
Di negeri yang serba menggelikan ini, apa sich yang tidak bisa kita tertawakan? Konon katanya orang yang bisa tertawa mencerminkan orang yang sehat.Namun konon katanya lagi orang yang lebih sehat adalah orang yang bisa mentertawakan dirinya sendiri.
Tapi ada orang yang tidak bisa tertawa?! Kalau marah sambil tertawa tentulah tidak mungkin, atau kalau tertawa ketika sedang dalam suasana duka tentulah tidak ‘pas’.Tetapi kisah orang yang tidak bisa tertawa ini, adalah kisah tentang mereka yang tidak bisa tertawa dalam segala suasana…wah gawat! Ketidak tertawaan mereka ini ternyata sudah menjurus dan menjadi penyakit.Namanya gelotophobia alias penyakit tidak bisa tertawa.
Satu lagi penyakit unik yang tidak banyak orang tahu, yaitu penyakit takut ketawa atau gelotophobia. Orang dengan gelotophobia bukan sekedar malu, tertawa sudah menjelma menjadi hal yang menakutkan.
Gelotophobia berasal dari bahasa Yunani yaitu 'gelo' yang artinya ketawa dan 'phobos' yang artinya takut, sehingga 'gelotophobia' memiliki arti takut ketawa atau juga malu ketawa. Jenis phobia ini pertama kali didiskusikan di Spanyol pada acara International Summer School and Symposium on Humour and Laughter. Sedangkan teori, penelitian dan aplikasinya dilakukan oleh University of Granada.
Dalam sebuah studi yang dimuat di Scientific Journal Humour, peneliti dari University of Zurich, Switzerland melakukan survei terhadap orang-orang di sekitar 73 negara dan menemukan beberapa orang yang memang memiliki penyakit malu atau bahkan takut ketawa.
"Seseorang bisa ketawa karena berbagai alasan. Namun orang yang punya penyakit malu ketawa atau gelotophobia justru takut dengan berbagai respons dan reaksi yang muncul terhadap lingkungan sosialnya jika ia ketawa. Ia memiliki ketakutan yang berlebihan untuk ketawa," ujar Victor Rubio, seorang psikolog dari Autonomous University of Madrid, Spanyol seperti dikutip Health24, Minggu (18/10/2009).
Menurut para peneliti, seseorang gelotophobia memiliki gejala yang berbeda-beda, diantaranya ketakutan akan reaksi tidak nyaman dari lingkungan sekitar, takut memberi lelucon dan menghindari situasi lelucon. Takut akan reaksi tidak nyaman membuatnya menjadi tidak percaya diri, sedangkan mereka yang enggan mengeluarkan lelucon karena takut dianggap tidak lucu oleh sekitarnya.
Seorang gelotophobia juga takut bila orang lain ketawa, itu berarti mereka sedang menertawakan dirinya. Untuk itu, mereka lebih memilih untuk menghindari situasi yang memicu terjadinya ketawa atau dengan cara tidak memberikan reaksi ketawa saat orang lain ketawa.
Bagi saya,terlepas dari hasil penelitian ilmiah para ahli di atas, sekarang ini memang ada kecenderungan orang untuk mulai tidak bisa dan tidak membiasakan diri untuk tertawa.Hal yang paling rapuh adalah kita sering terbelenggu kenyataan pada saat menghadapi situasi sosial.Terhimpit kemiskinan [keterbatasan ekonomi] telah membuat dahi kita mengernyit dan simpul urat tawa di bibirpun menghilang.Kita sering tidak bisa tertawa karena terombang-ambing oleh gairah hidup yang fluktuatif.Kitapun terhenti tertawa oleh hal-hal besar tentang negeri ini yang membuat kita terkejut; BBM naik, Gas Elpiji naik, aksi teror bom, sidang kasus korupsi, pemilihan ketua DPR/MPR, pemilihan menteri kabinet, yang kalau dirasa-rasa juga tidak ada hubungan langsung dengan kehidupan kita.
Kondisi Ipoleksosbud hankam [kondisi social bernegara] telah membuat kita kena syndrome depresi mendadak, kita kehilangan nyali untuk gembira, kita kehilangan naluri untuk menghibur diri sendiri, kita lupa bahwa kita orang yang masih sangat sehat, lidah kita pun tiba-tiba terasa ‘kelu’ dengan cara berekpsresi lewat tertawa.
Depresi sosial yang ditandai dengan menghilangnya gairah kita untuk tertawa biasanya akan diikuti oleh tindakan sosial yang juga tidak ‘lucu’: aksi demo dengan bakar-bakaran, kekesalan yang lalu ditumpahkan dengan cara menghilangkan hak dan nyawa orang lain, cacian dan hinaan yang diobral melalui media, berdemokrasi dengan cara pukul-pukulan, mendiamkan teman seiring, tidak mau bertetangga, gampang naik pitam lalu mengumpat sekenanya…dan sebagainya…dan sebagainya.
Tiba-tiba negeri ini dicap sebagai bangsa pemarah, negeri yang tiba-tiba [juga] sepi dengan keramahtamahan.Negeri ini seperti penebar aroma kematian kreatifitas karena dianggap negeri yang sangat tak bersahabat.Lalu kita banyak mebaca di Koran-koran nasional reaksi dari Negara-negara internasional yang memberlakukan travel warning bagi warganya untuk berhati-hati berkunjung ke negeri kita yang konon sangat elok pesona wisatanya.
Akhirnya kita hidup di negeri kita sendiri seperti meratapi kutukan para dewa dan leluhur yang entah ada dimana.Sebagai negeri yang terkenal dengan sebutan ‘the ring of fire’ [negeri cincin api] dan dengan penduduk yang kehilangan rasa tawa-humor bahkan candaannya, makin lengkap lah ketika kita benar-benar tidak bisa tertawa pada saat berkali-kali gempa mengahampiri dan memporak-porandakan negeri ini.
Tertawa adalah hak setiap orang, namun ketika tertawa sudah menjadi suatu penyakit, hak tersebut menjadi terampas. Padahal tertawa adalah salah satu obat stres, dimana ketika tertawa hormon-hormon yang memicu rasa senang seperti oxcytocin, dopamin dan serotonin akan memperlancar sistem aliran dalam dan membuat tubuh jadi rileks.
Ketakutan akan tertawa hanya bisa disembuhkan dengan keberanian dari dalam diri sendiri, jadi beranikanlah diri untuk tertawa, jika memang hal itu patut ditertawakan.
Di negeri yang tiba-tiba sepi denga suara tawa…saya pun terdiam sendiri, dahi saya mengernyit, urat tawa di bibir saya terkatup…apakah saya sudah termasuk seorang gelotophobia? Atau seorang dengan serangan depresi sosial?...ah tidak, saya hanya sedang menulis merangkai kata saja…
So, be relaxs dan mari tertawa; ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha…
Ayo ngguyu dan ramaikan negeri ini; ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha… ha…ha…ha…(LL dalam tertawanya di 19/10/2009).


















