Rabu, 21 Oktober 2009

DONGENG TENTANG NEGERI KETAWA


Di negeri yang serba menggelikan ini, apa sich yang tidak bisa kita tertawakan? Konon katanya orang yang bisa tertawa mencerminkan orang yang sehat.Namun konon katanya lagi orang yang lebih sehat adalah orang yang bisa mentertawakan dirinya sendiri.

Tapi ada orang yang tidak bisa tertawa?! Kalau marah sambil tertawa tentulah tidak mungkin, atau kalau tertawa ketika sedang dalam suasana duka tentulah tidak ‘pas’.Tetapi kisah orang yang tidak bisa tertawa ini, adalah kisah tentang mereka yang tidak bisa tertawa dalam segala suasana…wah gawat! Ketidak tertawaan mereka ini ternyata sudah menjurus dan menjadi penyakit.Namanya gelotophobia alias penyakit tidak bisa tertawa.

Satu lagi penyakit unik yang tidak banyak orang tahu, yaitu penyakit takut ketawa atau gelotophobia. Orang dengan gelotophobia bukan sekedar malu, tertawa sudah menjelma menjadi hal yang menakutkan.

Gelotophobia berasal dari bahasa Yunani yaitu 'gelo' yang artinya ketawa dan 'phobos' yang artinya takut, sehingga 'gelotophobia' memiliki arti takut ketawa atau juga malu ketawa. Jenis phobia ini pertama kali didiskusikan di Spanyol pada acara International Summer School and Symposium on Humour and Laughter. Sedangkan teori, penelitian dan aplikasinya dilakukan oleh University of Granada.

Dalam sebuah studi yang dimuat di Scientific Journal Humour, peneliti dari University of Zurich, Switzerland melakukan survei terhadap orang-orang di sekitar 73 negara dan menemukan beberapa orang yang memang memiliki penyakit malu atau bahkan takut ketawa.

"Seseorang bisa ketawa karena berbagai alasan. Namun orang yang punya penyakit malu ketawa atau gelotophobia justru takut dengan berbagai respons dan reaksi yang muncul terhadap lingkungan sosialnya jika ia ketawa. Ia memiliki ketakutan yang berlebihan untuk ketawa," ujar Victor Rubio, seorang psikolog dari Autonomous University of Madrid, Spanyol seperti dikutip Health24, Minggu (18/10/2009).

Menurut para peneliti, seseorang gelotophobia memiliki gejala yang berbeda-beda, diantaranya ketakutan akan reaksi tidak nyaman dari lingkungan sekitar, takut memberi lelucon dan menghindari situasi lelucon. Takut akan reaksi tidak nyaman membuatnya menjadi tidak percaya diri, sedangkan mereka yang enggan mengeluarkan lelucon karena takut dianggap tidak lucu oleh sekitarnya.

Seorang gelotophobia juga takut bila orang lain ketawa, itu berarti mereka sedang menertawakan dirinya. Untuk itu, mereka lebih memilih untuk menghindari situasi yang memicu terjadinya ketawa atau dengan cara tidak memberikan reaksi ketawa saat orang lain ketawa.

Bagi saya,terlepas dari hasil penelitian ilmiah para ahli di atas, sekarang ini memang ada kecenderungan orang untuk mulai tidak bisa dan tidak membiasakan diri untuk tertawa.Hal yang paling rapuh adalah kita sering terbelenggu kenyataan pada saat menghadapi situasi sosial.Terhimpit kemiskinan [keterbatasan ekonomi] telah membuat dahi kita mengernyit dan simpul urat tawa di bibirpun menghilang.Kita sering tidak bisa tertawa karena terombang-ambing oleh gairah hidup yang fluktuatif.Kitapun terhenti tertawa oleh hal-hal besar tentang negeri ini yang membuat kita terkejut; BBM naik, Gas Elpiji naik, aksi teror bom, sidang kasus korupsi, pemilihan ketua DPR/MPR, pemilihan menteri kabinet, yang kalau dirasa-rasa juga tidak ada hubungan langsung dengan kehidupan kita.

Kondisi Ipoleksosbud hankam [kondisi social bernegara] telah membuat kita kena syndrome depresi mendadak, kita kehilangan nyali untuk gembira, kita kehilangan naluri untuk menghibur diri sendiri, kita lupa bahwa kita orang yang masih sangat sehat, lidah kita pun tiba-tiba terasa ‘kelu’ dengan cara berekpsresi lewat tertawa.

Depresi sosial yang ditandai dengan menghilangnya gairah kita untuk tertawa biasanya akan diikuti oleh tindakan sosial yang juga tidak ‘lucu’: aksi demo dengan bakar-bakaran, kekesalan yang lalu ditumpahkan dengan cara menghilangkan hak dan nyawa orang lain, cacian dan hinaan yang diobral melalui media, berdemokrasi dengan cara pukul-pukulan, mendiamkan teman seiring, tidak mau bertetangga, gampang naik pitam lalu mengumpat sekenanya…dan sebagainya…dan sebagainya.

Tiba-tiba negeri ini dicap sebagai bangsa pemarah, negeri yang tiba-tiba [juga] sepi dengan keramahtamahan.Negeri ini seperti penebar aroma kematian kreatifitas karena dianggap negeri yang sangat tak bersahabat.Lalu kita banyak mebaca di Koran-koran nasional reaksi dari Negara-negara internasional yang memberlakukan travel warning bagi warganya untuk berhati-hati berkunjung ke negeri kita yang konon sangat elok pesona wisatanya.

Akhirnya kita hidup di negeri kita sendiri seperti meratapi kutukan para dewa dan leluhur yang entah ada dimana.Sebagai negeri yang terkenal dengan sebutan ‘the ring of fire’ [negeri cincin api] dan dengan penduduk yang kehilangan rasa tawa-humor bahkan candaannya, makin lengkap lah ketika kita benar-benar tidak bisa tertawa pada saat berkali-kali gempa mengahampiri dan memporak-porandakan negeri ini.

Tertawa adalah hak setiap orang, namun ketika tertawa sudah menjadi suatu penyakit, hak tersebut menjadi terampas. Padahal tertawa adalah salah satu obat stres, dimana ketika tertawa hormon-hormon yang memicu rasa senang seperti oxcytocin, dopamin dan serotonin akan memperlancar sistem aliran dalam dan membuat tubuh jadi rileks.

Ketakutan akan tertawa hanya bisa disembuhkan dengan keberanian dari dalam diri sendiri, jadi beranikanlah diri untuk tertawa, jika memang hal itu patut ditertawakan.

Di negeri yang tiba-tiba sepi denga suara tawa…saya pun terdiam sendiri, dahi saya mengernyit, urat tawa di bibir saya terkatup…apakah saya sudah termasuk seorang gelotophobia? Atau seorang dengan serangan depresi sosial?...ah tidak, saya hanya sedang menulis merangkai kata saja…

So, be relaxs dan mari tertawa; ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha…

Ayo ngguyu dan ramaikan negeri ini; ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha…(LL dalam tertawanya di 19/10/2009).

Difficult Time.


Sering tiba-tiba dalam menjalankan hidup ini langkah kita merasa harus terhenti dengan apa yang kita sebut dengan Difficult Time.Waktu yang sangat sulit, bisa diibaratkan seperti suasana ketika seorang nelayang yang tak bisa menangkap ikan karena laut yang mengganas; sama halnya dengan petani yang tak lagi dapat menanam karena lahan garapannya sudah digusur untuk kepentingan pembangunan; ini kira-kira sama juga dengan dengan karyawan yang kehilangan kinerjanya dan harus berhadapan dengan PHK; atau kurang lebih seperti seniman yang kehilangan ide kreatifitas untuk berekspresi; atau ketika seorang budayawan tak memiliki gagasan tentang konsep kemanusian dalam semesta atau dapat digambarkan laksana politisi yang tak memperoleh dukungan suara dari para konstituennya; atau ketika kita mendapatkan penghianatan dari orang yang kita sangka sebagai teman,…begitulah kira-kira suasana [batin] nya.

Waktu ini membuat kita merasa tertekan, sejenak kita frustasi, meratapi yang tak mungkin kembali lalu kita kehilangan tempat untuk mengadu.Dalam suasana seperti ini perasaan kita terasa diaduk-aduk, tidak karuan entah mengapa, hidup seperti habis seketika, hidup seperti tak memberi solusi, kita menghabisi diri kita sendiri dengan kata sesal.

Ternyata diluar carut marut kegundahan hati kita ketika menghadapi waktu yang sulit ini; dunia tetap berputar, udara tetap berhembus, matahari tetap bersinar, burung-burung tetap berkicau, apa artinya? Artinya adalah ternyata dunia yang kita pijaki belumlah kiamat.Sekalipun tidak banyak orang yang menyukai waktu yang sulit ini, tetapi sebagai manusia yang hidup kita tak akan pernah bisa memungkiri dan ingkar darinya.Ini persoalan jatah orang hidup. Ini kodrat [takdir yang baik] dan juga irodat [takdir yang buruk] bagi orang-orang yang masih diberi nyawa.

Lalu harus bagaimana? Tidak mudah memang untuk segera bebenah diri menyelesaikan semua diwaktu yang sulit. Setidaknya inilah saat yang tepat untuk kita kembali mencoba mengenali diri kita sendiri.Mengapa? Sering tanpa disadari sebagai manusia kita tak pernah melepaskan diri dari nafsu dan ambisi pribadi.Nafsu dan ambisi ini terus melekat sejak nafas pertama kita hirup di dunia ini.Kita menjadikanya kendaraan yang nyaman untuk memenuhi konsep dunia yang ‘ideal’ yang kita damba-dambakan.Sebagai kendaraan [nafsu dan ambisi] telah mengantarkan kita kemanapun dunia yang kita inginkan.Sepertinya tidak ada yang bisa menghentikannya, melarangnya bahkan mencabutnya dari jasad hidup kita.

Kita terus saja membawanya berlari dan melaju sekencang mungkin dengan kecepatan yang kita mau.Nafsu dan ambisi itu bergelora-lora membakar dan menyelimuti kita menuju dunia yang ‘ideal’.Dunia yang ‘ideal yang kita bangun adalah; harta yang berkecukupan, ikan yang banyak serta lautan yang selalu teduh, hasil pertanian yang melimpah dan tanah yang selalu subur, gaji yang besar dan fasilitas kerja yang mewah, ide yang senantiasa melimpah dan karya yang jumawa dengan pasar pembeli yang bagus, ketajaman pikiran dan mendesign konsep kehidupan dunia seperti yang kita mau, atau para politisi yang selalu obral janji dan selalu dapat dukungan suara dengan membeli, atau kita berkecukupan suasana sehingga kita dapat merangkul dan berfoya-foya dengan teman disekeliling kita,… begitulah kira-kira suasana [batin] nya.Dunia ‘ideal’ tanpa duka dan nestapa.

Waktu yang sulit ini, ternyata mengingatkan kita akan harkat bahwa kita masihlah manusia [biasa]. Rocker juga manusia, punya hati-punya rasa. Inilah yang sering kita lupa terhadap diri kita, mungkin saja jasad [hidup] ini berada pada titik jenuh. Ibarat bunga setelah berkembang mungkin dia butuh tambahan pupuk dan siraman air yang lebih. Rotasi waktu membutuhkan ‘sedekah’ pada bumi dan laut untuk menjamin hasil yang langgeng. Tubuh dan segenap pikiran yang lelah ini juga butuh ‘diruwat’ sebagai sebuah interupsi. Interupsi ke dalam jiwa untuk kembali mengenal kesejatian diri dan meluruskan kembali nafsu dan ambisi yang kadung membesar.

Siapa bilang waktu yang sulit ini tidak bermanfaat? Untuk sementara waktu:
Bagi para nelayan ketika laut yang sedang murka ada baiknya untuk merawat jala dan perahu yang selama ini digunakan, bagi para petani mungkin harus kembali mengasah cangkul dan berhati-hati ke depan dengan tawaran mengiurkan terhadap lahan garapan untuk hidup, bagi para karyawan mungkin harus belajar lebih disiplin lagi terhadap komitmen, para seniman juga harus kembali pada kodrat penciptaan, tidak usah terseret pada ‘laku’ yang tidak produktif bagi kekaryaan yang nyata, bagi para budayawan harus kembali berada di tengah-tengah masyarakatnya tidak bermukim pada ruang ber-AC yang penuh dengan aroma kekuasaan, bagi para politisi harus bisa dengan jujur untuk bekerja dengan masyarakat disekitarnya, serta bagi kita pribadi adakah selama ini kita telah mengenal betul dan memberi arti yang lebih pada pertemanan kita? Atau hanya sekedar basa-basi yang tidak perlu untuk melegitimasi pergaulan kita? Wallahualam.

Inilah waktu yang sulit itu, karena dengan segenap kesadaran, kita akan tetap melihatnya sebagai keindahan yang nilainya juga tidaklah kalah dari ketika kita mendapatkan waktu yang mengembirakan.Semua ada suka citanya, semua ada suka dukanya, dunia selalu simetris, terbagi dua, berpasangan dan selalu menjaga keterseimbangan.

Hidup ini hanya mampir untuk minum, waktunya yang sangat singkat, sekejap saja, tak banyak yang bisa kita bawa, kecuali menghargai waktu yang akan datang pada kita.Pada saat kaya maupun miskin, pada saat muda maupun tua, pada saat longgar maupun sempit, pada saat sehat maupun sakit, pada saat hidup maupun mati…I do…, [LL/20/10/2009].

Rabu, 14 Oktober 2009

The Dream


Di saat terdesak Dr. Octopus diminta untuk menghentikan hasil percobaannya yang salah perhitungan dan akan berakibat membahayakan orang lain.

“Kau harus menghentikannya!”
“Tidak, aku tidak dapat menghentikan hasil penelitianku, karena itu mimpi sepanjang hidupku”
“Bukankah kau pernah mengatakan, bahwa ada kecerdasan untuk menguasai itu semua di atas mimpimu sekalipun?”
Dr. Octopus terdiam sejenak, pikiran menerawang jauh seakan memastikan sesuatu.
“Kau benar, aku telah salah perhitungan, biar ku lakukan sendiri, aku tak mau mati menjadi monster’.


Lalu Dr. Octopus turun ke bawah menuju penopang besi yang menyangga mesin fusi cahayanya yang kian bergelora.Dengan segala kekuatan dan teriakan akhirnya roboh pula tiang penyangga besi itu disusul tenggelamnya mesin fusi ciptaannya ke dasar sungai. Dr. Octopus tewas bersama dengan tenggelamnya mesin fusi ciptaannya, sekaligus tenggelam pulalah impiannya.

Kisah di atas adalah cuplikan adegan dalam film spiderman 2. Banyak orang dalam pandangan sosial beranggapan bahwa mimpi hanya lah sebagai bualan, mencari yang nggak-nggak – mengharapan yang bukan-bukan. Bunga tidur!Siapa diantara kita yang tak pernah bermimpi? Mimpi adalah pengalaman bawah sadar yang melibatkan pikiran, perasaan, indra serta melibatkan emosional.

Bagi saya mimpi adalah konstruksi imajinatif dari sebuah gagasan tentang dunia yang belum nyata. Mimpi adalah bahan bakar kreatifitas, ia kekal menginspirasi serta pemicu adrenalin untuk terus merangsek bergerak menuju target. Mimpi adalah angan-angan yang mengembara, ia menembus lintas batas keraguan serta ketidakpastian, dan dalam perjalanannya ia meramu kekuatan logika, insting, kreatifitas, petualangan,spekulasi, resiko serta asa yang senantiasa berpengharapan. Mimpi adalah perjalanan kreatif yang indah dan penuh sensasi.Dengan mimpi kita menjalani dunia seperti memasuki lorong waktu yang senantiasa bergerak.Setiap detiknya adalah nafas, putaran menitnya adalah pengharapan dan ketika jam berdetang adalah kenyataannya.

Tidak ada manusia yang bisa mendustakan mimpi, dan jangan coba untuk berpaling darinya.
kemustahilan mimpi, merupakan the power of live!mimpi adalah gerakan sporadis, ia mencapai target dari berbagai arah probabilitas.Mimpi berbanding terbalik dengan ‘cita-cita’, yang terjebak menjadi jargon yang sangat teknis, dengan beban pencapaian yang harus logis dan target pencapaian yang cenderung hanya satu arah. Dengan kerja keras, kita adalah orang-orang yang pantas memiliki mimpi dan mewujudkan mimpi itu menjadi nyata.Mimpi itu bergejolak, sehingga mimpi adalah energi yang merubah dan menimbulkan reflek tersendiri berupa ‘kegelisahan’ yang mampu mendorong manusia melakukan pencarian yang tiada henti.

Pada era penemuan, sebagaian besar the challenger menggunakan mimpi sebagai modal terbesar untuk rasa ingin tahu dan rasa penasaran dalam proses penaklukan dunia.

Wright bersaudara mencacat sebuah sejarah penting, tentang angan-angan yang menjadi sebuah kenyataan, sebuah mimpi yang bukan lagi ada pada benak yang terpendam, melainkan telah berwujud nyata yang membuat rasa bangga.Orville Wright dan Wilbur Wright tercacat sebagai orang pilihan yang telah mempelopori keinginan manusia untuk bisa terbang merantas cakrawala. Beberapa desain pesawat terbangnya sempat mereka ujicoba, sampai akhirnya mereka menambahkan mesin kedalam pesawat terbangnya yang mereka namai Wright Flyer. Pada pukul 09.30 pagi dalam cuaca yang mendung tanggal 17 Desember 1903, Wright bersaudara menerbangkan untuk pertama kalinya pesawat terbang berkendali sejauh 4 mil di dekat wilayah berbukit pasir di Kitty-Hawk,North-Carolina.

Kini, teknologi berkembang, desain pesawat mereka kini berevolusi dapat membawa ratusan penumpang untuk melintasi langit, melawan grafitasi, membawa dan mengabulkan impian orang yang ingin terbang bagai burung.

Sekecil apapun setidaknya kita harus memiliki mimpi. Karena biar sekecil apapun mimpi, ia memiliki peluang serta kesempatannya tersendiri untuk diwujudkan. Tak usah merasa kacau dan merendah diri karena khawatir dengan bermimpi dianggap seperti pungguk merindukan bulan. Sebab dengan bermimpi, kini; tikus serta monyet sekalipun sudah pernah di daratkan sampai ke bulan.

Apakah dahulu anda juga memimpikan dunia yang sekarang kenyataan berada pada genggaman anda atau anda belum mengimpikannya?The dream will be came true! Sejalan dengan perputaran waktu, ada orang yang sedang dan terus membangun mimpi-mimpinya, serta ada orang di dunia ini sedang dan terus dikejar dan dibangunkan oleh mimpi-mimpinya.Jangan khawatir [berlebihan], bergembiralah [secukupnya], karena kita bukan sedang sendirian dalam bermimpi.

Berikut ini adalah orang-orang yang telah sangat indah menikmati mimpi dan impiannya merengkuh dunia nyatanya: James Watt, Alexander Graham Bell, Thomas Alva Edison, Galileo Galilei, Microsoft, Facebook, twiter, Yahoo, Google,…, Chairil Anwar, WS Rendra, Ismail Marzuki, Jendral Soedirman, RA Kartini,…,Bambang, Nugroho, Sutirto, Sarkowi, Esti, Lena, Basuki,…,Lianto Luseno, Joko Supriyono, Niken S.Winarni,…

Mimpi itu ternyata memang indah tidak hanya di kala kita tertidur, mimpi itu ternyata tetap indah [untuk diwujudkan] dalam keadaan kita terjaga sekalipun.Mimpi itu ‘dunia bebas’ tanpa tekanan dan…………milikilah dia.[LL/13/10/09].

Senin, 05 Oktober 2009

Perasaan yang Terguncang [guncang]


Perasaan/vedana hanyalah salah satu dari 6 cetasika/faktor batin yang selalu ada pada setiap citta/kesadaran (Sabbacittasadharana cetasika 7).

Perasaan merupakan padanan kata yang lebih tepat untuk vedana dibandingkan dengan sensasi seperti yang sering dijumpai.Seperti halnya kontak, perasaan merupakan sebuah kekayaan penting bagi setiap kesadaran. Perasaan dapat berwujud menyenangkan, tidak menyenangkan dan bukan menyenangkan juga bukan tidak menyenangkan / netral. Perasaan merupakan faktor batin yang merasakan objek ketika objek itu 'kontak' dengan indera.

Ramadhan yang lalu ini kita memasuki musim kering dan bulan kemarau yang terkesan ‘gahar’, jadi terasa betul bagaimana menjalankan puasa dengan haus dan dahaga yang teramat sangat. Namun dengan situasi seperti itu tak lantas mengendurkan ‘perasaan’ kita untuk surut dan menghentikan kita dari beribadah puasa.

Banyak yang berbeda ketika Ramdhan tiba; persiapan fisik yang dijaga; jadual kerja yang lebih diatur; lisan, hidung, mata yang direm serta yang tak mungkin dihindari adalah menjaga ‘perasaan’ dari segala macam godaan dan cobaan yang sangat mungkin saja datang menghampiri.

Ketika kita mulai khusuk dan asyik untuk berpuasa, siang itu /2 September tiba-tiba kita merasakan getaran gempa yang menggoyang bumi. Tiba-tiba pula ‘perasaan’ ikut berdebar [membayangkan yang lebih buruk terjadi], dimanakah gempa ini? Melalui TV kita mulai melihat saudara-saudara kita di wilayah Jawa Barat yang terlunta-lunta.Hanya doa kala itu yang terlontar dari ‘perasaan’ yang berdebar, semoga mereka tetap bisa menjalankan puasanya dengan baik.

Ketika musim mudikpun tiba; ‘perasaan’ pun ikut serta merta merasa gembira.tiba-tiba ada rindu yang menyeruak untuk segera ke kampung halaman, menemui Ibu yang kian renta dan ‘perasaan’ yang tertahan sambil berdoa smoga masih ada waktu berjumpa dengan Ibu.

Waktu berjumpa Ibu di kampung, ‘perasaan’ pun ikut serta berbunga. Bahagia nian Ibu yang renta ini masih tersenyum bangga dengan anak-anak serta cucu-cucunya. Ada sedikit yang berubah, ketika menyiapkan perjamuan untuk keluarga, Ibu sudah memblender bumbunya, tak diuleknya lagi bumbu untuk sambel goreng ati dan rendangnya, tenaganya yang kian rapuh.‘Perasaan’ pun berkecamuk melihat keriput di wajahnya yang ayu.Dengan perasaan seperti itu dalam hati kecil mendoa; “Ibu, semoga akan ada banyak waktu kita untuk senantiasa bersama”.

BREAKING NEWS di media TV: NOORDIN M TOP TEWAS DI SOLO! Noordin tewas ; dihajar peluru panas Detasemen 88 on September 17, 2009 11:54.

Lagi-lagi ‘perasaan’ ini mendidih.berita ini telah menjadi penyulut rasa yang selama ini juga ikut merasakan kecemasan, kemarahan dan kelelahan batin diombang-ambing oleh ledakan bom dan berita terorisme. Ada orang yang tewas dibulan Ramadhan dan di rumah, di gardu ronda, di mushola, di pasar hewan, di pasar sayuran kitapun ikut menggunjingkannya dengan ‘perasaan’ yang berbeda-beda.
Lebaran kian dekat tetapi Ramadhan belum usai, di tanah Jawa dari sudut-sudut kampung petani tampak gersang di sana-sini.Teriknya matahari menambah kering tidak hanya pada lahan garapan tetapi rasa nya juga merambah pada ‘perasaan’ yang seakan-akan terselimuti oleh rasa ketidak berharapan [hopeless] pada kenyataan kehidupan.
Sawah kering, palawijapun tertatih-tatih untuk hidup, batang-batang jagung kekurangan air, hewan-hewanpun merangas kekurangan pangan!
Rasanya serba kikuk untuk memulai pembicaraan, inikah konsep ekonomi kerakyatan yang dalam pemilu kemarin ramai dikumandangkan? Inikah pembangunan ketahanan pangan pedesaan itu? Inikah otonomi daerah itu? Petani-petani yang sementara tak memiliki lahan garapan, adalah petani-petani kita yang tabah, yang sangat kuat bertahan walaupun [untuk sementara] tak berpengharapan. Kenyataan ini sungguh sulit di terima oleh ‘perasaan’.

‘Perasaan’ ini terlunta-lunta di kampung halaman sendiri!

Dahulu di musim paceklik ada fenomena pulung gantung sebagai penyebab bunuh diri di Gunung Kidul. Dalam analisisnya seorang peneliti dari UGM menyimpulkan bahwa kasus kasus bunuh diri di Gunung Kidul lebih erat berkaitan dengan kemiskinan, kekeringan dan kesulitan hidup sehari hari. Kasus kasus bunuh diri lebih banyak terjadi di daerah daerah yang sangat kering, miskin dan sulit. Di tahun enam puluhan Gunung Kidul memang terkenal tandus dan rawan kelaparan. Tetapi perbaikan ekonomi selama beberapa tahun terakhir ternyata tak juga mampu mencegah kejadian bunuh diri. Masih banyak faktor psikologi dan psikiatrik yang tak membaik hanya semata mata dengan perbaikan ekonomi…”perasaan” ini tergelincir begitu jauh berimajinasi…


Kini Ramadhan telah usai dan lebaranpun telah berlalu.Walau musim [panas] belum berubah. Semua orang-orang [dari kampung-kampung di seantero negeri] pergi kembali ke kota. Menabur asa, menyemai harapan untuk sesuatu kehidupan yang lebih baik lagi.’Perasaan’ kembali bergelora dengan doa semoga harapan itu memang benar adanya.

Belum lama kaki melangkah di Ibu Kota, Gempa Padang 30 September membuat ‘perasaan’ ini lagi-lagi terguncang. Hujan air mata, ratapan dan derita tiba-tiba hadir di depan mata.dalam ‘perasaan’ yang bimbang berdoa; “Tuhan, gempa dan musibah Mu pasti tak pernah salah sasaran, Engkau adalah pemberi yang terbaik maka biarkanlah dengan apapun kami menerima kebaikan Mu…sekalipun dengan ‘perasaan’ yang tidak menentu”

Ada pula kabar gembira, melalui badan dunia Unesco; batik Indonesia dinyataan sebagai kekayaan dunia. Hari batik 2 Oktober kita sambut dengan ‘perasaan’ suka cita. Namun di belahan kampung-kampung di jawa, telah lama pengrajin-pengrajin batik telah gulung tikar karena ekonomi yang porak-poranda.’perasaan’ ini kembali bercampur aduk, batik; telah menjadikan kita bangga sekaligus meninggalkan tanggung jawab yang ternyata tidak sederhana.

Hanya karena masalah ‘teknis’ yang hanya PLN dan Tuhan yang tahu, masalah kelistrikan pun menyengat perasaan kita dengan tegangan yang tak kalah tinggi.’perasaan’ ini juga tidak bisa membiarkan PLN byar pet dan kita tidak siap menerima situasi ini.Pemadaman listrik bergilir telah membuat ‘perasaan’ kita marah dan melambungkan ‘perasaan’ pada ketidaknyamanan yang teramat sangat diantara ketidak berdayaan.
Semua manusia pasti memiliki perasaan, hanya saja kadarnya berbeda-beda, ada yang kuat ada yang lemah. Perasaan adalah rasa-rasa yang terletak di hati nurani insan.Perasaan-perasaan itu seperti rasa kasih, rasa cinta, rasa benci, rasa jijik, rasa simpati, rasa marah, rasa dendam, rasa rindu, rasa malu, rasa megah, rasa sombong, rasa takut, rasa serba salah, rasa kecewa, dll.
Perasaan-perasaan yang merupakan fitrah alami manusia, tidak mudah untuk diasuh, dididik, didisiplinkan, dikendalikan dan diurus karena ia ada yang positif, ada yang negatif. Yang positif hendak dilepaskan, yang negatif hendak ditahan.
Kitalah yang membuatnya menjadi menyenangkan, tidak menyenangkan dan bukan menyenangkan juga bukan tidak menyenangkan / netral.

Lupakan atau simpan semua yang terjadi…So, tunggu apa lagi, “Jagalah Perasaanmu!”…[LL/04/10/09].

Jumat, 04 September 2009

Indonesia, We Love U Full


Di sana tempat lahir Beta,
Dibuai dibesarkan Bunda,
Tempat berlindung di hari tua,
Sampai akhir menutup mata…



Dalam pidatonya yang legendaries, presiden Kenedy mengatakan; “Jangan tanya apa yang bisa diberikan Negara kepada mu, tapi tanyalah apa yang bisa kamu berikan kepada Negaramu”. Tapi di Negara yang tidak memberi, lalu harapan apa yang masih kita pinta?

Jauh sebelum terror Bom yang kita rasa, teror itu telah ada dimana-mana, 40 juta rakyat kita masih dalam ketegori miskin dan mereka selalu diteror dengan kemiskinan dan dijauhkan dari sejahtera oleh negaranya. Penjajahan yang dilakukan barat juga berdampak pada terror budaya yang juga dirasa oleh warga Negara kita. Setiap kali Malaysia berulah untuk mengklaim aset budaya kita, maka sebagai sebagai bentuk solidaritas warga Negara darah kitalah yang mendidih lebih dahulu baru berikutnya urusan diplomasi dilakukan oleh Negara.

Selain administrasi kependudukan [KTP] dan administrasi migrasi antar Negara [Pasport] yang diberikan atas nama Negara, selain itu semua urusan kitalah yang memberi kepada Negara. NPWP, PBB, semua urusan kita yang dikenai pajak.Negara adalah suatu wilayah di permukaan bumi yang kekuasaannya baik politik, militer, ekonomi, sosial maupun budayanya diatur oleh pemerintahan yang berada di wilayah tersebut. Negara adalah pengorganisasian masyarakat yang mempunyai rakyat dalam suatu wilayah tersebut, dengan sejumlah orang yang menerima keberadaan organisasi ini. Syarat lain keberadaan negara adalah adanya suatu wilayah tertentu tempat negara itu berada. Hal lain adalah apa yang disebut sebagai kedaulatan, yakni bahwa negara diakui oleh warganya sebagai pemegang kekuasaan tertinggi atas diri mereka pada wilayah tempat negara itu berada.
Teori besar sebuah Negara, menempatkan rakyat hanya sebagai syarat…selain wilayah, pemerintahan, mendapat pengakuan /dukungan politik dari Negara lain. Hubbul wathon minal iman, Negara macam apa yang harus diyakini sampai sampai ke iman? Kalaulah system pemerintahan di jaman setelah Rasulullah SAW wafat, yaitu jaman Khulafa'ur Rasyidin : ini adalah contoh Negara dengan konsep pemimpinya peduli dengan rakyatnya dan Negara yang melindungi rakyatnya. Bukan Negara yang cuci tangan. Menempatkan hukum sebagai junjungan dan tidak mempermainkan hukum di bawah tangan segelintir kekuasaan.

Pada jaman itu, Etika yang dijunjung tinggi oleh Pemimpin Pemerintahan dan Masyarakatnya, adanya Kejujuran dan Integritas Masyarakat dalam kehidupan sosial, Pemerintahan dan Individu dengan Sikap yang tinggi mau bertanggung-jawab, Menghormati hukum dan aturan masyarakat sebagai norma dan azas keadilan tunggal, serta Menghormati hak warga atau orang lainnya dalam tata kehidupan sehari-hari.Mungkin bentuk Negara semacam inilah yang dimaksud untuk kita imani.Sayang di Negara yang kita cintai ini, masih berbau kerajaan. Demokratisasi diterjemahkan sebagai hubungan minta disembah, juga minta upeti.dan abdi negaranya minta dilayani bukan melayani.

• Aristoteles
Negara adalah perpaduan beberapa keluarga mencakupi beberapa desa, hingga pada akhirnya dapat berdiri sendiri sepenuhnya, dengan tujuan kesenangan dan kehormatan bersama.

Bagaimanapun kita telah menjadi Indonesia, lebih dari yang dipikirkan Negara untuk kita sebagai warganya.walaupun Nasionalisme kita masih dengan nasionalisme yang marah-marah, cinta/patriotisme yang kita miliki masih merupakan cinta/patriotisme yang penuh nafsu tetapi kita tak akan tinggal diam ketika bangsa dan orang lain mengambil; Pulau Ambalat, angklung, reog ponorogo, batik, lagu rasa sayange, serta tari pendet.

“Biarpun bumi bergoncang, kau tetap Indonesiaku”, kata Gombloh [alm] itu tak akan mengecilkan kita menjadikan Negara ini sebagai tumpah darah kita dan “Tempat berlindung dihari tua sampai akhir menutup mata”, kata Ismail Marzuki…Setidaknya kita masih memiliki mimpi bersama [yang tentu saja lebih indah daripada mimpinya Negara], yaitu mimpi tentang; Pendapatan perkapita tinggi, Angka kematian kecil, Tingkat pendidikan tinggi, Iptek telah di kuasai, Keadaan perekonomian lebih baik, Fasilitas di segala bidang terpenuhi, serta krisis lingkungan segera teratasi…dan sebagainya…dan sebagainya…


Di Negara yang tidak memberi, Janganlah pernah meminta? Cinta itu adalah memberi bukan meminta.Cinta itu, nyaris seperti yang dilantunkan Ebiet dalam lagu “Apakah ada bedanya”…
Cinta yang kuberi,
setulus hatiku,
entah yang kuterima,
aku tak peduli…

Rabu, 02 September 2009

MALAM


Malam adalah suatu masa (waktu) di mana sebuah tempat sedang berada pada posisi yang tidak berhadapan dengan matahari, dan oleh karenanya menjadi gelap. Pada saat belahan planet bumi sedang mengalami waktu malam hari ini, belahan lainnya akan mengalami waktu siang hari. Malam hari kadang-kadang didefinisikan sebagai waktu antara tenggelamnya matahari di ufuk (horizon) sebelah barat sampai munculnya matahari di ufuk sebelah timur pada keesokan harinya.

Karena rotasi bumi yang berputar dari arah barat ke timur, maka siang dan malam hari akan saling berselang-seling, dan membentuk satu hari yang terdiri dari 24 jam.
Lamanya waktu malam akan berbeda-beda untuk musim yang berbeda, terutama untuk daerah yang mendekati kutub. Di negara Amerika Serikat misalnya, pada saat musim panas (bulan Juli dan Agustus) malam akan lebih pendek dari pada saat musim dingin (bulan Desember dan Januari).

Untuk menggambarkan suasana malam adalah sering terlontar dalam bahasa pergaulan kita sehari-hari diantaranya;
- Malam Pertama, Malam bahagianya pengantin baru
- Malam Terakhir, Malam kesedihan sepasang kekasih yang hendak berpisah
- Malam 1 Suro, Malam dengan suasana yang diyakini sakral bagi orang Jawa
- Malam Jum’at Kliwon, Malam dengan suasana mistis yang meneganggkan
- Malam Kudus, Malam yang suci bagi kaum nasrani
- Malam Minggu, Malam kecan pemuda-pemudi

Malam senantiasa merupakan suasana keheningan.Ketika rata-rata seseorang kembali ke pangkuan singgasana peristirahatan. Menghela sejenak kepenatan harian sambil berharap mimpi indah akan datang.Malam di kesunyian, banyak orang kembali terjaga untuk melakukan perenungan terhadap hidup yang terus berputar, untuk sejenak menoleh ke dalam mengenali dan menyesali tentang diri sendiri.

Saya sering merasakan malam yang panjang, ketika saya tidak mampu memejamkan mata untuk pergi rehat.mengetik ratusan kata-kata yang seakan meluncur begitu saja dalam komputer, memainkan pena untuk mengoreskan apa saja yang terasa ke permukaan kertas.Semua peristiwa yang baru atau telah lampau dialami berkelebat datang kembali.Orang menyebutnya kenangan, dan di malam-malam yang panjang itu saya melamuni kenangan dalam perjalanan hidup saya.

Kenangan yang indah dalam hidup, seakan enggan saya tinggalkan dalam lamunan. Sementara kenangan yang tidak mengenakkan dalam hidup juga terkadang terlalu berat untuk dilupakan, ia berkutat-kutat menghajar dan menerjang rasa kantuk di sepanjang malam.Lalu perlahan ketika langit menjadi terang pada subuh menjelang fajar, apapun kenangan dalam lamunan itu perlahan mulai menghilang seiring mata dan pikiran saya yang lelah terbuai rasa kantuk yang sangat.

Saya mengagumi malam seribu bulan, bahkan saya pun tertegun menyimak syair yang dibuat Taufik Ismail, betapa begitu lurus, bersih dan sempurnanya deskripsi imajinatif akan datangnya Lailatul Qodar tersebut…

Margasatwa tak berbunyi
Gunung menahan nafasnya
Anginpun berhenti
Pohon-pohon tunduk
Dalam gelap malam
Pada bulan suci

Qur’an turun ke bumi
Qur’an turun ke bumi

Inilah malam seribu bulan
Ketika cahaya sorga menerangi bumi
Ketika cahaya sorga menyinari bumi
Inilah malam seribu bulan
Ketika Tuhan menyeka airmata kita
Ketika Tuhan menyeka dosa-dosa kita

Tuhan dalam keyakinan yang saya anut senantiasa mengajarkan saya untuk tidak berputus asa atas rahmad-Nya.Untuk malam seribu bulan yang dijanjikan Nya, saya malu – saya sungkan untuk memintanya datang pada saya.Saya tahu diri untuk memohonnya; seharusnya saya tidak hanya mengharapnya di satu bulan ramadhan ini saja, seharusnya saya menantinya sambil terus tetap setia dengan keyakinan di sepanjang tahun, di sepanjang usia hidup saya, di sepanjang ada dan tidak ada harapan apakah bisa berjumpa dengan-Nya?

Di sepanjang malam saya berharap, hanya air mata yang menemani hingga fajar datang dan menidurkan harapan saya…

Kamis, 27 Agustus 2009

IN THE NAME OF LOVE


Atas nama tahta suci ‘cinta’ yang terbenam dalam hati, hidup manusia digerakkan olehnya.Para tetua sudah mengatakan bahwa cinta itu buta, tetapi disisi lainnya, kekuatan maha daya cinta menjadikan manusia membuat cerita-cerita yang hebat bagi hidupnya.Ia [cinta] membutakan ‘logika’ tapi menumbuhsuburkan nikmat segala ‘rasa’.

Ah lagi…lagi…Cinta yang membawa prahara…Panah dewa asmara, Cupid, mengarah kemana saja yang dia mau…bahkan seorang Dokter cantik di Palembang pun terkena busurnya. Dokter Alia Pranita Sari (27), sekalipun orang tuanya menentang habis-habisan kisah kasih putri sulungnya itu dengan Iwan Andriansyah (27). Namun Alia tidak menggubris larangan orangtuanya. Secara sembunyi-sembunyi ia tetap menjalin cinta dengan Iwan. Alia yang menghilang sejak Rabu 19 Agustus 2009 ditemukan tewas membusuk di dalam mobil kesayangannya.

Tragis, nyawanya melayang di tangan sang kekasih sendiri. Seorang Dokter sekalipun tak bisa berkelit ketika panah-panah asmara menghujaninya, ketika ‘rasanya’ mulai mengental dan sejak itu juga menyumbat darah ‘logikanya’ menuju otaknya.Kisah ‘sinetron’ dokter Alia hanya sepenggal episode panggung sandiwara yang ada di dunia ini; jauh hari sebelumnya kisah senior mereka; Romeo and Juliet, Damarwulan dan Pronocitro, Rama dan Shinta, Sayekti dan Hanafi, Siti Nurbaya dan Syamsyul Bahri, telah mengumandang di jagat pilu kisah asmara dunia cinta.

Di Planet Bumi yang sudah berumur jutaan tahun ini, kehidupan baru dimulai ketika nabi Adam AS dan Siti Hawa terlempar dari surga. Buah kuldi [buah larangan] akhirnya dipetik pula oleh Adam atas nama cinta pada kekasihnya Hawa.Tapi Allah menghukum keduanya, ini sebagai bukti bahwa cinta itu seharusnya ‘putih’ dan tidak menjadi ‘merah’ karena bujuk rayu syaitan.

Cinta itu rahmatan lil alamin, merupakan rahmat yang diberikan sang khalik untuk sebesar-besarnya ‘kesejahteraan’ bagi mereka yang ada di muka bumi ini.Sehingga, menurut dzatnya maka cinta itu [seharusnya] ‘fitri’. Dia suci dan terbebas dari segala yang kotor.Konon cinta itu adalah perjalanan pengembaraan menuju sukma, yang tampak di dalamnya adalah serangkaian taman hati keindahan dan tak sejenggalpun kita melihat bagian taman yang mengandung kejelekkan.di dalamnya kita akan mudah sekali untuk berkata ‘Ya’ dan sulit sekali untuk mengatakan ‘Tidak’…

Ternyata cinta juga kenal [teori-sains] ‘Logika’. Antropolog Helen Fisher [guru besar Rutgers University AS] mengurai mengapa begitu dahsyatnya racun cinta dalam tubuh manusia? Pada penelusuran jejak kimiawi cinta dalam tubuh, cinta menyalakan caudate nucleus karena merupakan pangkalan yang sarat dengan syaraf penerima yang menyebar untuk pemancar syaraf yang disebut dopamine.

Dalam dosis yang tepat dopamine dapat menciptakan kekuatan, kegembiraan, perhatian yang terpusat, serta dorongan kuat untuk mendapatkan imbalan.Inilah sebabnya mengapa saat baru jatuh cinta, orang akan terjaga sepanjang malam, memandang matahari terbit, berpacu, meluncur cepat dengan ski menuruni tebing yang biasanya terlampau curam untuk kemampuan seseorang.

Cinta membuat kita menempuh resiko besar, yang kadang-kadang tidak dapat diatasi.

Doatella Marazitti, professor psikiatri di Universitas Pisa, Italia meneliti aspek biokimia pada penyakit cinta.Para peneliti telah lama membuat hipotesis, orang dengan gangguan obsesif-kompulsif (OCD) mengalami ketidak seimbangan Serotonin [pemancar syaraf].Kesimpulannya adalah; bahwa cinta dan gangguan [kejiwaan] obsesif-kompulsif bisa memiliki ciri kimiawi yang serupa.Artinya: Cinta dan gangguan jiwa mungkin sulit dibedakan.Artinya: Jangan jadi bodoh.

Thomas Lewis dari University of California membuat hipotesis, kita mencintai orang bukan semata karena masa depan yang kita harap dapat kita bangun tetapi karena masa lalu yang kita harap dapat kita raih kembali.Cinta bersifat reaktif, bukan proaktif dan membelokkan kita ke belakang, itu merupakan sebab kenapa seseorang tertentu ‘terasa cocok’ atau ‘terasa akrab’.Seseorang menjadi akrab bagi kita, karena ia memiliki rupa dan bau atau suara atau sentuhan yang membangkitkan kita pada memori yang terpendam.

Cinta segi tiga Rani Yuliani – Nasrudin – Antasari Ashar serta cinta yang ternista Monohara – Pangeran Negeri Kelantan, adalah berita cinta yang telah banyak di release oleh media infotainment. Belum lagi telah berapa banyak berita yang terexpose media dari para artis yang menyangkut perkara putus nyambung-putus nyambung tentang cinta. Berita cinta bagaikan ‘pasar’ bagi media infotainment, riuh rendah bahkan terkadang terkesan berisik.

Tak cukup sampai disitu, karena cinta telah berapa banyak puisi dan lagu yang tercipta karenanya. Dan semuanya tetap terasa enak, walau kadang terasa sendu bak kalbu teriris sembilu…waduuuh.

Di jagad politik ternyata cintapun tak pandang bulu menerpa. Presiden AS, Bill Clinton pun pernah merasakan ‘bara amukkannya’.Clinton kala itu mengalami ‘impeachment’ politik gara-gara skandalnya ‘bermain api’ cinta dengan pagawai magang gedung putih Monica Lawensky.

Perkara cinta ‘buta’ ini masuk agenda ke gedung Senat AS. Senat AS tersengat untuk melakukan impeachment, inilah pandangan dalam dunia politik tentang cinta; “ Seseorang [pemimpin] yang disinyalir tidak mencintai keluarganya, ada kencenderungan pemimpin itu juga tidak mencintai negaranya”…Clinton akhirnya selamat dari badai impeachment [inipun sudah jadi rahasia umum hanya sebagai kompromi politik semata].Namun disisi lain ironisnya, rakyatnya tak lagi mempercayainya…buah cerita cinta yang kejam.

Cinta itu mengolah ‘rasa’, tetapi cinta itu juga mengolah ‘logika’, lalu bagaimana sejatinya yang menjadi pilihan anda? Ini bukan [kisah] di Republik Cinta, ini kisah untuk mereka yang menjaga cintanya…Oh…jatuh cinta…berjuta rasanya…

Minggu, 16 Agustus 2009

KESETIAAN


Bagaimana orang-orang yang di baiat dengan kesetiaan? Lalu apakah kesetiaan itu akan selalu membutakan? Kalau umat manusia mereka ciderai, kemudian Tuhan pun mereka kianati apakah ini juga bagian dari kesetiaan itu? Kesetiaan selalu menuntut totalitas, ia meminta semuanya yang terang dari sisi hidup manusia maupun yang gelap dari hati setiap manusia yang memegang teguhnya.

Tidak ada alat ukur tentang kesetiaan warga negara terhadap Tanah Airnya, kesetiaan itu hanya butuh bukti dan pengorbanan. Ismail dengan kesadaran penuh, memenuhi permintaannya Ayahanda Nabi Ibrohim AS untuk disembelih – dikorbankan atas mimpi sebagai pentunjuk Allah. Kesetiaan adalah energi, dia menjadi senjata yang ampuh untuk sebuah pengorbanan.dia adalah bahan bakar [sepanjang masa] untuk digunakan mencapai tujuan yang memungkinkan [possible] ataupun tujuan yang tidak memungkinkan [mission impossible].

Kesetiaan tak berpamrih, ia tak tak berharap yang lain kecuali tujuan keyakinannya tercapai.apakah ia juga memperdulikan yang lain? Tentu saja tidak! Kesetian itu tunggal dan tidak bercabang. Ia sepertinya dilahirkan untuk sebuah ‘super ego’ yang besar yang tak hendak diduakan maupun diremehtemehkan. Ia menyelimuti dalam pekat dan menjadi kebenaran tunggal.

Ia pemecah keraguan yang ampuh, di dalam kesetiaan orang senantiasa bertumpu pada pikiran yang terpusatkan. Ia tidak mengenal ‘grey area’, dalam dogmanya kesetiaan adalah hitam-putih, baik-buruk, berhasil-gagal, langit-bumi, surga dan neraka. Di Dalam hanya ada kata Ya dan sulit untuk berkata tidak.

Sepasang manusia menikah atas nama kesetiaan
Seniman berkarya atas nama kesetiaan
Pahlawan berjuang atas nama kesetiaan
Atlet bertanding atas nama kesetiaan
Tentara berperang atas nama kesetiaan
Para bomber rela mati atas nama kesetiaan
Nabi Ibrohim menyembelih anaknya Ismail atas nama kesetiaan
Ibu mengasuh anak atas nama kesetiaan
Semua lelaki mencari nafkah atas nama kesetiaan.


Nyaris tidak ada sesuatupun di muka dunia ini dilakukan tidak mengunakan kesetiaan.Dengan begitu roda dunia terasa berputar.Kesetiaan tumpang tindih membakar ambisi, amarah, kesabaran, cinta kasih lebur menjadi satu didalamnya.Bukan dunia terasa ramai dengan kesetiaan. Dalam budaya pop kesetiaan bikin hidup lebih hidup.

Sebagai fenomena, Kesetiaan seakan berjalan dengan sendirinya, padahal tidak.Kesetiaan itu sistemik, dia berjalan mengunakan perangkat system yang solid, dia berpola secara metodis, bercengkrama dan bermetamorfosis secara sempurna.dia sangat fleksibel bersymbiosis dengan piranti yang lain, saling menciptakan ketergantungan, saling percaya yang kental dan saling menguntungkan satu sama lain.

Hanya satu yang ditabukan bagi mereka-mereka yang berada dalam gengaman kesetiaan yaitu apa yang dinamakan dengan logika. Mereka yang setia membangun logika ‘dalam’ nya sendiri.Tidak butuh referensi serta tidak butuh logika ‘luar’ pada umumnya.Sehingga kesetian itu tanpa logika ‘luar’ menjadi kian mengkristal, menjadi sesuatu yang solid dan bercahaya. Sementara ‘logika’ ‘luar’ bagi mereka adalah retorika [hanya sebatas wacana], logika ‘luar’ menjadikan mereka lemah dalam keraguan, mengaburkan pandangan jiwa serta tidak utuh sebagai persenyawaan hidup.

Artinya; di dunia yang fana ini, hanya sedikit orang dalam kesetiaan yang memakai logika ‘luar’ sebagai panggilan jiwa. Tidak ada alat ukur tentang kesetiaan juga tidak logika ‘luar’, kesetiaan itu hanya butuh bukti dan pengorbanan. Menjadi orang-orang yang ada dalam kesetiaan atau bukan, masing-masing dari kita telah memainkan logikanya sendiri baik logika ‘dalam’ maupun logika ‘luar’.

Kesetiaan ini…
Bukannya sandiwara
Berkorban untukmu
Walau akhir kecewa…[Pance F. Pondaag]

Senin, 10 Agustus 2009

MEREKA-MEREKA YANG 'PERGI'


“Kematian hanyalah tidur panjang,
maka bermimpi indahlah kau Camellia…”


Sepotong bait di atas merupakan pemaknaan yang dilakukan Ebiet tentang perpisahan antara nyawa dan raga. Perpisahan yang syahdu, mengharu biru namun membekaskan romantisme bagi mereka yang ditinggal pergi.Mereka-mereka yang pergi itu tak pernah kembali lagi, mereka abadi di sana, mereka hanya meninggalkan nama, mereka meninggal gading karyanya dan mereka meninggalkan belang perbuatan-tindak tanduknya. Sementara kita yang ditinggalkan berusaha menyimpan namanya [sebisa mungkin jauh di lubuk hati]. Kita juga berusaha menjadi pewaris karya [sebisa mungkin selalu menikmatinya]. Dan kita selalu berusaha melamunkan saat-saat bersama mereka [sebisa mungkin berdoa dan memaafkannya]

Kisah-kisah kepergian meninggalkan duniawi cukup banyak menginspirasi setiap kebudayaan di beberapa tempat di tanah air, hingga kinipun jejak-jejaknya masih bisa dilacak.Upacara adat Rambu Solo di Toraja, Gending Megatruh di Jawa, Upacara Tarik Batu di Sumba, Upacara Ngaben di Bali, Tahlilan di Tanah Melayu. Semua bentuk-bentuk upacara ritual itu ada dan dibuat berkaitan untuk memaknai sebuah kematian. Itulah kematian, peristiwa alam yang selalu dimaknai dalam setiap kebudayaan umat manusia.Tidak ada yang bisa menolak dan tidak ada yang bisa menghindarinya.

Mereka yang Pergi dalam Perjalanan.

Secara pribadi saya tidak kenal Mbah Surip, lagunya ‘tak gendong’ rasanya memang enak untuk didengar; ringan, kocak, tidak bertele-tele dan cukup menghibur.Nyaris tiga bulan sebelum beliau meninggal [dari medio Juni s/d Agustus] siapa sich yang tidak bisa menyanyikan lagu ini? Semua pasti bisa, tidak harus pada posisi menyanyikan karena suka apalagi ‘jatuh hati’, rasanya kita menyanyikan lagu ini dalam kategori ‘enak’ saja.

Mbah Surip pun menjadi demikian populer. Kita sudah bisa mengakses kehidupan pribadinya atau setidaknya melonggok gossip si Mbah.Soal gossip ini merupakan salah ciri [industri] ketika seseorang sudah mulai dikenal oleh khalayak. Kita melihat si Mbah dengan rambut gimbal ala rasta, tertawanya yang ‘khas’ dan renyah serta kalimat I Love you Full diucap dimana-mana.

Hanya tiga bulan, kita ‘akrab’ dengan sosok si Mbah, tapi bagi mereka yang pernah dekat dengan kehidupan si Mbah, sungguh tiga bulan ini terlalu singkat. Kalau memang sudah dari tahun 85’ Mbah merantau ke Jakarta, maka perjalanan [karier] sekitar 25 tahun justru kita tak tahu rimbanya.Setiap karya membawa dan memiliki nasibnya sendiri-sendiri.Bisa saja lagu ‘Tak Gendong’ merupakan bahasa ‘khas’ perjalanan, lagu itu mengemban pengalaman yang mencipta dan lagu itu mengekspresikan perjalanan yang empunya.

Waktu adalah segalanya.Waktu jua yang mempertemukan kita dengan karyanya dan waktu jua yang memisahkan kita dengan si Mbah. Mungkin kita belum mengenal betul liku dan terjal perjalanan si Mbah dengan karyanya, tetapi si Mbah tampaknya hanya pasrah, karena waktu tak memungkinkannya meneruskan perjalananannya.

Sekali berarti, sesudah itu mati…[Chairil Anwar]
Catatan tanggal 4 Agustus 09.


Mereka yang Pergi dalam Pesona Alam.

Inilah si Burung Merak yang penuh pesona itu.Warna bulun ‘karya’ nya pun bertabur mahligai cahaya menebar di tanah air.Rendra merupakan ‘orang besar’ di Republik ini. Perjuangannya besar, karya-karyanya besar, dan jejaknya pun mengukir jalan besar dunia kesusastraan Indonesia.

Tidak ada yang meragukan konsistensi Mas Willy dalam berkesenian.Dedikasinya menakjubkan, spirit idealismenya memungkinnya untuk menjadikan kesenian adalah pilihan dalam jalan hidupnya.

Ketika masih menjadi mahasiswa di sekolah kesenian, saya melihat mereka orang-orang besar seperti Mas Willy ini adalah batu karang yang tegar.Mereka sudah menjadi dirinya sendiri bukan karena ‘karbitan’ tetapi mereka menjadi ‘besar’ karena daya tahan ‘perjuangan’ mereka dari tekanan ‘ekonomi dan politik’ yang juga besar. Menyimak Mas Willy membaca puisi laksana melihat alam membentang makna kehidupan, lalu bergemuruh menjadi samudera ilmu pengetahuan.

Mas Willy mewakafkan pada mahasiswa-mahasiswa ‘kecil’ kesenian itu adalah penyadaran diri untuk menjadi dan mengerti ‘diri sendiri’.

Karena kami arus kali
Dan kamu batu tanpa hati
Maka air akan mengikis batu
…[Rendra, Sajak Orang Kepanasan]
Catatan tanggal 7 Agustus 09.


Mereka yang Pergi dalam Kemurkaan/Kemarahan.

Siapa jasad yang tergeletak, terhunus peluru dan pecahan mesiu di Temanggung itu? Kita hanya bisa tersentak, lalu Negara ini kembali seperti sedia kala meninabobokan kita dalam ketidak pastian. Semua diantara kita pasti merindukan kedamaian, untuk kita bisa bekerja, kumpul di tengah keluarga, melihat anak-anak bermain serta merenung mengendapkan kehidupan.

Bagaimana pun sampai detik ini saya tidak mengerti, orang-orang menjalankan kehidupan dengan rasa marah dan dendam serta berusaha menghancurkan orang-orang lain yang dianggap berseberangan?! Mereka mengambil apa yang mereka mau. Mereka tidak peduli kasih sayang dan cinta kesesama manusia lainnya.

Kematian yang menyakitkan seperti menantang ‘maut’ sebelum waktunya. Orang-orang yang ‘mati’ dalam kemarahan yang belum usai; masih ada dendam di hatinya; masih ada kebiadaban yang menyumbat pikirannya serta sejuta sumpah serapah mengiringi kepergiannya.

Saya terbayang kepada orang-orang yang ditinggalkan, pastilah masih ada ‘luka’ yang terus tergores, masih ada api dendam yang tak padam serta rasa ‘malu’ menanggung cibiran sosial.

Hai Nafsun Mutma’innah… bagaimana kami akan melamunkan saat-saat bersama mu? Lalu dengan apa kami berdoa dan memaafkan mu?

Mereka-mereka yang pergi itu tak pernah kembali lagi.

Dunia segara duka
Tiada cinta selama muda
Derita rama remaja
Susah sepah tersia-sia
…[Amir Hamzah, Pada Senja]
Catatan tanggal 8 Agustus 09.

Minggu, 09 Agustus 2009

MERANTAU


Ada sebuah anekdot, bahwa ketika Neil Amstrong mendarat di Bulan bersama Apallo 11, dia sangat terkejut mendapati orang Minangkabau/Padang sudah lebih duluan sampai di sana untuk membuka rumah makan Padang. Orang Minang memang terkenal karena memiliki budaya merantau. Suatu budaya yang hanya dimiliki oleh suku bangsa tertentu saja di Indonesia. Selain suku bangsa Minangkabau, etnis yang juga mempunyai budaya merantau adalah Bugis, Banjar, Batak, sebagian orang Pantai Utara Jawa dan Madura.

Menurut Sosiolog Mochtar Naim dalam bukunya Merantau,Pola Migrasi Suku Minangkabau begini: Melembaganya tradisi merantau dalam sistem sosial Minangkabau adalah efek dari sistem sosial yang tidak memberi "tempat" kaum laki-laki, dengan posisi
yang lemah, baik di rumah ibunya maupun di rumah istrinya. Harta tidak diwariskan kepada laki-laki. Di rumah ibunya laki-laki tidak mempunyai kamar, sedangkan di rumah istri ia hanya boleh datang di malam hari.

Dengan posisi yang tidak mapan, sistem sosial budaya memberi legitimasi bahwa yang di rumah itu (yang di kampung) adalah kaum perempuan, bahwa laki-laki baru menjadi laki-laki hanya dengan cara merantau. Hal itu sebagai suatu inisiasi menuju kedewasaan laki-laki, kewajiban sosial yang dipikulnya sebagai laki-laki; mencari harta, ilmu, dan pengalaman.Karena bertentangan dengan dorongan hasrat untuk berkuasa, memiliki, menetap, dan tidak mau berpisah. Kalau dia kalah dalam konflik itu, maka ia tidak akan jadi dewasa.

Inti dari merantau adalah kemampuan untuk memisahkan diri dari sesuatu yang disayangi untuk mematangkan diri, untuk jadi manusia (jadi orang), untuk menemukan jati dirinya. Kondisi sebagai perantau membuat orang harus bekerja keras, mencintai pekerjaan, mempunyai perencanaan hidup, menghargai waktu, berani menanggung risiko, jujur dan punya rasa tanggung jawab tinggi, menghormati hukum, hormat pada hak orang dan menjunjung tinggi sopan santun.

Jadi budaya Merantau orang Minang adalah Sesuatu yang menunjukkan bahwa ia datang dari budaya ibu, budaya matrilineal, system kekerabatan yang menganut garis Ibu. Kata seperti itu tidak akan sanggup diucapkan oleh seorang ibu bertradisi patrilineal. Karena, siapakah yang mau berpisah dengan anaknya. Apalagi anak kesayangan. Tradisi matrilineal menghadirkan cinta kasih sayang yang berbeda dengan patrilineal.

Merantau melahirkan budaya mudik dan itu terjadi setiap tahun sekali. Sebelum lebaran para perantau berbondong-bondong mudik ke kampung halamanya. Entahlah kebiasaan itu sejak kapan terjadi, yang pasti nenek moyang kitalah yang memberikan warisan budaya tersebut, yang begitu kental dengan ciri khas Indonesia.

Tulisan ini banyak sedikit ditulis karena terinspirasi setelah menonton film MERANTAU. Film Indonesia dengan budaya Merantau orang Minang dan pencak silat harimau, yang dibuat Sineas Inggris.

Di Tepinya Kali Cikeas


Harian Kompas Minggu 9 Agustus 2009 memuat berita berjudul Bom Di tepi Kali Cikeas. Perincian kalimatnya begini, Rumah yang dihuni jaringan teroris di Blok D 12 itu terletak di tepi jalan paling belakang di Perum Puri Nusa Phala, yang langsung berhadapan dengan tembok pembatas kompleks perumahan. Di seberang tembok setinggi 1,5 meter itu mengalir Kali Cikeas yang dikepung oleh semak belukar yang cukup luas.

Tidak penting benar membahas soal kali Cikeas di banding dengan membicarakan soal penangkapan terorisme saat ini. Karena memang kali Cikeas tidak terkenal sama sekali kecuali sebagai sebuah sungai yang berhulu dari Bogor dan kemudian bertemu dengan kali Cilengsi dan membentuk Kali Bekasi yang bermuara di Muara Gembong dan ikut jadi penyumbang banjir di Bekasi (karena kebetulan di lewati aliran saja). Saat musim hujan dan ancaman banjir datang, Kali Cikeas menjadi terkenal tapi kali ini kali Cikeas menjadi ikut-ikutan di sebut karena di tepinya, dibatasi dengan tembok, di Perumahan Nusa Phala terdapat ‘sarang teroris’.

Kali Cikeas juga tidak pernah di sebut-sebut saat orang dan media membicarakan Presiden SBY. Hanya karena sang presiden berumah di Puri Cikeas, maka Cikeas menjadi terkenal, tapi tidak KALI-nya. Cikeas adalah sebuah desa yang masuk wilayah kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Kurang lebih 5 Km dari Jalan Trans Yogi Cibubur. Tapi untuk ke Jakarta, jauh lebih nyaman dan bebas macet ke arah tol Gunung Putri, masuk tol Jagorawi. Cikeas menjadi terkenal setelah SBY menjadi Presiden Republik Indonesia. Prinsip ekonomi pun berlaku dengan segera. Harga tanah melonjak tinggi (membuat orang kampung berbondong-bondong menjual tanahnya), Perumahan-perumahan baru dibangun dengan segala promosi tiap akhir pekan di televisi (iklannya begini: segeralah hubungi marketing kami karena besok harga naik!), padahal minggu depan seperti itu lafgi iklan tayangannya. Semua sedang bergegas di Cikeas dan segala rencana bisnis sedang dirancang oleh orang-orang yang yang menginginkan keuntungan besar dari kepopuleran seorang Presiden.

Tapi di mana posisi Kali Cikeas? Sama sekali tidak penting di bahas karena banyak hal yang lebih penting, yaitu teroris dan bom. Tapi setidak-tidaknya, untuk sekali ini Kali Cikeas di sebut-sebut meski lagi-lagi tidak terlalu menyenangkan karena di hubungkan dengan BOM. Saya juga tidak yakin, Kali Cikeas akan memberikan inspirasi bagi musisi untuk membuat lagu berjudul Di Tepinya Kali Cikeas, sebagaimana lagu Bengawan Solo dan Di Tepinya Sungai Serayu. (JS)

Drama Visual Pengepungan Teroris; Newstainment & Media Hipnotisme Massa.


Setelah kegagalan mendatangkan club sepak bola raksasa dari Inggris Mancherster United, tayangan Pengepungan Teroris di Temanggung sepanjang sabtu [08/08] nyaris merupakan tayangan yang sangat ditunggu di kalangan masyarakat. Tayangan Televisi yang nyaris sepanjang 24 jam ini menjadi pengobat rindu masyarakat dari hiruk pikuk sinetron, gossip artis, tayangan politik dalam pileg dan pilpres serta dari persoalan keseharian dikaitkan dengan harga sembako yang kian beranjak naik.

[Kembali] melalui media Televisi, masyarakat tersentak oleh ulah teroris dengan ledakan di hotel JW Marriott dan Ritz Carlton.Ledakan Bom ini dianggap sikap lalai Polisi yang begitu konsentrasi dengan pengamanan Pemilu hingga lengah melacak jejak para teroris.Selanjutnya seakan Polisi melakukan pelacakan dari nol lagi terhadap teroris. Ada kesan yang lambat dan meragukan dengan operasi penyebaran foto di seantero wilayah pengaman Polisi di tanah Air.Pertanyaan besarnya adalah ‘Bagaimana polisi menyuruh masyarakat tahu kalau polisinya sendiri tidak tahu?’

Hingga Jum’at sore breaking news di televisi, harapan dari masyarakat seakan bergairah kembali.Dalam tayangan itu seorang atau beberapa orang telah terkepung oleh Polisi di sebuah rumah. Dalam rasa penasaran masyarakat menunggu, bertumpu, dan tidak hanya ingin melihat tapi ingin pula menjadi saksi atas kematian orang no. 1 yang dicari oleh Negara ini.tapi kapankah itu? Dalam waktu yang nyaris bersamaan, Polisipun meringkus kelompok teroris di Jati Asih dengan ratusan kilo materi yang telah disiapkan untuk Bom.

Tindakan operasi di lapangan selalu tidak dilapisi tindakan komunikasi massa sebagai barrier dan filterisasi informasi untuk masyarakat. Dalam tayangan Temanggung, Bagaimana mungkin bisa dibiar masyarakat mengkonsumsi segala bentuk informasi yang ditayangkan non stop media elektronik tanpa ada ‘klarifikasi’ dari pihak terkait dalam hal ini polisi.adalah sangat ‘pas’ menurut saya sekitar jam 10 an, Kapolda Metro Jaya – Irjen Pol Wahono, memberikan statement resmi di Jati Asih, dari statement ini setidaknya opini public dari media telah di suplay informasi yang ‘proporsional’ [sesuai dengan perkembangan dan hasil temuan terkini] berkaitan dengan klarifikasi.
Conference Pers yang di gelar Kapolri sekitar sabtu jam 17.30 sore, merupakan bentang waktu yang panjang [dan melelahkan bagi masyarakat dalam penantian kepastian informasi] untuk mencegah media berspekulasi tentang tersangka teroris tersebut adalah Noordin M top.Bahkan media on line di luar negeri telah me-releas bahwa teroris tersebut Noordin yang telah diperkirakan telah tewas pada Jum’at sore.Di tengah masyarakat yang lelah dan informasi yang bergulir adalah sebuah ketidak pastian, ini sama halnya membiarkan peristiwa penting menjadi limbah informasi yang sia-sia.

Conference pers yang ditunggu ini ternyata tidak cukup melegakan, dengan kesan sangat hati-hati Kapolri berulang kali memakai kata landasan yuridis formal terhadap segala bentuk tindakan yang dilakukan Polisi.Tapi apakah mayat tersangka teroris tersebut adalah Noordin, jawabannya “polisi belum berani memastikan, harus melakukan test DNA dahulu”.Dengan informasi yang ‘pas’ seharusnya polisi juga bisa membuat masyarakat juga ikut ‘cerdas’. ‘Cerdas’ dalam artian persoalan terorisme dan keamanan pada umumnya bukan hanya jadi tugas dan tanggung jawab Polisi saja, tetapi masyarakatpun bisa ikut berpastisipasi untuk berperan dalam penanganan masalah keamanan secara umum.
Secara pribadi bagi saya, operasi penyebaran foto seandainya bisa didesaign lebih baik lagi hasil adalah masyarakat tidak hanya disuruh mengenali lalu melaporkan siapa yang mencurigakan, melainkan pada satu sisi dengan memberikan stimulus informasi serta tindakan komunikasi massa yang benar hasil yang efektif yang [mungkin] bisa didapat adalah proses penyadaran masyarakat untuk melakukan proses identifikasi musuh nomer satu Negara ini atau siapa yang menjadi “Public Enemy”. Dalam hal ini partanyaan adalah “bagaimana polisi berhubungan dengan masyarakat-nya?”

Saya menyakini betul bahwa setiap tindakan operasi yang dilakukan oleh pihak Kepolisian bentuknya tidaklah tunggal. Lazimnya sebuah operasi pastilah sudah didasari oleh sebuah operasi intelejen secara internal, yang menjadi tugas Polisi berikutnya dalam era yang serba terbuka dan dengan system jurnalistik media yang juga bertambah modern , sebenarnya tidak ada lagi [kurang pas] untuk mengistilahkan tindakan sebuah operasi adalah sebuah tindakan operasi tertutup.Dimana polisi berada disitu ada media, diundang atau tidak mereka [baca; media] pastilah ada. Dalam hal ini partanyaan adalah “bagaimana polisi berhubungan dengan media-nya?”

Lebih dari cukup rasanya bangsa ini telah berdo’a untuk Polisi. Harapan yang begitu besar pada Polisi, rasa bangga dan decak kagum pada polisi, sekali lagi melalui media TV dalam perjalanan panjang Polisi, media selalu menempatkan Polisi dengan ‘citra sesaat’. “Citra sesaat’ ini seperti pengobat rindu, mengembalikan ‘mimpi’ bangsa ini akan hadirnya sosok lembaga Kepolisian yang Profesional, Modern dan Bekerja/hadir untuk masyarakat.

Sebagai awam saya selalu tergelitik, mengapa citra [yang] sesaat ini tidak bisa menjadi citra [yang] melekat? Dalam hal ini [mungkin] partanyaan adalah “bagaimana polisi berhubungan dengan masyarakat dan media-nya?”
Sekalipun MU ‘gagal’ bermain di Indonesia, saya masih yakin MU adalah tim yang besar. Begitu juga, sekalipun POLRI mendapat ‘citar sesaat’ kali ini, saya masih yakin POLRI adalah masih yang terbaik di negeri ini.Amien.

Agust 9, 2009-Lianto Luseno.

Kamis, 12 Februari 2009

“Pasar Apung – Sungai Barito” – Banjarmasin 1.


Secara kewilayahan jika kita melihat Propinsi Kalimantan Selatan di atlas nasional, maka kita akan mendapati bahwa propinsi ini memiliki wilayah terkecil dibandingkan dengan tiga propinsi lain di Kalimantan.Anehnya lagi kalau kita cermati plat nomor polisi untuk kendaraan, maka daerah ini memiliki kode DA. Sementara propinsi di Kalimantan yang lain memiliki nomor polisi KB [untuk Kalimantan Barat], KH [untuk Kalimanatan Tengah] dan KT [untuk Kalimantan Timur].

Dalam satu perjalanan dengan seorang sopir, dia mengatakan bahwa sudah ‘pas’ kenapa Kalimantan Selatan diberi plat nomor DA, karena menurur si sopir ini DA merupakan singkatan dari “Daerah Air”.Di sepanjang perjalanan saya terus memikirkan, tetapi bagi saya ini merupakan candaan yang sangat bisa dibuktikan.Melalui perjalanan darat saja, di dalam kota Banjarmasin sendiri banyak sekali perlintasan sungai, sehingga mobil yang saya naiki banyak juga melintasi jembatan.

Sungai utama yang menjadi ‘nadi’ di Kalimantan Selatan adalah sungai Barito. Bahkan propinsi ini memiliki jembatan terpanjang [konon di Asia Tenggara] yaitu Jembatan Barito.Jembatan megah yang melintasi sungai Barito yang menghubungkan propinsi Kal-Sel dengan Propinsi Kal-Teng di jalan trans Kalimantan.Tidak salah memang kalau menjuluki Kota Banjarmasin ini sebagai kota seribu sungai dan tentu saja kota seribu jembatan.

Barito memang nafas kehidupan air di Kalimantan Selatan.Sungai ini menjadi jalur utama transportasi dan sungai ini pula menjadi pusat perdagangan. Sebagai bagian dari usaha perdagangan, di salah satu anak sungainya yaitu sungai Kuin dikenal sebuah pasar dengan nama Pasar Terapung [baca – Apung].Pasar ini berada [terapung] di atas air.Jangan merasa aneh dulu, pasar ini terapung di air karena pedagang dan pembelinya pun mengunakan ‘klotok’ [baca – perahu] untuk melakukan transaksi dagang. Walau mungkin tidak biasa bagi kita, perdagangan terapung yang diprakarsai suku Banjar ini memang mengunakan ‘sungai’ sebagai titik temu.

Suku Banjar adalah suku asli yang juga merupakan penduduk Kalimantan Selatan terbesar.Ada tiga kelompok dalam suku Banjar yaitu; Banjar Kuala, Banjar Pahukuan dan Banjar Batang Banyu. Dan rata-rata dari mereka sangat dominan dalam bidang perdagangan.Sebagai daerah air, untuk urusan perdagangan ini memungkinkan saja ada pengaruh dari utusan kerajaan Majapahit serta pedagang-pedagang Arab dan Persia yang menjelajah dan singgah di kota Banjarmasin.


Ada satu yang khas yang harus dicoba kalau pergi ke pasar apung, yaitu cobalah makan soto Banjar di atas klotok. Rasa sotonya nggak kalah dengan soto Banjar yang ada di daratan. Namun yang membedakannya adalah cara makannya yang di atas perahu itu, selain soto yang hangat ini harus segera disantap, dengan makan yang sedikit cepat anda sudah berupaya mengantisipasi ‘goncangan’ gelombang air sungai yang memungkinkan soto anda bisa tumpah.

Meski banyak kabut, karena memang pasar apung ini adanya hanya di subuh hingga pagi hari,saya tak berhenti menghayalkan jalur-jalur sungai yang ada di Banjarmasin ini menjadi kehidupan pariwisata yang nyata. Kalau dilihat dari kartu-kartu pos tentang wisata sungai di Venesia – Italia dengan perahu Gondola, alangkah eloknya pemandangan sungai di sana.Bahkan orang Belanda di Amsterdam memanfaatkan anak-anak sungai [baca – kanaal] juga sebagai ajang wisata air dengan ‘bis’ airnya.

Saya jadi membayangkan juga, hampir sebagian besar kota-kota tua di Kalimantan senantiasa di bangun di tepian sungai. Bagi saya ini jelas merupakan indikasi bahwa sungai telah menjadi bagian kehidupan dalam bentuk apapun [entah pusat pemerintahan, daerah hunian hingga pusat perdagangan]. Sayang mungkin, cerita-cerita ini kelak hanya akan jadi referensi sejarah saja. Kita yang kini telah mengalihkan segala bentuk bangunan dengan kepentingan apapun jauh menjorok ke dalam menuju daratan.

Sungai-sungai hanya menjadi legenda, daratan kota Banjarmasin termasuk kota dengan tatanan yang agak semerawut.Karena semua aktifitas terpusat pada kehidupan di daratan saja, kini nasib kehidupan sungai menjadi terbelakang.Sungai yang merupakan sumber kehidupan, kini kian kotor, menjadi daerah belakang karena hanya untuk saluran pembuangan saja.

Dengan klotok yang bergoyang-goyang di atas sungai, ketika hendak mengakhiri perjalanan menuju ‘daratan’, saya tetap menghayalkan; kalau pasar apung saja sudah bisa memberikan warna kehidupan sungai Barito, lalu kapan pasar apung menjadi super market apung yang dalam bayangan saya tentulah akan memberi dampak kehidupan yang lebih besar lagi.

Saya sedang tidak mabuk perjalanan di atas sungai, bayangan ini murni sebuah khayalan semata...[11/02/09]

Selasa, 10 Februari 2009

“Cerita dari Blora” – Blora 1.


Secara nasional Blora tidaklah begitu ‘populer’. Namun bagi kalangan penggemar sastra jauh-jauh hari sebelum reformasi, pastilah sudah mengenal atau setidak-tidaknya mengimajinasikan nama Blora. Seorang penulis legendaris nasional yang bernama Pramudya Anantatoer-lah yang menulis novel “Cerita dari Blora”. Pak Pram sendiri lahir di Blora, wajarlah kalau beliau begitu kenal dan detail mendiskripsikan Blora sebagai kota kelahirannya di decade tahun 40an itu dalam novelnya.

Blora sebagaimana kota kabupaten lainnya di Jawa, sebenarnya tidaklah terlalu ramai. Hampir sama dengan prototype kota-kota di jawa yang mendasarnya tata kota [kunonya] berdasarkan system ‘mocopat’ [baca – empat system pemerintahan]. Menurut pendapat pribadi saya, sistem ini sangat erat hubunganya sebagai bagian dari pengaruh kerajaaan besar yang berkuasa di Tanah Jawa [Majapahit, Mataram, Singosari, Demak, Pajang, dsb].

Yang paling mendasar dari system ini yaitu: kota selalu dibangun dari titik tengah [baca – zero point] kewilayahan, yang selalu ditandai dengan berdirinya Alun-Alun. Alun-alun adalah sebuah lapangan besar, dengan dua pohon beringin ditengah-tengahnya, yang dari dahulu digunakan sebagai tempat berkumpulnya rakyat atau tempat penyelenggaraan acara-acara dari penguasanya. Jadi tidak heran, Alun-Alun juga bagi kebanyakan rakyat biasa dikenal sebagai symbol dari kekuasaan.

Di sekitar atau di sekeliling Alun-Alun barulah akan terlihat tata kota ‘mocopat’-nya. Yaitu terdiri dari: Pendopo Kabupaten, Masjid, Penjara dan Pasar.Yang pertama tentang Pendopo Kabupaten. Asumsinya adalah Pendopo Kabupaten merupakan pusat pemerintahan dimana pemimpin daerah tertinggi dalam hal ini Bupati, tinggal di Pendopo Kabupaten dan menjalankan pemerintahannya. Sehingga, Pendopo Kabupaten adalah ‘poros pusat’ [baca – sentralisasi] dari semua aktifitas pemerintah dan rakyat. Tempat ini digambarkan sebagai sesuatu yang ‘megah’ dan juga ‘angker’ [bukan karena banyak hantunya, tetapi angker yang menyangkut wibawa dari pemerintahan atau Bupati yang berkuasa]. Intinya, jangan sampai sembaranganlah di atau dengan kabupaten.

Yang kedua, seperti pada struktur jabatan di kesultanan di Jawa, mereka yang menjadi pemimpin juga menyandang jabatan rangkap untuk mengemban fungsi sebagai ‘Sayidin Panoto Gomo’.Selain berkuasa pada tapuk pemerintahan, pemimpin-pemimpin ini merupakan ‘Duta’ agama yang berkewajiban menjalankan syariat-syariat agama untuk diri pribadinya dan juga menerapkan syariat-syariat agama tersebut dalam kehidupan rakyatnya. Jadi untuk menjalankan misi keagamaanya inilah, dibangun Masjid sebagai symbol bahwa pemerintahan yang berjalan juga menjalankan syariat-syariat keagamaan.

Yang ketiga adalah Penjara. Penjara ini adalah sosok bangunan yang dalam kontek besar kekuasaan adalah sebagai symbol dari penegakan ‘hukum’ atas nama keadilan oleh pemerintahan yang berkuasa. Dahulu, kasus-kasus penjahat rakyat [baca – begal, maling, rampok, dsb], musuh-musuh kerajaan/pemerintahan atau orang dan sekelompok orang yang ‘mbalelo’ terhadap pemerintahan yang berkuasa, ya di penjara ini tempatnya! Namun bagi rakyat kebanyakan, penjara menjadi symbol dari kekuasaan yang ‘absolut’! anda bisa bayangkan dalam system peradilan kerajaaan dahulu, maka ‘sabdho pandhito ratu’ [baca – apa yang di ucapkan raja], itulah ‘kebenaran’. Jadi jangan berharap akan ada ‘pengacara’ pendamping dan meminta ‘banding’ hukum dengan sang raja!

Yang keempat bagian yang cukup penting adalah Pasar. Pasar inilah yang menjadi symbol perniagaan dan menjadi status ‘ekonomi’ dari pemerintahan yang berkuasa. Secara ekonomi idiom pasar adalah tempat terjadinya transaksi dagang antara pembeli dan penjual, lalu dahulu secara pemerintahan apa yang menjadi fungsi ‘pasar’? Bagi pemerintah yang berkuasa ‘pasar’ adalah bagian dari ‘kontrol’ kekuasaan pada bidang ekonomi. Kalau pasarnya stabil maka ekonominya baik dan rakyat akan ‘tenang’. Sebaliknya, apabila pasar mengalami ‘gejolak’ diluar control, ini disinyalir akan berbahaya bagi kestabilan ekonomi dan rakyat pasti juga akan ‘tidak tenang’ dan ini akan mengancam kewibawaan pemerintah yang berkuasa!

Walaupun secara fisik jejak arsitekturnya masih nampak, rasanya sekarang ini bayangan jejak-jejak symbolisnya tak kunjung menghilang. Walau pemerintahan ini disebut ‘Republik’, cara berkuasanya tetap dibayang-bayangi oleh system ‘kerajaan’. Kita masih melihat system sentralisasi yang kental, dimana Undang-undang Otonomi Daerah sudah dibuat. Dalam hal keagamaan sekarang ini, bias antara kepentingan kekuasaan yang menunggangi keagamaan. Kita juga berjibaku [baca – berjuang habis-habisan] untuk mencari keadilan dalan system peradilan modern dimana lembaga Yudikatif kita masih semena-mena bak seorang raja dalam menegakkan keadilan.

Sementara dalam system pasar kita nyaris tergilas oleh kepentingan-kepentingan global. Dengan begitu Pasar bukan hanya soal naik-turunnya satu komoditas saja, akan tetapi pasar tentulah sangat komplek karena disana ada urusan ‘perut’ yang harus disejaterahkan...[9/02/09].

Selasa, 03 Februari 2009

“Surga di Ujung Timur [Indonesia]” – Maluku Utara.


Era tahun 90an ketika Pak Harmoko menjabat sebagai Menteri Penerangan Orde Baru, dalam kancah panggung nasional muncul kepermukaan seorang penyanyi yang sekaligus komedian yang bernama Dorce dengan embel-embel Gamalama. Sebagai entertainer sungguh luar biasa, suaranya bisa menyanyikan lagu apa saja mulai dari pop, dang dut, keroncong, rock semua bisa dilahapnya. Dorce ternyata pernah menjadi laki-laki yang kemudian berubah menjadi wanita [baca - setidaknya kewanita-wanitaan], bahkan pernah menunaikan ibadah haji.Tetapi siapakah ‘Gamalama’?

Tahun 96 saya baru tahu ada daerah di Indonesia yang bernama Tobelo. Nama daerah ini saya ketahuai dari sebuah etnographic film yang berjudul “Tobelo Marriage”. Film ini di buat oleh dosen saya di Leiden University bapak Dirk Njland pada dekade 80-an. Film ini menceritakan kisah cinta melibatkan dua pasangan muda mudi dari daerah Tobelo dan Galela.Seperti kebanyakan film ethnographic, maka film inipun sangat detail mendiskripsikan kondisi geografis, kehidupan keseharian masyarakat, adat istiadat setempat serta nilai-nilai leluhur yang dianut. Tetapi dimanakah Tobelo?

Tahun 2000 Bank Indonesia menerbitkan uang pecahan senilai Rp. 1000,- yang bergambar depan Pahlawan nasional kapitan Pattimura dan bergambar belakang Pulau Maitara dan Pulau Tidore. Setiap orang rasanya, mulai dari anak-anak smapai orang dewasa tentulah pernah memegang uang kertas seribu rupiah ini, uang receh bagi orang dewasa dan menjadi uang jajan bagi anak-anak. Uang ini saya pikir sangat popular [hingga kini]. Tetapi dimanakah Pulau Maitara?

Dalam atlas Indonesia dan dunia, dijelaskan Gamalama adalah nama sebuah Gunung Api yang terletak di Pulau Ternate, sementara Tobelo adalah nama salah satu daerah yang terletak di Pulau Halmahera [utara], sedangkan Pulau Maitara terletak antara Pulau Ternate dan Pulau Tidore. Dan Anda tahu, ternyata semua itu sekarang berada disatu provinsi yang sama yaitu provinsi Maluku Utara, setelah pemekaran dari propinsi induk Maluku.

Dalam catatan sejarah nasional, daerah-daerah ini ternyata bukanlah daerah baru.Kesultanan Ternate, Kesultanan Tidore, serta Kesultanan Jailolo [Halmahera Utara] adalah kerajaan yang menguasai perdagangan rempah di Maluku – Perairan Timur Nusantara. Tiga Kesultanan inilah yang diyakini juga sebagai pintu gerbang masuknya syiar Islam di wilayah timur. Dalam hal perdagangan, ketiga kesultanan ini bersaing keras dan juga melakukan peperangan dengan kapal dagang Portugis.

Pada Perang Dunia II, wilayah Maluku Utara juga menjadi daerah basis sekutu untuk melumpuhkan Jepang.Di bawah komando Jenderal Dauglas Mc. Artur, Pulau Morotai manjadi base camp pertahanan udara dengan menjadikan Morotai sebagai landasan udara pesawat-pesawat sekutu. Dalam bukti fisik yang pernah tercatat, Morotoi dikenal dengan ‘Landasan Pitu (7)’. Tujuh track landasan pacu pesawat! Anda bisa membayangkan betapa sibuknya landasan ini!

Kini Morotai baru menjadi daerah kecamatan dari rencana sebagai daerah kabupaten pemekaran.Morotai sebagai kecamatan yang sangat sederhana, berbeda dalam hingar bingar catatan sejarah. Landasan Pitu kini secara operasional merupakan milik AURI. Sementara bangkai-bangkai besi bekas pertempuran telah ludes menjadi besi tua rongsokan yang konon menjadi bisnis ‘orang Jakarta’?!

Tahun 2004 saya berkesempatan menginjakkan kaki ke Ternate dan sekitarnya. Saya ikut bermain ‘Bamboo Gila’.Sebuah batang bambu yang setelah dijampi-jampi, akhirnya memiliki kekuatan ‘magis’ yang membuat pemegangnya pontang-panting terbawa kekuatan sang bamboo.Hanya perasaan senang disamping rasa lelah dan keringat yang bercucuran memainkan ‘mainan’ ini. Tapi kekuatan ‘magis’ bamboo gila sepertinya tak lenyap begitu saja di daratan Maluku Utara.Setelah ‘kisruh’ Pilkada Gubernur yang berlarut-larut, Tobelo dan Galela juga terseret konflik etnis yang berkelanjutan. Banyak desa yang terbakar dan banyak pengungsi yang masih ‘trauma’.Kesadaran politik dan kesadaran Berbangsa, hilang begitu saja rasanya, seperti hilangnya logika dipermainkan bamboo gila.

Kisah-kisah politik di Maluku Utara, berbanding terbalik dengan kondisi alamnya yang memang seperti surga. Batu akik dari Pulau Bacan dan ikan tuna yang melimpah untuk di ekspor ke Jepang. Serta Gugusan pulau-pulau kecil yang berpantai pasir putih [Pulau Gurauci], terumbu karang dan lautnya yang biru. Dari lereng Gunung Gamalama, saya melihat Ternate sebagai semenanjung pesisir yang sangat elok, berpagar Pulau Tidore dan Halmahera. Dari Pulau Tidore saya melihat Pulau Ternate yang gagah berlindung Gunung Gamalama. Semuanya melengkapi indahnya Surga di Ujung Timur [Indonesia].

Ada sebuah pertanyaan dalam rasa penasaran saya yang tak hilang –hingga tulisan ini saya turunkan, “mengapa Dorce mengambil Gunung Gamalama untuk namanya?”...semoga saja bukan karena efek bamboo gila.[01/02/09]

Minggu, 01 Februari 2009

HARIMAU LEMBAH HARAU – PAYAKUMBUH -1


Hampir di seluruh pelosok Nusantara, mitos atau legenda hidup dengan suburnya dan menjadi ciri khas daerah tersebut. Banyak yang tidak masuk akal dan sepertinya hanya sebuah dongeng pengantar tidur anak-anak. Tapi begitulah sifat mitos atau legenda. Soal benar dan salah menjadi urusan kesekian. Termasuk legenda Harimau Lembah Harau di Payakumbuh, kabupaten Lima Puluh Koto, Sumatera Barat, yang terkenal dengan sebutan kota Batiah. Batiah sendiri sebuah makanan semacam rengginang.

Lembah Harau berjarak sekitar sepuluh kilo dari pusat kota Payakumbuh. Lembah Harau sendiri mempunyai sejarahnya sendiri, meskipun lebih kepada semacam legenda juga. Menurut hikayat, dulunya di atas tebing berdiri sebuah kerajaan. Sedangkan lembahnya merupakan lautan. Suatu hari, putri kerajaan memilih terjun ke laut karena tak diizinkan menikah dengan lelaki yang disukainya. Sang raja lalu memerintahkan rakyatnya mencari jasad sang putri. Namun hingga laut dikeringkan, jenazah sang putri tetap tak ditemukan. Laut yang menjadi daratan itu kini dikenal sebagai Lembah Harau.

Legenda tersebut diperkuat oleh temuan dari survey team geologi Jerman (Barat) yang meneliti jenis bebatuan yang terdapat di Lembah Harau pada tahun 1980. Dari hasil survey team tersebut dapat diketahui bahwa batuan yang ada di perbukitan Lembah Harau adalah batuan Breksi dan Konglomerat yang merupakan jenis bebatuan yang umumnya terdapat di dasar laut.

Memasuki lembah Harau, seperti berada dalam sebuah benteng yang melindungi dari serangan musuh paling berbahaya. Tinggi pagar tebingnya sekitar 150-200 meter. Tebing itu tegak dengan kokohnya yang mengelilingi lembah. Pagar tebing cadas yang curam dan lurus menantang untuk olah raga panjat tebing. Saat ini kawasan lembah Harau sudah menjadi Taman Wisata Lembah Harau dan mempunyai tujuh air terjun (sarasah) yang mempesona. Ketinggian masing-masing air terjun berbeda-beda antara 50-90 meter. Air terjun tersebut mengalir dari atas jurang yang membentang di sepanjang Lembah Harau.

Di Lembah Harau terdapat hutan lindung yang di dalamnya hidup beberapa binatang langka asli Sumatera. Di antara satwa tersebut adalah monyet ekor panjang, primata jenis Maccaca Fascicularis. Bila beruntung, juga bisa menyaksikan harimau Sumatra, beruang, tapir dan landak yang hampir punah.

Lembah Harau sudah menjadi perhatian sejak dulu. Sebuah monumen peninggalan Belanda yang terletak di kaki air terjun Sarasah Bunta (pintu gerbang belok ke kiri) menjadi bukti kalau lembah ini sudah sering dikunjungi sejak 1926. Selain keindahan alam tadi, keelokan lain masih bertebaran di sekitar Lembah Harau. Di dataran tingginya, Anda bisa menemukan cagar alam dan suaka margasatwa seluas 270,5 hektare.

Sedangkan soal legenda Harimau Lembah Harau sendiri adalah cerita penduduk Payakumbuh yang mempercayai selain adanya harimau sumatera asli, ternyata ada harimau jadi-jadian (siluman) yang hidup di lembah Harau. Penduduk setempat menyebutnya inyiak. Begitu masuk gerbang lembah harau, beloklah ke kiri dan terus masuk ke dalam lembah dan setalah melewati tiga kampung, sampailah di daerah tujuh bukit yang terdapat sebuah goa. Di goa inilah dahulu kala bertapa seorang pendekar sakti yang akhirnya menjelma menjadi harimau atau inyiak. Pertapa sakti yang menjelma menjadi harimau inilah yang menguasai lembah harau. Bahkan kemudian inyiak mampu menguasai wilayah gunung Singgalang dan wilayah gunung Merapi.

Inyiak berhubungan dengan orang-orang bunian atau makhluk halus yang juga mendiami tiga wilayah: Lembah Harau, Singgalang dan Merapi. Jadi kalau ada orang pernah bertemu dengan inyiak diyakini orang itu akan diambil orang-orang bunian dan tidak akan pernah bisa kembali ke dunia nyata.

Sebagai catatan: legenda ini sudah dibuat film televisi yang sudah ditayangkan televisi swasta nasional tahun 2008 berjudul Harimau Lembah Harau –ceritanya juga soal harimau siluman tapi tidak menceritakan pertapa sakti dan orang bunian (dan kebetulan juga skenario-nya saya sendiri yang menulisnya).

Sabtu, 31 Januari 2009

Di Tepinya Sungai Serayu (1)




Sebagaimana kota-kota, sungai mempunyai sejarah yang panjang dan tidak kalah terkenal. Khusus di Pulau Jawa, banyak sungai yang legendaris. Sungai Berantas di Jawa Timur yang dulu terkenal sebagai urat nadi Majapahit, Bengawan Solo yang terkenal ke seluruh dunia karena lagu ciptaan Gesang, Ciliwung yang telah sangat meng-Indonesia karena banjirnya. Sedangkan di Jawa Tengah di bagian tengahnya, mengalir Sungai Serayu yang nyaris di lupakan.

Sungai ini berhulu di pegunungan Dieng dan bermuara di Samudera Hindia melewati Wonosobo, Banjarnegara, Purbalingga, Purwokerto/Banyumas, Kebumen dan Cilacap. Seperti sungai-sungai lain yang menebar terornya dengan banjir, Serayu juga mempunyai masalah tahunan yang kompleks itu. Khususnya untuk masyarakat Banyumas, Kebumen dan Cilacap, karena letaknya yang relatif rendah di banding daerah aliran Serayu lainnya. Dan ternyata soal banjir telah menjadi kegiatan rutin tahunan sejak jaman dulu kala.

Dalam buku babad (sejarah) Bandjir Serajoe Banjoemas tahun 1582, tertulis kalimat: Ana Utjeng Mentjlok Ing Manggar artinya: "Ada Uceng (sejenis ikan) hinggap di Manggar (mayang kelapa)". Ungkapan itu menunjukkan bahwa pada tahun 1582 pernah terjadi banjir Serayu yang besar dengan genangan air setinggi pohon kelapa sehingga ada ikan yang hinggap bunga buah kelapa.

Di Banjarnegara, Serayu membelah kota sawah itu (Banjar = sawah) dan telah dimanfaatkan untuk menghidupi petani sejak dulu kala. Tapi irigasi untuk pertanian dibangun sejak jaman kolonial. Beberapa proyek irigasi yang memanfaatkan Sungai Serayu yaitu Jaringan Irigasi Singomerto dan Banjarcahyana yang letaknya 1 km dari pusat kota Banjarnegara. . Tahun 1938 dibuat sifon (saluran bawah tanah) di bawah anak sungai Serayu, yaitu Banjarcahyana. Presiden Soekarno mengunjungi bangunan itu tahun 1952 dan sangat mengaguminya. Di situ pula pertemuan tiga sungai: Serayu, Merawu dan Palet.

Serayu juga dimanfaatkan untuk pembangkit listrik tenaga air yaitu PLTA Mrica, yang terletak di desa Binorong, kecamatan Bawang kira-kira 10 km dari pusat kota ke arah barat. Bendungan yang dinamakan Bendungan Panglima Besar Soedirman yang di operasikan mulai tahun 1988 yang diresmikan Presiden Soeharto, dan memiliki kapasitas terpasang 184,5 megawatt untuk memasok 30% kebutuhan listrik Jawa Tengah. Tidak hanya untuk pembangkit listrik, air bendungan tersebut juga dimanfaatkan untuk mengairi sawah di tiga Kabupaten, Banjarnegara, Purbalingga dan Banyumas. Masih merasa kebutuhan listrik Jawa Tengah kurang, dibangun lagi PLTA Tulis di kecamatan Pagentan, yang memanfaatkan anak sungai serayu lain yaitu Kali Tulis.

Seperti juga pertumbuhan kota-kota, ‘Kota Sawah’ ini telah mulai tergerus jaman karena kontribusi sector pertanian semakin menyusut. Rata-rata turun 2 persen tiap tahunnya. Kelihatan kecil tapi seperti kata pepatah, sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Padahal secara geografis, lebih dari separuh wilayah kabupaten ini merupakan pegunungan. Secara umum Kabupaten ini dibagi menjadi 3 zona:
- Zona Utara, adalah kawasan pegunungan yang merupakan bagian dari Dataran Tinggi Dieng, Pegunungan Serayu Utara. Zona ini berbatasan dengan Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Batang dan terdapat beberapa puncak gunung, seperti Gunung Rogojembangan dan Gunung Prahu.
- Zona Tengah, merupakan zona aliran sungai Serayu yang cukup subur.
- Zona Selatan, merupakan bagian dari Pegunungan Serayu.

Di pulau Jawa ada dua jalur utama yang terkenal yaitu Pantura atau Pantai utara jawa dan jalur selatan. Tapi yang tidak banyak dikenal dan dipergunakan adalah jalur tengah yang melintasi jalur utama Banjarnegara yang merupakan jalan provinsi yang menghubungkan antara kabupaten Banyumas di bagian Barat dengan Magelang dan Semarang di bagian Timur. Selain itu terdapat jalan provinsi yang menghubungkan Banjarnegara dengan kabupaten Batang, melintasi Dataran Tinggi Dieng.

Kuliner khas Banjarnegara yang sudah melanglang buana adalah Dawet Ayu dan tempe mendhoan (khusus tempe mendoan hampir semua wilayah ex Karesidenan Banyumas juga tersedia). Dawet ayu adalah jenis minuman yang Terbuat dari Cendol Tepung beras, gula aren, gula Kelapa, santan dan kadang di kombinasi dengan nangka. Dan cendol biasanya berwarna Hijau. Sedangkan buah yang paling terkenal adalah salak –terutama salak pondoh, dimana di pusat kota terdapat pasar khusus salak.

Seperti Bengawan solo yang dijadikan inspirasi lagu keroncong dan terkenal sampai mancanegara, Serayu juga menjadi inspirasi seorang komposer bernama Soetedja dengan menciptakan lagu berjudul Di Tepinya Sungai Serayu tahun 1940an. Soal terkenal lagu Bengawan Solo jauh lebih terkenal (disamping juga karena sungainya sendiri begitu terkenal sejak jaman purbakala, dimana Jaka Tingkir menyusurinya dengan diiringi empatpuluh buaya menuju Demak). Kenapa lagu Di Tepinya Sungai Serayu tidak mampu seterkenal Bengawan Solo? Ada rumus dagang yang mesti terlibat, tapi rumus keberhasilan lainnya adalah tidak pernah bisa diurai kenapa ini bisa dan lainnya tidak. Jadi lebih baik nikmati saja lagunya:

ditepinya sungai serayu
waktu fajar menyingsing
pelangi merona warnyanya
nyiur melambai-lambai
warna air sungai nan jernih
perahu berkilauan
desir angin lemah gemulai
aman tenteram dan damai
gunung slamet nan agung
tampak jauh di sana
ref:

bagai sumber kemakmuran
kerta kencana
indah murni alam semesta
tepi sungai serayu
sungai pujaan bapak tani
penghibur hati rindu --()

Jumat, 30 Januari 2009

“Aceh Lon Sayang – Aceh 1”.


Negeri Aceh konon merupakan ‘serambi’ besar dan terlengkap yang pernah di miliki republik ini. Aceh telah ‘go international’ jauh sebelum Republik ini berdiri. Melihat Aceh merupakan sebuah cermin luas dimana sebuah peradaban dunia yang saling bertaut dan melebur di sebuah dermaga dagang yang langsung berhadapan dengan samudera Hindia. Membaca Aceh adalah membaca akulturasi budaya yang sangat kental.Orang-orang Aceh yang tinggal di pesisir pantai secara bercanda mengurai Aceh sebagai A=Arab, C=China, E=Eropa dan H=Hindia [baca – India].

Anda tentu bisa membayangkan bagaimana jadinya jika empat wilayah etnis dengan latar kebudayaan masing-masing di dunia ini melebur menjadi satu dalam Aceh! Bangsa Arab dikenal sebagai bangsa dengan latar budaya lahirnya agama-agama besar di dunia.Islam, Nasrani, Majusi dan Yahudi berakar kuat dan mendarah daging di sana.Maka, pada satu dimensi keyakinan pada budaya Aceh, hidup – mati untuk tuntunan mendirikan tiang agama.Dari jabang bayi, orang Aceh dininabobokan dengan lagu maju ke medan perang untuk membela agama.Kuat raga, kuat jiwa maka kuat pula keyakinannya.

Dari negeri China adalah negeri di mana tempat tumbuhnya segala macam ilmu pengetahuan.China nyaris menjadi perpustakaan bagi ilmu kesenian, pertanian, kedokteran dan science teknologi. Sebagaimana sering didengar; carilah ilmu, walau sampai ke negeri China sekalipun.Anda tentu bisa mengira-ngira, kalau mereka pandai berdagang tentulah karena ada ilmunya.Begitupun, kalau mereka terlihat gigih berusaha tentulah pula karena ada ilmunya.

Lalu bagaimana sosok budaya Eropa yang berimbas pada kebudayaan Aceh? Karakter Eropa adalah karakter yang yakin betul bahwa mereka merupakan bangsa yang lebih unggul dibanding bangsa lain di dunia. Mereka lebih tinggi dan tak pernah mau direndahkan. Ini tipikal martabat bangsa yang menguasai dan bukan bangsa yang dikuasai, apalagi ditindas.Sejarah nasional mencatat bahwa perlawanan terlama dan memerlukan stamina serta penaklukan yang besar atas kegigihan-kegigihan sang pemberani dari Aceh, baik laki-laki maupun perempuan.Teuku Umar, Tengku Cik Dik Tiro, Cut Nyak Dhien adalah pengobar perlawanan yang tinggi martabatnya. Aceh adalah bangsa yang gagah!

Banyak yang menyangka Hindia atawa India nempel pada budaya Aceh hanya sosok fisiknya saja. Secara berseloroh sering disebut India jahe-jahe…?? hidungnya mancung, warna kulit agak gelap mungkin juga pandai menyanyi dan menari…?? Tetapi secara kebudayaan sebenarnya bisa dilihat bahwa warisan India pada kultur Aceh ini adalah warisan kesetiaan pada etnisnya yang tinggi. Orang Aceh kebanyakan sangat kental tradisinya.Tradisi yang menjadi corak sehingga lebih mudah dikenali sebagai indentitas [baca – tanda pengenal] kebudayaan.

Anda jangan buru-buru mengiyakan apa yang saya tulis di atas. Memang butuh pembuktian [syukur-syukur bisa ilmiah]!

Saya tadinya juga menyangsikan ‘gurauan’ ini. Dari seorang teman Aceh yang saya kenal…saya melihatnya sebagai sosok yang gagah fisiknya, agak sedikit berbau arogan cara bicaranya… [saya bathin dalam hati; inikah Eropanya?].Teman saya inipun pandai berdagang, perdagangan perhiasan sangat dia kuasai, bujuk rayunya, cara menyakinkannya semuanya terasa ‘pas’… [saya bathin dalam hati; inikah Chinanya?].Soal beribadah, teman saya ini penganut Islam yang taat.Sholatnya rajin, baca Al-Quran-nya pun bagus, pengetahuan agamanya juga sangat baik…[saya bathin dalam hati; inikah Arabnya?].yang paling saya mudah kenali bahwa teman saya ini orang Aceh adalah pada ekspresi kulinernya; mie Aceh, martabak Aceh, kari Aceh, Roti Cane dsb, padahal teman ini sudah pernah hidup di negara orang di lain benua, namun lidahnya serta seleranya masih sangat Aceh…[saya bathin dalam hati; inikah Indianya?].

Saya hanya bisa menbathin Aceh dalam gugusan pertautan kebudayaan yang sangat besar.Terlepas dari benar – tidaknya gurauan di atas, saya menaruh respect yang tinggi atas Aceh dan respect ini tidak hanya ada dibathin hati saya, tetapi ada juga dalam pergaulan saya dengan kebudayaan Aceh secara umum.

Memang tidak salah mengapa lagu ‘Bungong Jeumpa’ [Bunga Cempaka] begitu terasa ‘pas’ dilagukan untuk peleburan besar budaya-budaya di Aceh yang terjadi begitu indah;

Bungong Jeumpa, bungong Jeumpa, megah di Aceh
Bungong telebeh, telebeh indah lagoina
Puteh kuneng, mejampu mirah
Keumang si ulah, cidah that rupa

Bunga cempaka, bunga cempaka mashur di Aceh
Bunga indah, bunga indah tiada tara
Putih kuning, bercampur merah
Bunga sekuntum, elok rupanya…[28/01/09].