Minggu, 16 Agustus 2009

KESETIAAN


Bagaimana orang-orang yang di baiat dengan kesetiaan? Lalu apakah kesetiaan itu akan selalu membutakan? Kalau umat manusia mereka ciderai, kemudian Tuhan pun mereka kianati apakah ini juga bagian dari kesetiaan itu? Kesetiaan selalu menuntut totalitas, ia meminta semuanya yang terang dari sisi hidup manusia maupun yang gelap dari hati setiap manusia yang memegang teguhnya.

Tidak ada alat ukur tentang kesetiaan warga negara terhadap Tanah Airnya, kesetiaan itu hanya butuh bukti dan pengorbanan. Ismail dengan kesadaran penuh, memenuhi permintaannya Ayahanda Nabi Ibrohim AS untuk disembelih – dikorbankan atas mimpi sebagai pentunjuk Allah. Kesetiaan adalah energi, dia menjadi senjata yang ampuh untuk sebuah pengorbanan.dia adalah bahan bakar [sepanjang masa] untuk digunakan mencapai tujuan yang memungkinkan [possible] ataupun tujuan yang tidak memungkinkan [mission impossible].

Kesetiaan tak berpamrih, ia tak tak berharap yang lain kecuali tujuan keyakinannya tercapai.apakah ia juga memperdulikan yang lain? Tentu saja tidak! Kesetian itu tunggal dan tidak bercabang. Ia sepertinya dilahirkan untuk sebuah ‘super ego’ yang besar yang tak hendak diduakan maupun diremehtemehkan. Ia menyelimuti dalam pekat dan menjadi kebenaran tunggal.

Ia pemecah keraguan yang ampuh, di dalam kesetiaan orang senantiasa bertumpu pada pikiran yang terpusatkan. Ia tidak mengenal ‘grey area’, dalam dogmanya kesetiaan adalah hitam-putih, baik-buruk, berhasil-gagal, langit-bumi, surga dan neraka. Di Dalam hanya ada kata Ya dan sulit untuk berkata tidak.

Sepasang manusia menikah atas nama kesetiaan
Seniman berkarya atas nama kesetiaan
Pahlawan berjuang atas nama kesetiaan
Atlet bertanding atas nama kesetiaan
Tentara berperang atas nama kesetiaan
Para bomber rela mati atas nama kesetiaan
Nabi Ibrohim menyembelih anaknya Ismail atas nama kesetiaan
Ibu mengasuh anak atas nama kesetiaan
Semua lelaki mencari nafkah atas nama kesetiaan.


Nyaris tidak ada sesuatupun di muka dunia ini dilakukan tidak mengunakan kesetiaan.Dengan begitu roda dunia terasa berputar.Kesetiaan tumpang tindih membakar ambisi, amarah, kesabaran, cinta kasih lebur menjadi satu didalamnya.Bukan dunia terasa ramai dengan kesetiaan. Dalam budaya pop kesetiaan bikin hidup lebih hidup.

Sebagai fenomena, Kesetiaan seakan berjalan dengan sendirinya, padahal tidak.Kesetiaan itu sistemik, dia berjalan mengunakan perangkat system yang solid, dia berpola secara metodis, bercengkrama dan bermetamorfosis secara sempurna.dia sangat fleksibel bersymbiosis dengan piranti yang lain, saling menciptakan ketergantungan, saling percaya yang kental dan saling menguntungkan satu sama lain.

Hanya satu yang ditabukan bagi mereka-mereka yang berada dalam gengaman kesetiaan yaitu apa yang dinamakan dengan logika. Mereka yang setia membangun logika ‘dalam’ nya sendiri.Tidak butuh referensi serta tidak butuh logika ‘luar’ pada umumnya.Sehingga kesetian itu tanpa logika ‘luar’ menjadi kian mengkristal, menjadi sesuatu yang solid dan bercahaya. Sementara ‘logika’ ‘luar’ bagi mereka adalah retorika [hanya sebatas wacana], logika ‘luar’ menjadikan mereka lemah dalam keraguan, mengaburkan pandangan jiwa serta tidak utuh sebagai persenyawaan hidup.

Artinya; di dunia yang fana ini, hanya sedikit orang dalam kesetiaan yang memakai logika ‘luar’ sebagai panggilan jiwa. Tidak ada alat ukur tentang kesetiaan juga tidak logika ‘luar’, kesetiaan itu hanya butuh bukti dan pengorbanan. Menjadi orang-orang yang ada dalam kesetiaan atau bukan, masing-masing dari kita telah memainkan logikanya sendiri baik logika ‘dalam’ maupun logika ‘luar’.

Kesetiaan ini…
Bukannya sandiwara
Berkorban untukmu
Walau akhir kecewa…[Pance F. Pondaag]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar