Kamis, 12 Februari 2009

“Pasar Apung – Sungai Barito” – Banjarmasin 1.


Secara kewilayahan jika kita melihat Propinsi Kalimantan Selatan di atlas nasional, maka kita akan mendapati bahwa propinsi ini memiliki wilayah terkecil dibandingkan dengan tiga propinsi lain di Kalimantan.Anehnya lagi kalau kita cermati plat nomor polisi untuk kendaraan, maka daerah ini memiliki kode DA. Sementara propinsi di Kalimantan yang lain memiliki nomor polisi KB [untuk Kalimantan Barat], KH [untuk Kalimanatan Tengah] dan KT [untuk Kalimantan Timur].

Dalam satu perjalanan dengan seorang sopir, dia mengatakan bahwa sudah ‘pas’ kenapa Kalimantan Selatan diberi plat nomor DA, karena menurur si sopir ini DA merupakan singkatan dari “Daerah Air”.Di sepanjang perjalanan saya terus memikirkan, tetapi bagi saya ini merupakan candaan yang sangat bisa dibuktikan.Melalui perjalanan darat saja, di dalam kota Banjarmasin sendiri banyak sekali perlintasan sungai, sehingga mobil yang saya naiki banyak juga melintasi jembatan.

Sungai utama yang menjadi ‘nadi’ di Kalimantan Selatan adalah sungai Barito. Bahkan propinsi ini memiliki jembatan terpanjang [konon di Asia Tenggara] yaitu Jembatan Barito.Jembatan megah yang melintasi sungai Barito yang menghubungkan propinsi Kal-Sel dengan Propinsi Kal-Teng di jalan trans Kalimantan.Tidak salah memang kalau menjuluki Kota Banjarmasin ini sebagai kota seribu sungai dan tentu saja kota seribu jembatan.

Barito memang nafas kehidupan air di Kalimantan Selatan.Sungai ini menjadi jalur utama transportasi dan sungai ini pula menjadi pusat perdagangan. Sebagai bagian dari usaha perdagangan, di salah satu anak sungainya yaitu sungai Kuin dikenal sebuah pasar dengan nama Pasar Terapung [baca – Apung].Pasar ini berada [terapung] di atas air.Jangan merasa aneh dulu, pasar ini terapung di air karena pedagang dan pembelinya pun mengunakan ‘klotok’ [baca – perahu] untuk melakukan transaksi dagang. Walau mungkin tidak biasa bagi kita, perdagangan terapung yang diprakarsai suku Banjar ini memang mengunakan ‘sungai’ sebagai titik temu.

Suku Banjar adalah suku asli yang juga merupakan penduduk Kalimantan Selatan terbesar.Ada tiga kelompok dalam suku Banjar yaitu; Banjar Kuala, Banjar Pahukuan dan Banjar Batang Banyu. Dan rata-rata dari mereka sangat dominan dalam bidang perdagangan.Sebagai daerah air, untuk urusan perdagangan ini memungkinkan saja ada pengaruh dari utusan kerajaan Majapahit serta pedagang-pedagang Arab dan Persia yang menjelajah dan singgah di kota Banjarmasin.


Ada satu yang khas yang harus dicoba kalau pergi ke pasar apung, yaitu cobalah makan soto Banjar di atas klotok. Rasa sotonya nggak kalah dengan soto Banjar yang ada di daratan. Namun yang membedakannya adalah cara makannya yang di atas perahu itu, selain soto yang hangat ini harus segera disantap, dengan makan yang sedikit cepat anda sudah berupaya mengantisipasi ‘goncangan’ gelombang air sungai yang memungkinkan soto anda bisa tumpah.

Meski banyak kabut, karena memang pasar apung ini adanya hanya di subuh hingga pagi hari,saya tak berhenti menghayalkan jalur-jalur sungai yang ada di Banjarmasin ini menjadi kehidupan pariwisata yang nyata. Kalau dilihat dari kartu-kartu pos tentang wisata sungai di Venesia – Italia dengan perahu Gondola, alangkah eloknya pemandangan sungai di sana.Bahkan orang Belanda di Amsterdam memanfaatkan anak-anak sungai [baca – kanaal] juga sebagai ajang wisata air dengan ‘bis’ airnya.

Saya jadi membayangkan juga, hampir sebagian besar kota-kota tua di Kalimantan senantiasa di bangun di tepian sungai. Bagi saya ini jelas merupakan indikasi bahwa sungai telah menjadi bagian kehidupan dalam bentuk apapun [entah pusat pemerintahan, daerah hunian hingga pusat perdagangan]. Sayang mungkin, cerita-cerita ini kelak hanya akan jadi referensi sejarah saja. Kita yang kini telah mengalihkan segala bentuk bangunan dengan kepentingan apapun jauh menjorok ke dalam menuju daratan.

Sungai-sungai hanya menjadi legenda, daratan kota Banjarmasin termasuk kota dengan tatanan yang agak semerawut.Karena semua aktifitas terpusat pada kehidupan di daratan saja, kini nasib kehidupan sungai menjadi terbelakang.Sungai yang merupakan sumber kehidupan, kini kian kotor, menjadi daerah belakang karena hanya untuk saluran pembuangan saja.

Dengan klotok yang bergoyang-goyang di atas sungai, ketika hendak mengakhiri perjalanan menuju ‘daratan’, saya tetap menghayalkan; kalau pasar apung saja sudah bisa memberikan warna kehidupan sungai Barito, lalu kapan pasar apung menjadi super market apung yang dalam bayangan saya tentulah akan memberi dampak kehidupan yang lebih besar lagi.

Saya sedang tidak mabuk perjalanan di atas sungai, bayangan ini murni sebuah khayalan semata...[11/02/09]

Selasa, 10 Februari 2009

“Cerita dari Blora” – Blora 1.


Secara nasional Blora tidaklah begitu ‘populer’. Namun bagi kalangan penggemar sastra jauh-jauh hari sebelum reformasi, pastilah sudah mengenal atau setidak-tidaknya mengimajinasikan nama Blora. Seorang penulis legendaris nasional yang bernama Pramudya Anantatoer-lah yang menulis novel “Cerita dari Blora”. Pak Pram sendiri lahir di Blora, wajarlah kalau beliau begitu kenal dan detail mendiskripsikan Blora sebagai kota kelahirannya di decade tahun 40an itu dalam novelnya.

Blora sebagaimana kota kabupaten lainnya di Jawa, sebenarnya tidaklah terlalu ramai. Hampir sama dengan prototype kota-kota di jawa yang mendasarnya tata kota [kunonya] berdasarkan system ‘mocopat’ [baca – empat system pemerintahan]. Menurut pendapat pribadi saya, sistem ini sangat erat hubunganya sebagai bagian dari pengaruh kerajaaan besar yang berkuasa di Tanah Jawa [Majapahit, Mataram, Singosari, Demak, Pajang, dsb].

Yang paling mendasar dari system ini yaitu: kota selalu dibangun dari titik tengah [baca – zero point] kewilayahan, yang selalu ditandai dengan berdirinya Alun-Alun. Alun-alun adalah sebuah lapangan besar, dengan dua pohon beringin ditengah-tengahnya, yang dari dahulu digunakan sebagai tempat berkumpulnya rakyat atau tempat penyelenggaraan acara-acara dari penguasanya. Jadi tidak heran, Alun-Alun juga bagi kebanyakan rakyat biasa dikenal sebagai symbol dari kekuasaan.

Di sekitar atau di sekeliling Alun-Alun barulah akan terlihat tata kota ‘mocopat’-nya. Yaitu terdiri dari: Pendopo Kabupaten, Masjid, Penjara dan Pasar.Yang pertama tentang Pendopo Kabupaten. Asumsinya adalah Pendopo Kabupaten merupakan pusat pemerintahan dimana pemimpin daerah tertinggi dalam hal ini Bupati, tinggal di Pendopo Kabupaten dan menjalankan pemerintahannya. Sehingga, Pendopo Kabupaten adalah ‘poros pusat’ [baca – sentralisasi] dari semua aktifitas pemerintah dan rakyat. Tempat ini digambarkan sebagai sesuatu yang ‘megah’ dan juga ‘angker’ [bukan karena banyak hantunya, tetapi angker yang menyangkut wibawa dari pemerintahan atau Bupati yang berkuasa]. Intinya, jangan sampai sembaranganlah di atau dengan kabupaten.

Yang kedua, seperti pada struktur jabatan di kesultanan di Jawa, mereka yang menjadi pemimpin juga menyandang jabatan rangkap untuk mengemban fungsi sebagai ‘Sayidin Panoto Gomo’.Selain berkuasa pada tapuk pemerintahan, pemimpin-pemimpin ini merupakan ‘Duta’ agama yang berkewajiban menjalankan syariat-syariat agama untuk diri pribadinya dan juga menerapkan syariat-syariat agama tersebut dalam kehidupan rakyatnya. Jadi untuk menjalankan misi keagamaanya inilah, dibangun Masjid sebagai symbol bahwa pemerintahan yang berjalan juga menjalankan syariat-syariat keagamaan.

Yang ketiga adalah Penjara. Penjara ini adalah sosok bangunan yang dalam kontek besar kekuasaan adalah sebagai symbol dari penegakan ‘hukum’ atas nama keadilan oleh pemerintahan yang berkuasa. Dahulu, kasus-kasus penjahat rakyat [baca – begal, maling, rampok, dsb], musuh-musuh kerajaan/pemerintahan atau orang dan sekelompok orang yang ‘mbalelo’ terhadap pemerintahan yang berkuasa, ya di penjara ini tempatnya! Namun bagi rakyat kebanyakan, penjara menjadi symbol dari kekuasaan yang ‘absolut’! anda bisa bayangkan dalam system peradilan kerajaaan dahulu, maka ‘sabdho pandhito ratu’ [baca – apa yang di ucapkan raja], itulah ‘kebenaran’. Jadi jangan berharap akan ada ‘pengacara’ pendamping dan meminta ‘banding’ hukum dengan sang raja!

Yang keempat bagian yang cukup penting adalah Pasar. Pasar inilah yang menjadi symbol perniagaan dan menjadi status ‘ekonomi’ dari pemerintahan yang berkuasa. Secara ekonomi idiom pasar adalah tempat terjadinya transaksi dagang antara pembeli dan penjual, lalu dahulu secara pemerintahan apa yang menjadi fungsi ‘pasar’? Bagi pemerintah yang berkuasa ‘pasar’ adalah bagian dari ‘kontrol’ kekuasaan pada bidang ekonomi. Kalau pasarnya stabil maka ekonominya baik dan rakyat akan ‘tenang’. Sebaliknya, apabila pasar mengalami ‘gejolak’ diluar control, ini disinyalir akan berbahaya bagi kestabilan ekonomi dan rakyat pasti juga akan ‘tidak tenang’ dan ini akan mengancam kewibawaan pemerintah yang berkuasa!

Walaupun secara fisik jejak arsitekturnya masih nampak, rasanya sekarang ini bayangan jejak-jejak symbolisnya tak kunjung menghilang. Walau pemerintahan ini disebut ‘Republik’, cara berkuasanya tetap dibayang-bayangi oleh system ‘kerajaan’. Kita masih melihat system sentralisasi yang kental, dimana Undang-undang Otonomi Daerah sudah dibuat. Dalam hal keagamaan sekarang ini, bias antara kepentingan kekuasaan yang menunggangi keagamaan. Kita juga berjibaku [baca – berjuang habis-habisan] untuk mencari keadilan dalan system peradilan modern dimana lembaga Yudikatif kita masih semena-mena bak seorang raja dalam menegakkan keadilan.

Sementara dalam system pasar kita nyaris tergilas oleh kepentingan-kepentingan global. Dengan begitu Pasar bukan hanya soal naik-turunnya satu komoditas saja, akan tetapi pasar tentulah sangat komplek karena disana ada urusan ‘perut’ yang harus disejaterahkan...[9/02/09].

Selasa, 03 Februari 2009

“Surga di Ujung Timur [Indonesia]” – Maluku Utara.


Era tahun 90an ketika Pak Harmoko menjabat sebagai Menteri Penerangan Orde Baru, dalam kancah panggung nasional muncul kepermukaan seorang penyanyi yang sekaligus komedian yang bernama Dorce dengan embel-embel Gamalama. Sebagai entertainer sungguh luar biasa, suaranya bisa menyanyikan lagu apa saja mulai dari pop, dang dut, keroncong, rock semua bisa dilahapnya. Dorce ternyata pernah menjadi laki-laki yang kemudian berubah menjadi wanita [baca - setidaknya kewanita-wanitaan], bahkan pernah menunaikan ibadah haji.Tetapi siapakah ‘Gamalama’?

Tahun 96 saya baru tahu ada daerah di Indonesia yang bernama Tobelo. Nama daerah ini saya ketahuai dari sebuah etnographic film yang berjudul “Tobelo Marriage”. Film ini di buat oleh dosen saya di Leiden University bapak Dirk Njland pada dekade 80-an. Film ini menceritakan kisah cinta melibatkan dua pasangan muda mudi dari daerah Tobelo dan Galela.Seperti kebanyakan film ethnographic, maka film inipun sangat detail mendiskripsikan kondisi geografis, kehidupan keseharian masyarakat, adat istiadat setempat serta nilai-nilai leluhur yang dianut. Tetapi dimanakah Tobelo?

Tahun 2000 Bank Indonesia menerbitkan uang pecahan senilai Rp. 1000,- yang bergambar depan Pahlawan nasional kapitan Pattimura dan bergambar belakang Pulau Maitara dan Pulau Tidore. Setiap orang rasanya, mulai dari anak-anak smapai orang dewasa tentulah pernah memegang uang kertas seribu rupiah ini, uang receh bagi orang dewasa dan menjadi uang jajan bagi anak-anak. Uang ini saya pikir sangat popular [hingga kini]. Tetapi dimanakah Pulau Maitara?

Dalam atlas Indonesia dan dunia, dijelaskan Gamalama adalah nama sebuah Gunung Api yang terletak di Pulau Ternate, sementara Tobelo adalah nama salah satu daerah yang terletak di Pulau Halmahera [utara], sedangkan Pulau Maitara terletak antara Pulau Ternate dan Pulau Tidore. Dan Anda tahu, ternyata semua itu sekarang berada disatu provinsi yang sama yaitu provinsi Maluku Utara, setelah pemekaran dari propinsi induk Maluku.

Dalam catatan sejarah nasional, daerah-daerah ini ternyata bukanlah daerah baru.Kesultanan Ternate, Kesultanan Tidore, serta Kesultanan Jailolo [Halmahera Utara] adalah kerajaan yang menguasai perdagangan rempah di Maluku – Perairan Timur Nusantara. Tiga Kesultanan inilah yang diyakini juga sebagai pintu gerbang masuknya syiar Islam di wilayah timur. Dalam hal perdagangan, ketiga kesultanan ini bersaing keras dan juga melakukan peperangan dengan kapal dagang Portugis.

Pada Perang Dunia II, wilayah Maluku Utara juga menjadi daerah basis sekutu untuk melumpuhkan Jepang.Di bawah komando Jenderal Dauglas Mc. Artur, Pulau Morotai manjadi base camp pertahanan udara dengan menjadikan Morotai sebagai landasan udara pesawat-pesawat sekutu. Dalam bukti fisik yang pernah tercatat, Morotoi dikenal dengan ‘Landasan Pitu (7)’. Tujuh track landasan pacu pesawat! Anda bisa membayangkan betapa sibuknya landasan ini!

Kini Morotai baru menjadi daerah kecamatan dari rencana sebagai daerah kabupaten pemekaran.Morotai sebagai kecamatan yang sangat sederhana, berbeda dalam hingar bingar catatan sejarah. Landasan Pitu kini secara operasional merupakan milik AURI. Sementara bangkai-bangkai besi bekas pertempuran telah ludes menjadi besi tua rongsokan yang konon menjadi bisnis ‘orang Jakarta’?!

Tahun 2004 saya berkesempatan menginjakkan kaki ke Ternate dan sekitarnya. Saya ikut bermain ‘Bamboo Gila’.Sebuah batang bambu yang setelah dijampi-jampi, akhirnya memiliki kekuatan ‘magis’ yang membuat pemegangnya pontang-panting terbawa kekuatan sang bamboo.Hanya perasaan senang disamping rasa lelah dan keringat yang bercucuran memainkan ‘mainan’ ini. Tapi kekuatan ‘magis’ bamboo gila sepertinya tak lenyap begitu saja di daratan Maluku Utara.Setelah ‘kisruh’ Pilkada Gubernur yang berlarut-larut, Tobelo dan Galela juga terseret konflik etnis yang berkelanjutan. Banyak desa yang terbakar dan banyak pengungsi yang masih ‘trauma’.Kesadaran politik dan kesadaran Berbangsa, hilang begitu saja rasanya, seperti hilangnya logika dipermainkan bamboo gila.

Kisah-kisah politik di Maluku Utara, berbanding terbalik dengan kondisi alamnya yang memang seperti surga. Batu akik dari Pulau Bacan dan ikan tuna yang melimpah untuk di ekspor ke Jepang. Serta Gugusan pulau-pulau kecil yang berpantai pasir putih [Pulau Gurauci], terumbu karang dan lautnya yang biru. Dari lereng Gunung Gamalama, saya melihat Ternate sebagai semenanjung pesisir yang sangat elok, berpagar Pulau Tidore dan Halmahera. Dari Pulau Tidore saya melihat Pulau Ternate yang gagah berlindung Gunung Gamalama. Semuanya melengkapi indahnya Surga di Ujung Timur [Indonesia].

Ada sebuah pertanyaan dalam rasa penasaran saya yang tak hilang –hingga tulisan ini saya turunkan, “mengapa Dorce mengambil Gunung Gamalama untuk namanya?”...semoga saja bukan karena efek bamboo gila.[01/02/09]

Minggu, 01 Februari 2009

HARIMAU LEMBAH HARAU – PAYAKUMBUH -1


Hampir di seluruh pelosok Nusantara, mitos atau legenda hidup dengan suburnya dan menjadi ciri khas daerah tersebut. Banyak yang tidak masuk akal dan sepertinya hanya sebuah dongeng pengantar tidur anak-anak. Tapi begitulah sifat mitos atau legenda. Soal benar dan salah menjadi urusan kesekian. Termasuk legenda Harimau Lembah Harau di Payakumbuh, kabupaten Lima Puluh Koto, Sumatera Barat, yang terkenal dengan sebutan kota Batiah. Batiah sendiri sebuah makanan semacam rengginang.

Lembah Harau berjarak sekitar sepuluh kilo dari pusat kota Payakumbuh. Lembah Harau sendiri mempunyai sejarahnya sendiri, meskipun lebih kepada semacam legenda juga. Menurut hikayat, dulunya di atas tebing berdiri sebuah kerajaan. Sedangkan lembahnya merupakan lautan. Suatu hari, putri kerajaan memilih terjun ke laut karena tak diizinkan menikah dengan lelaki yang disukainya. Sang raja lalu memerintahkan rakyatnya mencari jasad sang putri. Namun hingga laut dikeringkan, jenazah sang putri tetap tak ditemukan. Laut yang menjadi daratan itu kini dikenal sebagai Lembah Harau.

Legenda tersebut diperkuat oleh temuan dari survey team geologi Jerman (Barat) yang meneliti jenis bebatuan yang terdapat di Lembah Harau pada tahun 1980. Dari hasil survey team tersebut dapat diketahui bahwa batuan yang ada di perbukitan Lembah Harau adalah batuan Breksi dan Konglomerat yang merupakan jenis bebatuan yang umumnya terdapat di dasar laut.

Memasuki lembah Harau, seperti berada dalam sebuah benteng yang melindungi dari serangan musuh paling berbahaya. Tinggi pagar tebingnya sekitar 150-200 meter. Tebing itu tegak dengan kokohnya yang mengelilingi lembah. Pagar tebing cadas yang curam dan lurus menantang untuk olah raga panjat tebing. Saat ini kawasan lembah Harau sudah menjadi Taman Wisata Lembah Harau dan mempunyai tujuh air terjun (sarasah) yang mempesona. Ketinggian masing-masing air terjun berbeda-beda antara 50-90 meter. Air terjun tersebut mengalir dari atas jurang yang membentang di sepanjang Lembah Harau.

Di Lembah Harau terdapat hutan lindung yang di dalamnya hidup beberapa binatang langka asli Sumatera. Di antara satwa tersebut adalah monyet ekor panjang, primata jenis Maccaca Fascicularis. Bila beruntung, juga bisa menyaksikan harimau Sumatra, beruang, tapir dan landak yang hampir punah.

Lembah Harau sudah menjadi perhatian sejak dulu. Sebuah monumen peninggalan Belanda yang terletak di kaki air terjun Sarasah Bunta (pintu gerbang belok ke kiri) menjadi bukti kalau lembah ini sudah sering dikunjungi sejak 1926. Selain keindahan alam tadi, keelokan lain masih bertebaran di sekitar Lembah Harau. Di dataran tingginya, Anda bisa menemukan cagar alam dan suaka margasatwa seluas 270,5 hektare.

Sedangkan soal legenda Harimau Lembah Harau sendiri adalah cerita penduduk Payakumbuh yang mempercayai selain adanya harimau sumatera asli, ternyata ada harimau jadi-jadian (siluman) yang hidup di lembah Harau. Penduduk setempat menyebutnya inyiak. Begitu masuk gerbang lembah harau, beloklah ke kiri dan terus masuk ke dalam lembah dan setalah melewati tiga kampung, sampailah di daerah tujuh bukit yang terdapat sebuah goa. Di goa inilah dahulu kala bertapa seorang pendekar sakti yang akhirnya menjelma menjadi harimau atau inyiak. Pertapa sakti yang menjelma menjadi harimau inilah yang menguasai lembah harau. Bahkan kemudian inyiak mampu menguasai wilayah gunung Singgalang dan wilayah gunung Merapi.

Inyiak berhubungan dengan orang-orang bunian atau makhluk halus yang juga mendiami tiga wilayah: Lembah Harau, Singgalang dan Merapi. Jadi kalau ada orang pernah bertemu dengan inyiak diyakini orang itu akan diambil orang-orang bunian dan tidak akan pernah bisa kembali ke dunia nyata.

Sebagai catatan: legenda ini sudah dibuat film televisi yang sudah ditayangkan televisi swasta nasional tahun 2008 berjudul Harimau Lembah Harau –ceritanya juga soal harimau siluman tapi tidak menceritakan pertapa sakti dan orang bunian (dan kebetulan juga skenario-nya saya sendiri yang menulisnya).