Jumat, 04 September 2009

Indonesia, We Love U Full


Di sana tempat lahir Beta,
Dibuai dibesarkan Bunda,
Tempat berlindung di hari tua,
Sampai akhir menutup mata…



Dalam pidatonya yang legendaries, presiden Kenedy mengatakan; “Jangan tanya apa yang bisa diberikan Negara kepada mu, tapi tanyalah apa yang bisa kamu berikan kepada Negaramu”. Tapi di Negara yang tidak memberi, lalu harapan apa yang masih kita pinta?

Jauh sebelum terror Bom yang kita rasa, teror itu telah ada dimana-mana, 40 juta rakyat kita masih dalam ketegori miskin dan mereka selalu diteror dengan kemiskinan dan dijauhkan dari sejahtera oleh negaranya. Penjajahan yang dilakukan barat juga berdampak pada terror budaya yang juga dirasa oleh warga Negara kita. Setiap kali Malaysia berulah untuk mengklaim aset budaya kita, maka sebagai sebagai bentuk solidaritas warga Negara darah kitalah yang mendidih lebih dahulu baru berikutnya urusan diplomasi dilakukan oleh Negara.

Selain administrasi kependudukan [KTP] dan administrasi migrasi antar Negara [Pasport] yang diberikan atas nama Negara, selain itu semua urusan kitalah yang memberi kepada Negara. NPWP, PBB, semua urusan kita yang dikenai pajak.Negara adalah suatu wilayah di permukaan bumi yang kekuasaannya baik politik, militer, ekonomi, sosial maupun budayanya diatur oleh pemerintahan yang berada di wilayah tersebut. Negara adalah pengorganisasian masyarakat yang mempunyai rakyat dalam suatu wilayah tersebut, dengan sejumlah orang yang menerima keberadaan organisasi ini. Syarat lain keberadaan negara adalah adanya suatu wilayah tertentu tempat negara itu berada. Hal lain adalah apa yang disebut sebagai kedaulatan, yakni bahwa negara diakui oleh warganya sebagai pemegang kekuasaan tertinggi atas diri mereka pada wilayah tempat negara itu berada.
Teori besar sebuah Negara, menempatkan rakyat hanya sebagai syarat…selain wilayah, pemerintahan, mendapat pengakuan /dukungan politik dari Negara lain. Hubbul wathon minal iman, Negara macam apa yang harus diyakini sampai sampai ke iman? Kalaulah system pemerintahan di jaman setelah Rasulullah SAW wafat, yaitu jaman Khulafa'ur Rasyidin : ini adalah contoh Negara dengan konsep pemimpinya peduli dengan rakyatnya dan Negara yang melindungi rakyatnya. Bukan Negara yang cuci tangan. Menempatkan hukum sebagai junjungan dan tidak mempermainkan hukum di bawah tangan segelintir kekuasaan.

Pada jaman itu, Etika yang dijunjung tinggi oleh Pemimpin Pemerintahan dan Masyarakatnya, adanya Kejujuran dan Integritas Masyarakat dalam kehidupan sosial, Pemerintahan dan Individu dengan Sikap yang tinggi mau bertanggung-jawab, Menghormati hukum dan aturan masyarakat sebagai norma dan azas keadilan tunggal, serta Menghormati hak warga atau orang lainnya dalam tata kehidupan sehari-hari.Mungkin bentuk Negara semacam inilah yang dimaksud untuk kita imani.Sayang di Negara yang kita cintai ini, masih berbau kerajaan. Demokratisasi diterjemahkan sebagai hubungan minta disembah, juga minta upeti.dan abdi negaranya minta dilayani bukan melayani.

• Aristoteles
Negara adalah perpaduan beberapa keluarga mencakupi beberapa desa, hingga pada akhirnya dapat berdiri sendiri sepenuhnya, dengan tujuan kesenangan dan kehormatan bersama.

Bagaimanapun kita telah menjadi Indonesia, lebih dari yang dipikirkan Negara untuk kita sebagai warganya.walaupun Nasionalisme kita masih dengan nasionalisme yang marah-marah, cinta/patriotisme yang kita miliki masih merupakan cinta/patriotisme yang penuh nafsu tetapi kita tak akan tinggal diam ketika bangsa dan orang lain mengambil; Pulau Ambalat, angklung, reog ponorogo, batik, lagu rasa sayange, serta tari pendet.

“Biarpun bumi bergoncang, kau tetap Indonesiaku”, kata Gombloh [alm] itu tak akan mengecilkan kita menjadikan Negara ini sebagai tumpah darah kita dan “Tempat berlindung dihari tua sampai akhir menutup mata”, kata Ismail Marzuki…Setidaknya kita masih memiliki mimpi bersama [yang tentu saja lebih indah daripada mimpinya Negara], yaitu mimpi tentang; Pendapatan perkapita tinggi, Angka kematian kecil, Tingkat pendidikan tinggi, Iptek telah di kuasai, Keadaan perekonomian lebih baik, Fasilitas di segala bidang terpenuhi, serta krisis lingkungan segera teratasi…dan sebagainya…dan sebagainya…


Di Negara yang tidak memberi, Janganlah pernah meminta? Cinta itu adalah memberi bukan meminta.Cinta itu, nyaris seperti yang dilantunkan Ebiet dalam lagu “Apakah ada bedanya”…
Cinta yang kuberi,
setulus hatiku,
entah yang kuterima,
aku tak peduli…

Rabu, 02 September 2009

MALAM


Malam adalah suatu masa (waktu) di mana sebuah tempat sedang berada pada posisi yang tidak berhadapan dengan matahari, dan oleh karenanya menjadi gelap. Pada saat belahan planet bumi sedang mengalami waktu malam hari ini, belahan lainnya akan mengalami waktu siang hari. Malam hari kadang-kadang didefinisikan sebagai waktu antara tenggelamnya matahari di ufuk (horizon) sebelah barat sampai munculnya matahari di ufuk sebelah timur pada keesokan harinya.

Karena rotasi bumi yang berputar dari arah barat ke timur, maka siang dan malam hari akan saling berselang-seling, dan membentuk satu hari yang terdiri dari 24 jam.
Lamanya waktu malam akan berbeda-beda untuk musim yang berbeda, terutama untuk daerah yang mendekati kutub. Di negara Amerika Serikat misalnya, pada saat musim panas (bulan Juli dan Agustus) malam akan lebih pendek dari pada saat musim dingin (bulan Desember dan Januari).

Untuk menggambarkan suasana malam adalah sering terlontar dalam bahasa pergaulan kita sehari-hari diantaranya;
- Malam Pertama, Malam bahagianya pengantin baru
- Malam Terakhir, Malam kesedihan sepasang kekasih yang hendak berpisah
- Malam 1 Suro, Malam dengan suasana yang diyakini sakral bagi orang Jawa
- Malam Jum’at Kliwon, Malam dengan suasana mistis yang meneganggkan
- Malam Kudus, Malam yang suci bagi kaum nasrani
- Malam Minggu, Malam kecan pemuda-pemudi

Malam senantiasa merupakan suasana keheningan.Ketika rata-rata seseorang kembali ke pangkuan singgasana peristirahatan. Menghela sejenak kepenatan harian sambil berharap mimpi indah akan datang.Malam di kesunyian, banyak orang kembali terjaga untuk melakukan perenungan terhadap hidup yang terus berputar, untuk sejenak menoleh ke dalam mengenali dan menyesali tentang diri sendiri.

Saya sering merasakan malam yang panjang, ketika saya tidak mampu memejamkan mata untuk pergi rehat.mengetik ratusan kata-kata yang seakan meluncur begitu saja dalam komputer, memainkan pena untuk mengoreskan apa saja yang terasa ke permukaan kertas.Semua peristiwa yang baru atau telah lampau dialami berkelebat datang kembali.Orang menyebutnya kenangan, dan di malam-malam yang panjang itu saya melamuni kenangan dalam perjalanan hidup saya.

Kenangan yang indah dalam hidup, seakan enggan saya tinggalkan dalam lamunan. Sementara kenangan yang tidak mengenakkan dalam hidup juga terkadang terlalu berat untuk dilupakan, ia berkutat-kutat menghajar dan menerjang rasa kantuk di sepanjang malam.Lalu perlahan ketika langit menjadi terang pada subuh menjelang fajar, apapun kenangan dalam lamunan itu perlahan mulai menghilang seiring mata dan pikiran saya yang lelah terbuai rasa kantuk yang sangat.

Saya mengagumi malam seribu bulan, bahkan saya pun tertegun menyimak syair yang dibuat Taufik Ismail, betapa begitu lurus, bersih dan sempurnanya deskripsi imajinatif akan datangnya Lailatul Qodar tersebut…

Margasatwa tak berbunyi
Gunung menahan nafasnya
Anginpun berhenti
Pohon-pohon tunduk
Dalam gelap malam
Pada bulan suci

Qur’an turun ke bumi
Qur’an turun ke bumi

Inilah malam seribu bulan
Ketika cahaya sorga menerangi bumi
Ketika cahaya sorga menyinari bumi
Inilah malam seribu bulan
Ketika Tuhan menyeka airmata kita
Ketika Tuhan menyeka dosa-dosa kita

Tuhan dalam keyakinan yang saya anut senantiasa mengajarkan saya untuk tidak berputus asa atas rahmad-Nya.Untuk malam seribu bulan yang dijanjikan Nya, saya malu – saya sungkan untuk memintanya datang pada saya.Saya tahu diri untuk memohonnya; seharusnya saya tidak hanya mengharapnya di satu bulan ramadhan ini saja, seharusnya saya menantinya sambil terus tetap setia dengan keyakinan di sepanjang tahun, di sepanjang usia hidup saya, di sepanjang ada dan tidak ada harapan apakah bisa berjumpa dengan-Nya?

Di sepanjang malam saya berharap, hanya air mata yang menemani hingga fajar datang dan menidurkan harapan saya…