Camellia…”


Sepotong bait di atas merupakan pemaknaan yang dilakukan Ebiet tentang perpisahan antara nyawa dan raga. Perpisahan yang syahdu, mengharu biru namun membekaskan romantisme bagi mereka yang ditinggal pergi.Mereka-mereka yang pergi itu tak pernah kembali lagi, mereka abadi di sana, mereka hanya meninggalkan nama, mereka meninggal gading karyanya dan mereka meninggalkan belang perbuatan-tindak tanduknya. Sementara kita yang ditinggalkan berusaha menyimpan namanya [sebisa mungkin jauh di lubuk hati]. Kita juga berusaha menjadi pewaris karya [sebisa mungkin selalu menikmatinya]. Dan kita selalu berusaha melamunkan saat-saat bersama mereka [sebisa mungkin berdoa dan memaafkannya]

Kisah-kisah kepergian meninggalkan duniawi cukup banyak menginspirasi setiap kebudayaan di beberapa tempat di tanah air, hingga kinipun jejak-jejaknya masih bisa dilacak.Upacara adat Rambu Solo di Toraja, Gending Megatruh di Jawa, Upacara Tarik Batu di Sumba, Upacara Ngaben di Bali, Tahlilan di Tanah Melayu. Semua bentuk-bentuk upacara ritual itu ada dan dibuat berkaitan untuk memaknai sebuah kematian. Itulah kematian, peristiwa alam yang selalu dimaknai dalam setiap kebudayaan umat manusia.Tidak ada yang bisa menolak dan tidak ada yang bisa menghindarinya.

Mereka yang Pergi dalam Perjalanan.

Secara pribadi saya tidak kenal Mbah Surip, lagunya ‘tak gendong’ rasanya memang enak untuk didengar; ringan, kocak, tidak bertele-tele dan cukup menghibur.Nyaris tiga bulan sebelum beliau meninggal [dari medio Juni s/d Agustus] siapa sich yang tidak bisa menyanyikan lagu ini? Semua pasti bisa, tidak harus pada posisi menyanyikan karena suka apalagi ‘jatuh hati’, rasanya kita menyanyikan lagu ini dalam kategori ‘enak’ saja.

Mbah Surip pun menjadi demikian populer. Kita sudah bisa mengakses kehidupan pribadinya atau setidaknya melonggok gossip si Mbah.Soal gossip ini merupakan salah ciri [industri] ketika seseorang sudah mulai dikenal oleh khalayak. Kita melihat si Mbah dengan rambut gimbal ala rasta, tertawanya yang ‘khas’ dan renyah serta kalimat I Love you Full diucap dimana-mana.

Hanya tiga bulan, kita ‘akrab’ dengan sosok si Mbah, tapi bagi mereka yang pernah dekat dengan kehidupan si Mbah, sungguh tiga bulan ini terlalu singkat. Kalau memang sudah dari tahun 85’ Mbah merantau ke Jakarta, maka perjalanan [karier] sekitar 25 tahun justru kita tak tahu rimbanya.Setiap karya membawa dan memiliki nasibnya sendiri-sendiri.Bisa saja lagu ‘Tak Gendong’ merupakan bahasa ‘khas’ perjalanan, lagu itu mengemban pengalaman yang mencipta dan lagu itu mengekspresikan perjalanan yang empunya.

Waktu adalah segalanya.Waktu jua yang mempertemukan kita dengan karyanya dan waktu jua yang memisahkan kita dengan si Mbah. Mungkin kita belum mengenal betul liku dan terjal perjalanan si Mbah dengan karyanya, tetapi si Mbah tampaknya hanya pasrah, karena waktu tak memungkinkannya meneruskan perjalananannya.

Sekali berarti, sesudah itu mati…[Chairil Anwar]
Catatan tanggal 4 Agustus 09.


Mereka yang Pergi dalam Pesona Alam.

Inilah si Burung Merak yang penuh pesona itu.Warna bulun ‘karya’ nya pun bertabur mahligai cahaya menebar di tanah air.Rendra merupakan ‘orang besar’ di Republik ini. Perjuangannya besar, karya-karyanya besar, dan jejaknya pun mengukir jalan besar dunia kesusastraan Indonesia.

Tidak ada yang meragukan konsistensi Mas Willy dalam berkesenian.Dedikasinya menakjubkan, spirit idealismenya memungkinnya untuk menjadikan kesenian adalah pilihan dalam jalan hidupnya.

Ketika masih menjadi mahasiswa di sekolah kesenian, saya melihat mereka orang-orang besar seperti Mas Willy ini adalah batu karang yang tegar.Mereka sudah menjadi dirinya sendiri bukan karena ‘karbitan’ tetapi mereka menjadi ‘besar’ karena daya tahan ‘perjuangan’ mereka dari tekanan ‘ekonomi dan politik’ yang juga besar. Menyimak Mas Willy membaca puisi laksana melihat alam membentang makna kehidupan, lalu bergemuruh menjadi samudera ilmu pengetahuan.

Mas Willy mewakafkan pada mahasiswa-mahasiswa ‘kecil’ kesenian itu adalah penyadaran diri untuk menjadi dan mengerti ‘diri sendiri’.

Karena kami arus kali
Dan kamu batu tanpa hati
Maka air akan mengikis batu
…[Rendra, Sajak Orang Kepanasan]
Catatan tanggal 7 Agustus 09.


Mereka yang Pergi dalam Kemurkaan/Kemarahan.

Siapa jasad yang tergeletak, terhunus peluru dan pecahan mesiu di Temanggung itu? Kita hanya bisa tersentak, lalu Negara ini kembali seperti sedia kala meninabobokan kita dalam ketidak pastian. Semua diantara kita pasti merindukan kedamaian, untuk kita bisa bekerja, kumpul di tengah keluarga, melihat anak-anak bermain serta merenung mengendapkan kehidupan.

Bagaimana pun sampai detik ini saya tidak mengerti, orang-orang menjalankan kehidupan dengan rasa marah dan dendam serta berusaha menghancurkan orang-orang lain yang dianggap berseberangan?! Mereka mengambil apa yang mereka mau. Mereka tidak peduli kasih sayang dan cinta kesesama manusia lainnya.

Kematian yang menyakitkan seperti menantang ‘maut’ sebelum waktunya. Orang-orang yang ‘mati’ dalam kemarahan yang belum usai; masih ada dendam di hatinya; masih ada kebiadaban yang menyumbat pikirannya serta sejuta sumpah serapah mengiringi kepergiannya.

Saya terbayang kepada orang-orang yang ditinggalkan, pastilah masih ada ‘luka’ yang terus tergores, masih ada api dendam yang tak padam serta rasa ‘malu’ menanggung cibiran sosial.

Hai Nafsun Mutma’innah… bagaimana kami akan melamunkan saat-saat bersama mu? Lalu dengan apa kami berdoa dan memaafkan mu?

Mereka-mereka yang pergi itu tak pernah kembali lagi.

Dunia segara duka
Tiada cinta selama muda
Derita rama remaja
Susah sepah tersia-sia
…[Amir Hamzah, Pada Senja]
Catatan tanggal 8 Agustus 09.

Minggu, 09 Agustus 2009

MERANTAU


Ada sebuah anekdot, bahwa ketika Neil Amstrong mendarat di Bulan bersama Apallo 11, dia sangat terkejut mendapati orang Minangkabau/Padang sudah lebih duluan sampai di sana untuk membuka rumah makan Padang. Orang Minang memang terkenal karena memiliki budaya merantau. Suatu budaya yang hanya dimiliki oleh suku bangsa tertentu saja di Indonesia. Selain suku bangsa Minangkabau, etnis yang juga mempunyai budaya merantau adalah Bugis, Banjar, Batak, sebagian orang Pantai Utara Jawa dan Madura.

Menurut Sosiolog Mochtar Naim dalam bukunya Merantau,Pola Migrasi Suku Minangkabau begini: Melembaganya tradisi merantau dalam sistem sosial Minangkabau adalah efek dari sistem sosial yang tidak memberi "tempat" kaum laki-laki, dengan posisi
yang lemah, baik di rumah ibunya maupun di rumah istrinya. Harta tidak diwariskan kepada laki-laki. Di rumah ibunya laki-laki tidak mempunyai kamar, sedangkan di rumah istri ia hanya boleh datang di malam hari.

Dengan posisi yang tidak mapan, sistem sosial budaya memberi legitimasi bahwa yang di rumah itu (yang di kampung) adalah kaum perempuan, bahwa laki-laki baru menjadi laki-laki hanya dengan cara merantau. Hal itu sebagai suatu inisiasi menuju kedewasaan laki-laki, kewajiban sosial yang dipikulnya sebagai laki-laki; mencari harta, ilmu, dan pengalaman.Karena bertentangan dengan dorongan hasrat untuk berkuasa, memiliki, menetap, dan tidak mau berpisah. Kalau dia kalah dalam konflik itu, maka ia tidak akan jadi dewasa.

Inti dari merantau adalah kemampuan untuk memisahkan diri dari sesuatu yang disayangi untuk mematangkan diri, untuk jadi manusia (jadi orang), untuk menemukan jati dirinya. Kondisi sebagai perantau membuat orang harus bekerja keras, mencintai pekerjaan, mempunyai perencanaan hidup, menghargai waktu, berani menanggung risiko, jujur dan punya rasa tanggung jawab tinggi, menghormati hukum, hormat pada hak orang dan menjunjung tinggi sopan santun.

Jadi budaya Merantau orang Minang adalah Sesuatu yang menunjukkan bahwa ia datang dari budaya ibu, budaya matrilineal, system kekerabatan yang menganut garis Ibu. Kata seperti itu tidak akan sanggup diucapkan oleh seorang ibu bertradisi patrilineal. Karena, siapakah yang mau berpisah dengan anaknya. Apalagi anak kesayangan. Tradisi matrilineal menghadirkan cinta kasih sayang yang berbeda dengan patrilineal.

Merantau melahirkan budaya mudik dan itu terjadi setiap tahun sekali. Sebelum lebaran para perantau berbondong-bondong mudik ke kampung halamanya. Entahlah kebiasaan itu sejak kapan terjadi, yang pasti nenek moyang kitalah yang memberikan warisan budaya tersebut, yang begitu kental dengan ciri khas Indonesia.

Tulisan ini banyak sedikit ditulis karena terinspirasi setelah menonton film MERANTAU. Film Indonesia dengan budaya Merantau orang Minang dan pencak silat harimau, yang dibuat Sineas Inggris.

Di Tepinya Kali Cikeas


Harian Kompas Minggu 9 Agustus 2009 memuat berita berjudul Bom Di tepi Kali Cikeas. Perincian kalimatnya begini, Rumah yang dihuni jaringan teroris di Blok D 12 itu terletak di tepi jalan paling belakang di Perum Puri Nusa Phala, yang langsung berhadapan dengan tembok pembatas kompleks perumahan. Di seberang tembok setinggi 1,5 meter itu mengalir Kali Cikeas yang dikepung oleh semak belukar yang cukup luas.

Tidak penting benar membahas soal kali Cikeas di banding dengan membicarakan soal penangkapan terorisme saat ini. Karena memang kali Cikeas tidak terkenal sama sekali kecuali sebagai sebuah sungai yang berhulu dari Bogor dan kemudian bertemu dengan kali Cilengsi dan membentuk Kali Bekasi yang bermuara di Muara Gembong dan ikut jadi penyumbang banjir di Bekasi (karena kebetulan di lewati aliran saja). Saat musim hujan dan ancaman banjir datang, Kali Cikeas menjadi terkenal tapi kali ini kali Cikeas menjadi ikut-ikutan di sebut karena di tepinya, dibatasi dengan tembok, di Perumahan Nusa Phala terdapat ‘sarang teroris’.

Kali Cikeas juga tidak pernah di sebut-sebut saat orang dan media membicarakan Presiden SBY. Hanya karena sang presiden berumah di Puri Cikeas, maka Cikeas menjadi terkenal, tapi tidak KALI-nya. Cikeas adalah sebuah desa yang masuk wilayah kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Kurang lebih 5 Km dari Jalan Trans Yogi Cibubur. Tapi untuk ke Jakarta, jauh lebih nyaman dan bebas macet ke arah tol Gunung Putri, masuk tol Jagorawi. Cikeas menjadi terkenal setelah SBY menjadi Presiden Republik Indonesia. Prinsip ekonomi pun berlaku dengan segera. Harga tanah melonjak tinggi (membuat orang kampung berbondong-bondong menjual tanahnya), Perumahan-perumahan baru dibangun dengan segala promosi tiap akhir pekan di televisi (iklannya begini: segeralah hubungi marketing kami karena besok harga naik!), padahal minggu depan seperti itu lafgi iklan tayangannya. Semua sedang bergegas di Cikeas dan segala rencana bisnis sedang dirancang oleh orang-orang yang yang menginginkan keuntungan besar dari kepopuleran seorang Presiden.

Tapi di mana posisi Kali Cikeas? Sama sekali tidak penting di bahas karena banyak hal yang lebih penting, yaitu teroris dan bom. Tapi setidak-tidaknya, untuk sekali ini Kali Cikeas di sebut-sebut meski lagi-lagi tidak terlalu menyenangkan karena di hubungkan dengan BOM. Saya juga tidak yakin, Kali Cikeas akan memberikan inspirasi bagi musisi untuk membuat lagu berjudul Di Tepinya Kali Cikeas, sebagaimana lagu Bengawan Solo dan Di Tepinya Sungai Serayu. (JS)

Drama Visual Pengepungan Teroris; Newstainment & Media Hipnotisme Massa.


Setelah kegagalan mendatangkan club sepak bola raksasa dari Inggris Mancherster United, tayangan Pengepungan Teroris di Temanggung sepanjang sabtu [08/08] nyaris merupakan tayangan yang sangat ditunggu di kalangan masyarakat. Tayangan Televisi yang nyaris sepanjang 24 jam ini menjadi pengobat rindu masyarakat dari hiruk pikuk sinetron, gossip artis, tayangan politik dalam pileg dan pilpres serta dari persoalan keseharian dikaitkan dengan harga sembako yang kian beranjak naik.

[Kembali] melalui media Televisi, masyarakat tersentak oleh ulah teroris dengan ledakan di hotel JW Marriott dan Ritz Carlton.Ledakan Bom ini dianggap sikap lalai Polisi yang begitu konsentrasi dengan pengamanan Pemilu hingga lengah melacak jejak para teroris.Selanjutnya seakan Polisi melakukan pelacakan dari nol lagi terhadap teroris. Ada kesan yang lambat dan meragukan dengan operasi penyebaran foto di seantero wilayah pengaman Polisi di tanah Air.Pertanyaan besarnya adalah ‘Bagaimana polisi menyuruh masyarakat tahu kalau polisinya sendiri tidak tahu?’

Hingga Jum’at sore breaking news di televisi, harapan dari masyarakat seakan bergairah kembali.Dalam tayangan itu seorang atau beberapa orang telah terkepung oleh Polisi di sebuah rumah. Dalam rasa penasaran masyarakat menunggu, bertumpu, dan tidak hanya ingin melihat tapi ingin pula menjadi saksi atas kematian orang no. 1 yang dicari oleh Negara ini.tapi kapankah itu? Dalam waktu yang nyaris bersamaan, Polisipun meringkus kelompok teroris di Jati Asih dengan ratusan kilo materi yang telah disiapkan untuk Bom.

Tindakan operasi di lapangan selalu tidak dilapisi tindakan komunikasi massa sebagai barrier dan filterisasi informasi untuk masyarakat. Dalam tayangan Temanggung, Bagaimana mungkin bisa dibiar masyarakat mengkonsumsi segala bentuk informasi yang ditayangkan non stop media elektronik tanpa ada ‘klarifikasi’ dari pihak terkait dalam hal ini polisi.adalah sangat ‘pas’ menurut saya sekitar jam 10 an, Kapolda Metro Jaya – Irjen Pol Wahono, memberikan statement resmi di Jati Asih, dari statement ini setidaknya opini public dari media telah di suplay informasi yang ‘proporsional’ [sesuai dengan perkembangan dan hasil temuan terkini] berkaitan dengan klarifikasi.
Conference Pers yang di gelar Kapolri sekitar sabtu jam 17.30 sore, merupakan bentang waktu yang panjang [dan melelahkan bagi masyarakat dalam penantian kepastian informasi] untuk mencegah media berspekulasi tentang tersangka teroris tersebut adalah Noordin M top.Bahkan media on line di luar negeri telah me-releas bahwa teroris tersebut Noordin yang telah diperkirakan telah tewas pada Jum’at sore.Di tengah masyarakat yang lelah dan informasi yang bergulir adalah sebuah ketidak pastian, ini sama halnya membiarkan peristiwa penting menjadi limbah informasi yang sia-sia.

Conference pers yang ditunggu ini ternyata tidak cukup melegakan, dengan kesan sangat hati-hati Kapolri berulang kali memakai kata landasan yuridis formal terhadap segala bentuk tindakan yang dilakukan Polisi.Tapi apakah mayat tersangka teroris tersebut adalah Noordin, jawabannya “polisi belum berani memastikan, harus melakukan test DNA dahulu”.Dengan informasi yang ‘pas’ seharusnya polisi juga bisa membuat masyarakat juga ikut ‘cerdas’. ‘Cerdas’ dalam artian persoalan terorisme dan keamanan pada umumnya bukan hanya jadi tugas dan tanggung jawab Polisi saja, tetapi masyarakatpun bisa ikut berpastisipasi untuk berperan dalam penanganan masalah keamanan secara umum.
Secara pribadi bagi saya, operasi penyebaran foto seandainya bisa didesaign lebih baik lagi hasil adalah masyarakat tidak hanya disuruh mengenali lalu melaporkan siapa yang mencurigakan, melainkan pada satu sisi dengan memberikan stimulus informasi serta tindakan komunikasi massa yang benar hasil yang efektif yang [mungkin] bisa didapat adalah proses penyadaran masyarakat untuk melakukan proses identifikasi musuh nomer satu Negara ini atau siapa yang menjadi “Public Enemy”. Dalam hal ini partanyaan adalah “bagaimana polisi berhubungan dengan masyarakat-nya?”

Saya menyakini betul bahwa setiap tindakan operasi yang dilakukan oleh pihak Kepolisian bentuknya tidaklah tunggal. Lazimnya sebuah operasi pastilah sudah didasari oleh sebuah operasi intelejen secara internal, yang menjadi tugas Polisi berikutnya dalam era yang serba terbuka dan dengan system jurnalistik media yang juga bertambah modern , sebenarnya tidak ada lagi [kurang pas] untuk mengistilahkan tindakan sebuah operasi adalah sebuah tindakan operasi tertutup.Dimana polisi berada disitu ada media, diundang atau tidak mereka [baca; media] pastilah ada. Dalam hal ini partanyaan adalah “bagaimana polisi berhubungan dengan media-nya?”

Lebih dari cukup rasanya bangsa ini telah berdo’a untuk Polisi. Harapan yang begitu besar pada Polisi, rasa bangga dan decak kagum pada polisi, sekali lagi melalui media TV dalam perjalanan panjang Polisi, media selalu menempatkan Polisi dengan ‘citra sesaat’. “Citra sesaat’ ini seperti pengobat rindu, mengembalikan ‘mimpi’ bangsa ini akan hadirnya sosok lembaga Kepolisian yang Profesional, Modern dan Bekerja/hadir untuk masyarakat.

Sebagai awam saya selalu tergelitik, mengapa citra [yang] sesaat ini tidak bisa menjadi citra [yang] melekat? Dalam hal ini [mungkin] partanyaan adalah “bagaimana polisi berhubungan dengan masyarakat dan media-nya?”
Sekalipun MU ‘gagal’ bermain di Indonesia, saya masih yakin MU adalah tim yang besar. Begitu juga, sekalipun POLRI mendapat ‘citar sesaat’ kali ini, saya masih yakin POLRI adalah masih yang terbaik di negeri ini.Amien.

Agust 9, 2009-Lianto Luseno.