
Secara kewilayahan jika kita melihat Propinsi Kalimantan Selatan di atlas nasional, maka kita akan mendapati bahwa propinsi ini memiliki wilayah terkecil dibandingkan dengan tiga propinsi lain di Kalimantan.Anehnya lagi kalau kita cermati plat nomor polisi untuk kendaraan, maka daerah ini memiliki kode DA. Sementara propinsi di Kalimantan yang lain memiliki nomor polisi KB [untuk Kalimantan Barat], KH [untuk Kalimanatan Tengah] dan KT [untuk Kalimantan Timur].
Dalam satu perjalanan dengan seorang sopir, dia mengatakan bahwa sudah ‘pas’ kenapa Kalimantan Selatan diberi plat nomor DA, karena menurur si sopir ini DA merupakan singkatan dari “Daerah Air”.Di sepanjang perjalanan saya terus memikirkan, tetapi bagi saya ini merupakan candaan yang sangat bisa dibuktikan.Melalui perjalanan darat saja, di dalam kota Banjarmasin sendiri banyak sekali perlintasan sungai, sehingga mobil yang saya naiki banyak juga melintasi jembatan.
Sungai utama yang menjadi ‘nadi’ di Kalimantan Selatan adalah sungai Barito. Bahkan propinsi ini memiliki jembatan terpanjang [konon di Asia Tenggara] yaitu Jembatan Barito.Jembatan megah yang melintasi sungai Barito yang menghubungkan propinsi Kal-Sel dengan Propinsi Kal-Teng di jalan trans Kalimantan.Tidak salah memang kalau menjuluki Kota Banjarmasin ini sebagai kota seribu sungai dan tentu saja kota seribu jembatan.
Barito memang nafas kehidupan air di Kalimantan Selatan.Sungai ini menjadi jalur utama transportasi dan sungai ini pula menjadi pusat perdagangan. Sebagai bagian dari usaha perdagangan, di salah satu anak sungainya yaitu sungai Kuin dikenal sebuah pasar dengan nama Pasar Terapung [baca – Apung].Pasar ini berada [terapung] di atas air.Jangan merasa aneh dulu, pasar ini terapung di air karena pedagang dan pembelinya pun mengunakan ‘klotok’ [baca – perahu] untuk melakukan transaksi dagang. Walau mungkin tidak biasa bagi kita, perdagangan terapung yang diprakarsai suku Banjar ini memang mengunakan ‘sungai’ sebagai titik temu.
Suku Banjar adalah suku asli yang juga merupakan penduduk Kalimantan Selatan terbesar.Ada tiga kelompok dalam suku Banjar yaitu; Banjar Kuala, Banjar Pahukuan dan Banjar Batang Banyu. Dan rata-rata dari mereka sangat dominan dalam bidang perdagangan.Sebagai daerah air, untuk urusan perdagangan ini memungkinkan saja ada pengaruh dari utusan kerajaan Majapahit serta pedagang-pedagang Arab dan Persia yang menjelajah dan singgah di kota Banjarmasin.
Ada satu yang khas yang harus dicoba kalau pergi ke pasar apung, yaitu cobalah makan soto Banjar di atas klotok. Rasa sotonya nggak kalah dengan soto Banjar yang ada di daratan. Namun yang membedakannya adalah cara makannya yang di atas perahu itu, selain soto yang hangat ini harus segera disantap, dengan makan yang sedikit cepat anda sudah berupaya mengantisipasi ‘goncangan’ gelombang air sungai yang memungkinkan soto anda bisa tumpah.
Meski banyak kabut, karena memang pasar apung ini adanya hanya di subuh hingga pagi hari,saya tak berhenti menghayalkan jalur-jalur sungai yang ada di Banjarmasin ini menjadi kehidupan pariwisata yang nyata. Kalau dilihat dari kartu-kartu pos tentang wisata sungai di Venesia – Italia dengan perahu Gondola, alangkah eloknya pemandangan sungai di sana.Bahkan orang Belanda di Amsterdam memanfaatkan anak-anak sungai [baca – kanaal] juga sebagai ajang wisata air dengan ‘bis’ airnya.
Saya jadi membayangkan juga, hampir sebagian besar kota-kota tua di Kalimantan senantiasa di bangun di tepian sungai. Bagi saya ini jelas merupakan indikasi bahwa sungai telah menjadi bagian kehidupan dalam bentuk apapun [entah pusat pemerintahan, daerah hunian hingga pusat perdagangan]. Sayang mungkin, cerita-cerita ini kelak hanya akan jadi referensi sejarah saja. Kita yang kini telah mengalihkan segala bentuk bangunan dengan kepentingan apapun jauh menjorok ke dalam menuju daratan.
Sungai-sungai hanya menjadi legenda, daratan kota Banjarmasin termasuk kota dengan tatanan yang agak semerawut.Karena semua aktifitas terpusat pada kehidupan di daratan saja, kini nasib kehidupan sungai menjadi terbelakang.Sungai yang merupakan sumber kehidupan, kini kian kotor, menjadi daerah belakang karena hanya untuk saluran pembuangan saja.
Dengan klotok yang bergoyang-goyang di atas sungai, ketika hendak mengakhiri perjalanan menuju ‘daratan’, saya tetap menghayalkan; kalau pasar apung saja sudah bisa memberikan warna kehidupan sungai Barito, lalu kapan pasar apung menjadi super market apung yang dalam bayangan saya tentulah akan memberi dampak kehidupan yang lebih besar lagi.
Saya sedang tidak mabuk perjalanan di atas sungai, bayangan ini murni sebuah khayalan semata...[11/02/09]




