Sabtu, 31 Januari 2009

Di Tepinya Sungai Serayu (1)




Sebagaimana kota-kota, sungai mempunyai sejarah yang panjang dan tidak kalah terkenal. Khusus di Pulau Jawa, banyak sungai yang legendaris. Sungai Berantas di Jawa Timur yang dulu terkenal sebagai urat nadi Majapahit, Bengawan Solo yang terkenal ke seluruh dunia karena lagu ciptaan Gesang, Ciliwung yang telah sangat meng-Indonesia karena banjirnya. Sedangkan di Jawa Tengah di bagian tengahnya, mengalir Sungai Serayu yang nyaris di lupakan.

Sungai ini berhulu di pegunungan Dieng dan bermuara di Samudera Hindia melewati Wonosobo, Banjarnegara, Purbalingga, Purwokerto/Banyumas, Kebumen dan Cilacap. Seperti sungai-sungai lain yang menebar terornya dengan banjir, Serayu juga mempunyai masalah tahunan yang kompleks itu. Khususnya untuk masyarakat Banyumas, Kebumen dan Cilacap, karena letaknya yang relatif rendah di banding daerah aliran Serayu lainnya. Dan ternyata soal banjir telah menjadi kegiatan rutin tahunan sejak jaman dulu kala.

Dalam buku babad (sejarah) Bandjir Serajoe Banjoemas tahun 1582, tertulis kalimat: Ana Utjeng Mentjlok Ing Manggar artinya: "Ada Uceng (sejenis ikan) hinggap di Manggar (mayang kelapa)". Ungkapan itu menunjukkan bahwa pada tahun 1582 pernah terjadi banjir Serayu yang besar dengan genangan air setinggi pohon kelapa sehingga ada ikan yang hinggap bunga buah kelapa.

Di Banjarnegara, Serayu membelah kota sawah itu (Banjar = sawah) dan telah dimanfaatkan untuk menghidupi petani sejak dulu kala. Tapi irigasi untuk pertanian dibangun sejak jaman kolonial. Beberapa proyek irigasi yang memanfaatkan Sungai Serayu yaitu Jaringan Irigasi Singomerto dan Banjarcahyana yang letaknya 1 km dari pusat kota Banjarnegara. . Tahun 1938 dibuat sifon (saluran bawah tanah) di bawah anak sungai Serayu, yaitu Banjarcahyana. Presiden Soekarno mengunjungi bangunan itu tahun 1952 dan sangat mengaguminya. Di situ pula pertemuan tiga sungai: Serayu, Merawu dan Palet.

Serayu juga dimanfaatkan untuk pembangkit listrik tenaga air yaitu PLTA Mrica, yang terletak di desa Binorong, kecamatan Bawang kira-kira 10 km dari pusat kota ke arah barat. Bendungan yang dinamakan Bendungan Panglima Besar Soedirman yang di operasikan mulai tahun 1988 yang diresmikan Presiden Soeharto, dan memiliki kapasitas terpasang 184,5 megawatt untuk memasok 30% kebutuhan listrik Jawa Tengah. Tidak hanya untuk pembangkit listrik, air bendungan tersebut juga dimanfaatkan untuk mengairi sawah di tiga Kabupaten, Banjarnegara, Purbalingga dan Banyumas. Masih merasa kebutuhan listrik Jawa Tengah kurang, dibangun lagi PLTA Tulis di kecamatan Pagentan, yang memanfaatkan anak sungai serayu lain yaitu Kali Tulis.

Seperti juga pertumbuhan kota-kota, ‘Kota Sawah’ ini telah mulai tergerus jaman karena kontribusi sector pertanian semakin menyusut. Rata-rata turun 2 persen tiap tahunnya. Kelihatan kecil tapi seperti kata pepatah, sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Padahal secara geografis, lebih dari separuh wilayah kabupaten ini merupakan pegunungan. Secara umum Kabupaten ini dibagi menjadi 3 zona:
- Zona Utara, adalah kawasan pegunungan yang merupakan bagian dari Dataran Tinggi Dieng, Pegunungan Serayu Utara. Zona ini berbatasan dengan Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Batang dan terdapat beberapa puncak gunung, seperti Gunung Rogojembangan dan Gunung Prahu.
- Zona Tengah, merupakan zona aliran sungai Serayu yang cukup subur.
- Zona Selatan, merupakan bagian dari Pegunungan Serayu.

Di pulau Jawa ada dua jalur utama yang terkenal yaitu Pantura atau Pantai utara jawa dan jalur selatan. Tapi yang tidak banyak dikenal dan dipergunakan adalah jalur tengah yang melintasi jalur utama Banjarnegara yang merupakan jalan provinsi yang menghubungkan antara kabupaten Banyumas di bagian Barat dengan Magelang dan Semarang di bagian Timur. Selain itu terdapat jalan provinsi yang menghubungkan Banjarnegara dengan kabupaten Batang, melintasi Dataran Tinggi Dieng.

Kuliner khas Banjarnegara yang sudah melanglang buana adalah Dawet Ayu dan tempe mendhoan (khusus tempe mendoan hampir semua wilayah ex Karesidenan Banyumas juga tersedia). Dawet ayu adalah jenis minuman yang Terbuat dari Cendol Tepung beras, gula aren, gula Kelapa, santan dan kadang di kombinasi dengan nangka. Dan cendol biasanya berwarna Hijau. Sedangkan buah yang paling terkenal adalah salak –terutama salak pondoh, dimana di pusat kota terdapat pasar khusus salak.

Seperti Bengawan solo yang dijadikan inspirasi lagu keroncong dan terkenal sampai mancanegara, Serayu juga menjadi inspirasi seorang komposer bernama Soetedja dengan menciptakan lagu berjudul Di Tepinya Sungai Serayu tahun 1940an. Soal terkenal lagu Bengawan Solo jauh lebih terkenal (disamping juga karena sungainya sendiri begitu terkenal sejak jaman purbakala, dimana Jaka Tingkir menyusurinya dengan diiringi empatpuluh buaya menuju Demak). Kenapa lagu Di Tepinya Sungai Serayu tidak mampu seterkenal Bengawan Solo? Ada rumus dagang yang mesti terlibat, tapi rumus keberhasilan lainnya adalah tidak pernah bisa diurai kenapa ini bisa dan lainnya tidak. Jadi lebih baik nikmati saja lagunya:

ditepinya sungai serayu
waktu fajar menyingsing
pelangi merona warnyanya
nyiur melambai-lambai
warna air sungai nan jernih
perahu berkilauan
desir angin lemah gemulai
aman tenteram dan damai
gunung slamet nan agung
tampak jauh di sana
ref:

bagai sumber kemakmuran
kerta kencana
indah murni alam semesta
tepi sungai serayu
sungai pujaan bapak tani
penghibur hati rindu --()

Jumat, 30 Januari 2009

“Aceh Lon Sayang – Aceh 1”.


Negeri Aceh konon merupakan ‘serambi’ besar dan terlengkap yang pernah di miliki republik ini. Aceh telah ‘go international’ jauh sebelum Republik ini berdiri. Melihat Aceh merupakan sebuah cermin luas dimana sebuah peradaban dunia yang saling bertaut dan melebur di sebuah dermaga dagang yang langsung berhadapan dengan samudera Hindia. Membaca Aceh adalah membaca akulturasi budaya yang sangat kental.Orang-orang Aceh yang tinggal di pesisir pantai secara bercanda mengurai Aceh sebagai A=Arab, C=China, E=Eropa dan H=Hindia [baca – India].

Anda tentu bisa membayangkan bagaimana jadinya jika empat wilayah etnis dengan latar kebudayaan masing-masing di dunia ini melebur menjadi satu dalam Aceh! Bangsa Arab dikenal sebagai bangsa dengan latar budaya lahirnya agama-agama besar di dunia.Islam, Nasrani, Majusi dan Yahudi berakar kuat dan mendarah daging di sana.Maka, pada satu dimensi keyakinan pada budaya Aceh, hidup – mati untuk tuntunan mendirikan tiang agama.Dari jabang bayi, orang Aceh dininabobokan dengan lagu maju ke medan perang untuk membela agama.Kuat raga, kuat jiwa maka kuat pula keyakinannya.

Dari negeri China adalah negeri di mana tempat tumbuhnya segala macam ilmu pengetahuan.China nyaris menjadi perpustakaan bagi ilmu kesenian, pertanian, kedokteran dan science teknologi. Sebagaimana sering didengar; carilah ilmu, walau sampai ke negeri China sekalipun.Anda tentu bisa mengira-ngira, kalau mereka pandai berdagang tentulah karena ada ilmunya.Begitupun, kalau mereka terlihat gigih berusaha tentulah pula karena ada ilmunya.

Lalu bagaimana sosok budaya Eropa yang berimbas pada kebudayaan Aceh? Karakter Eropa adalah karakter yang yakin betul bahwa mereka merupakan bangsa yang lebih unggul dibanding bangsa lain di dunia. Mereka lebih tinggi dan tak pernah mau direndahkan. Ini tipikal martabat bangsa yang menguasai dan bukan bangsa yang dikuasai, apalagi ditindas.Sejarah nasional mencatat bahwa perlawanan terlama dan memerlukan stamina serta penaklukan yang besar atas kegigihan-kegigihan sang pemberani dari Aceh, baik laki-laki maupun perempuan.Teuku Umar, Tengku Cik Dik Tiro, Cut Nyak Dhien adalah pengobar perlawanan yang tinggi martabatnya. Aceh adalah bangsa yang gagah!

Banyak yang menyangka Hindia atawa India nempel pada budaya Aceh hanya sosok fisiknya saja. Secara berseloroh sering disebut India jahe-jahe…?? hidungnya mancung, warna kulit agak gelap mungkin juga pandai menyanyi dan menari…?? Tetapi secara kebudayaan sebenarnya bisa dilihat bahwa warisan India pada kultur Aceh ini adalah warisan kesetiaan pada etnisnya yang tinggi. Orang Aceh kebanyakan sangat kental tradisinya.Tradisi yang menjadi corak sehingga lebih mudah dikenali sebagai indentitas [baca – tanda pengenal] kebudayaan.

Anda jangan buru-buru mengiyakan apa yang saya tulis di atas. Memang butuh pembuktian [syukur-syukur bisa ilmiah]!

Saya tadinya juga menyangsikan ‘gurauan’ ini. Dari seorang teman Aceh yang saya kenal…saya melihatnya sebagai sosok yang gagah fisiknya, agak sedikit berbau arogan cara bicaranya… [saya bathin dalam hati; inikah Eropanya?].Teman saya inipun pandai berdagang, perdagangan perhiasan sangat dia kuasai, bujuk rayunya, cara menyakinkannya semuanya terasa ‘pas’… [saya bathin dalam hati; inikah Chinanya?].Soal beribadah, teman saya ini penganut Islam yang taat.Sholatnya rajin, baca Al-Quran-nya pun bagus, pengetahuan agamanya juga sangat baik…[saya bathin dalam hati; inikah Arabnya?].yang paling saya mudah kenali bahwa teman saya ini orang Aceh adalah pada ekspresi kulinernya; mie Aceh, martabak Aceh, kari Aceh, Roti Cane dsb, padahal teman ini sudah pernah hidup di negara orang di lain benua, namun lidahnya serta seleranya masih sangat Aceh…[saya bathin dalam hati; inikah Indianya?].

Saya hanya bisa menbathin Aceh dalam gugusan pertautan kebudayaan yang sangat besar.Terlepas dari benar – tidaknya gurauan di atas, saya menaruh respect yang tinggi atas Aceh dan respect ini tidak hanya ada dibathin hati saya, tetapi ada juga dalam pergaulan saya dengan kebudayaan Aceh secara umum.

Memang tidak salah mengapa lagu ‘Bungong Jeumpa’ [Bunga Cempaka] begitu terasa ‘pas’ dilagukan untuk peleburan besar budaya-budaya di Aceh yang terjadi begitu indah;

Bungong Jeumpa, bungong Jeumpa, megah di Aceh
Bungong telebeh, telebeh indah lagoina
Puteh kuneng, mejampu mirah
Keumang si ulah, cidah that rupa

Bunga cempaka, bunga cempaka mashur di Aceh
Bunga indah, bunga indah tiada tara
Putih kuning, bercampur merah
Bunga sekuntum, elok rupanya…[28/01/09].

Senin, 26 Januari 2009

“Dari Bukit Lapale Menuju Tanah Marapu – Sumba 1”.


Tanah Marapu.
Saya datang ke Sumba untuk pertama kalinya pada tahun 1996.Pada waktu itu saya bekerja untuk Lieden University dalam rangka pembuatan Etnografis Film.Cukup lama saya tinggal di sana berkisar 4 bulanan. Dari Bali menempuh perjalan kurang lebih 1 jam dan 30 menit saya sampai di bandara Waingapu di kabupaten Sumba Timur.Dari Timur kembali lagi ke arah Barat melalui perjalanan darat kurang lebih 3 jam ke Waikabubak di kabupaten Sumba Barat.

Kami tinggal di rumah bapak guru Lendi dan mama Ester di daerah Laboya [orang Sumba sering menyebutnya Lamboya]. Di rumah semi permanent ini kami jadikan base camp untuk tempat kerja sekaligus tempat tinggal. Sementara wilayah kerja kami kebanyakan di bukit Sodana [biasa juga di sebut Hodana].Di atas bukit ada perkampungan adat yang dihuni para Rato [ pemimpin Adat]. Dari para Rato inilah segala bentuk ritual yang menyangkut kehidupan sehari-hari di bidang pertanian dan segala aspek ritual keyakinan dikendalikan. Tuhan mereka dalam keyakinan animisme adalah Paraeng Marapu yaitu segala kekuatan ghaib pada roh-roh yang mendiami benda-benda; pohon, batu dan sebagainya yang diyakini mengendalikan bumi Sumba.

Sodana sendiri merupakan bukit terjal, tandus dan bebatuan. Dari Base camp kami ditempuh dengan berjalan kaki normal sekitar 2 jam.Tidak ada sumber air di atas sana, sehingga para ibu dan gadis remaja harus turun ke lereng bukit untuk mengambil air memasak.Mereka menaruh ember berisi air di atas kepala mereka dan kembali lagi menuju rumah mereka di atas bukit.Bisa anda bayangkan; selain faktor volume air yang berat, keseimbangan badan juga dibutuhkan, mungkin anda juga harus mengukur berapa kekuatan tenaga perempuan-perempuan itu? Pastilah sungguh perkasa! Jangan pikir kaum lelaki akan jatuh kasihan, dalam struktur pembagian tugas masyarakatnya maka yang mengambil air dan memasak adalah tugas perempuan!

Rumah mereka terbuat dari bambu beratapkan alang-alang. Rumah ini cukup tahan gempa karena masing-masing rangkaiannya hanya diikat, tidak ada yang permanent.rumah mereka selalu dua tingkat, bagian atas untuk mereka tinggal dan bagian bawah untuk kandang babi dan ternak lainnya seperti kuda dan ayam.Jadi jangan heran, jika anda bertamu di beranda rumah bambu itu maka akan sering sekali terdengar dengkuran suara babi atau suara ribut babi yang berantem entah karena berebut makanan atau sedang bercanda gurau.Jangan salah lho, bagi sebagian besar masyarakat Sumba daging babi merupakan jenis konsumsi daging yang ‘bergengsi’ dibanding daging sapi, kambing atau daging ayam.

Di tanah kering inilah saya melihat ketertinggalan yang teramat jauh.anak-anak mereka banyak yang tidak sekolah, penyakit malaria hampir pernah diderita oleh semua penduduk desa.Padahal dalam hitungan jam mereka bisa menemukan sekolah dan juga Puskesmas. Anak-anak kecil disiang hari berselimut sarung lengkap menutupi badan kurus mereka yang menggigil karena denam. Penyakit ini cenderung dibiarkan saja, mereka akan menunggu siklusnya, bisa 3 hari, bisa juga 7 hari penyakit ini akan menghilang [sementara waktu]. Jika sangat terpaksa malaria mereka bawa ke Puskesmas inkubasi penyakit itu sudah sangat akut. Kalau sudah seperti ini, biasanya mereka akan dibentak-bentak dikitlah oleh mantri Puskesmas yang kesal. Mereka cukup diam saja. Kemiskinan nyaris sama seperti Marapu mereka, ghaib dan mengendalikan mereka.

Pasola.
Dalam brosur-brosur perjalanan wisata yang dalam tulisan berbahasa inggris maupun bertulisakan huruf kanji Jepang dalam perjalanan pesawat menuju bandara Ngurah Rai Bali, saya mengenali Sumba melalui ‘tourist attraction’ yang disebut Pasola. Pasola adalah sebuah perang tombak berkuda di tanah lapang. Padahal setelah berbulan-bulan tinggal di Sumba, saya baru mengetahui bahwa Pasola sendiri merupakan bagian di ritual pengorbanan di penghujung bulan ‘Padu’ [bulan musim panas] sebagai persembahan kesuburan bagi pertanian untuk memasuki bulan ‘Nyale’ [bulan penghujan].Maka jangan heran, bila tombak-tombak menghasilkan banyak darah dalam Pasola dari tubuh penunggang kudanya, bukan sesal yang didapat, melainkan teriakan bangga dan senang dari yang menyaksikkan. Ini dianggap pertanda baik bahwa musim tanam mendatang diperkirakan akan mendapatkan hasil tani yang bagus. Begitu pula dengan penunggang kuda yang berdarah-darah terkena tombak, inipun dianggap baik bagi peruntungan pribadi beserta keluarganya di masa mendatang.

Menurut para Rato, Pasola belakangan ini sering digelar bukan pada waktunya [secara ketentuan adat], para Rato pun tak cukup kuat menolak karena ini sudah perintah orang kecamatan yang sudah mendapat order dari kabupaten. Ini kadang-kadang kompromi pemda dengan ‘paket’ bulan kunjugan wisata. Memang tidak bisa dipungkiri, kadang ada pula faktor keamanan berbuntut keusuhan, faktor kecelakaan dan atas nama modernisme ritual ini juga mulai ditinggalkan generasi sekolahan, para Rato juga ada yang sudah pindah keyakinan. Menjadi tidak mengherankan jika kini Pasola sebagai ritual sering diterjemahkan kemana-mana tanpa makna yang berarti.

Patukna [Pajura].
Suatu hari di siang yang terik di bulan Padu semua warga Sodana tumpa ruah di Acara bersih-bersih We Katodo [hutan adat]. We Katodo sendiri terletak di lereng bukit Sodana.Istilah kerennya Buffer Zone [daerah penyangga]. Hutan yang tak begitu luas ini sangat dijaga secara ketat oleh aturan adat. Sehingga banyak aktifitas warga yang tidak berhubungan dengan hutan ini kecuali yang bersifat ritual. Warga tidak boleh menebang kayu secara sembarangan di hutan ini. Dan pada bulan Padu ini warga diwajibkan ikut serta dalam menjaga sumber mata air karena menurut legenda warisan leluhur mereka ada seekor ular yang merupakan bagian dari nenek moyang mereka yang tinggal dan hidup di mata air ini, dan ular inilah yang menjaga kestabilan tanah di bukit Sodana. Sekali lagi istilah kerennya adalah kearifan local berbasis lingkungan.

Sementara acara bersih-bersih berlangsung, ada warga yang bertugas memasak umbi-umbian yang dibakar dengan daun-daun kering dari hutan. Umbi-umbian ini merupakan sumbangan dari berbagai kelompok warga-warga desa untuk ritual ini.Umbi-umbi ini semua dari hasil tanam warga sendiri.Setelah acara bersih-bersih We Katoda selesai, setelah seorang Rato memberi Bara [baca – Do’a], maka hasil umbi-umbi bakar ini di sajikan bersama untuk semua warga yang hadir.

Acara makan-makan ini tak berlangsung lama, setelah mendengar teriakan-teriakan dan sesekali canda gurau, acara selanjutnya di hutan ini adalah Patukna atau juga Pajura. Gemuruh suara orang-orang bersorak sorai mengiringi mereka-mereka yang hendak berlaga. Ya, Patukna atau Pajura adalah sejenis Fighting Boxing. Tanpa ronde hanya akan ada aba-aba dari wasit yang menandakan siapa yang dinyatakan menang dan siapa yang dinyatakan kalah.Acara pukul memukul wajah dan tubuh lawan ini diikuti oleh anak-anak kecil, remaja bahkan orang tua. Tidak sedikit yang terluka, dan tentu saja ada darah yang berceceran dan disana ada kesuburan yang dijanjikan.Acara di hutan We Katodo ini merupakan acaranya lelaki dan perempuan dilarang memasuki hutan ini! Jadi jangan khawatir, kaum perempuan tidak akan kena bogem mentah laki-laki di sini?!


Kalango.
Sepanjang musim Padu adalah musim yang sangat panas [kita mengenalnya musim kemarau – red].Pada musim ini jika dilihat dari udara, Sumba adalah bumi yang berwarna coklat.Semua mengering, termasuk safana-safana yang menghijau dan sangat indah di musim Nyale.Musim Padu ini nyaris menjadi musim ‘survival’. Ketika tidak ada aktifitas pertanian, tidak ada pengembaraan ternak serta sumber mata air yang mengecil, nyaris orang-orang di sana hanya mengandalkan ‘stock’ pertanian di tahun yang lalu. Jadi alangkah beratnya hidup mereka jika hasil pertanian musim lalu tidak memenuhi target seperti yang diharapkan.

Menjelang pergantian musim ini udara menjadi sangat gerah, di panas yang terik tentu saja menyilaukan mata, saya sangat kelelahan karena menahan rasa haus yang sebentar-sebentar datang dan rasanya ingin minum terus.Tapi boleh percaya atau tidak, penduduk desa telah menyiapkan serangkaian ritual yang menyakini mereka bahwa hujan pasti datang…ritual pertama adalah para lelaki yang bertopeng hitam, berbalut kain hitam keluar dari sebuah rumah adat, anak-anak kecil dan wanita tunggang langgang berlarian, jerit histeris ketakutan dan sesekali di tutup dengan derai tawa kelucuan.Tidak ada yang tahu [setidaknya dirahasiakan] siapa para lelaki bertopeng itu?

Lalu para perempuan paruh baya mulai merasakan pandangan mata yang berkunang-kunang, ada nyayian mistis yang terujar dari mulut mereka dan ketika tarian topeng terhenti, derai hujanpun turun ke bumi Sumba.Orang-orang menjadi Kalango [baca – kesurupan;trance] dikala hujan pertama turun dan tidak pandang bulu siapa saja bisa kalango. Kebanyakkan memang para wanita yang mengalami kalango.

Dalam terjemahan bebas yang sempat saya tangkap, arti salah satu syair yang sempat terujar itu adalah;
Duhai Tuan dan orang-orang, dengar deritaku
Badanku terasa berputar,
Kepala terasa membesar,
Perutpun ikut membesar,
Duhai Tuan dan orang-orang, tolonglah aku…

Bulan keempat ketika saya hendak pulang ke Jakarta, saya tiba-tiba menangis dalam mobil Hard Top yang membawa saya ke Waikabubak. Persis ketika saya melintasi bukit Lapale. Bukit Lapale adalah dataran tertinggi yang sempat terlihat ketika hendak meninggalkan tanah Lamboya dan perbukitan Sodana. Bukit Lapale inilah disebut Bukit yang menggetarkan hati. Karena orang Lamboya merasa baru meninggalkan kampungnya ketika melintasi bukit ini, karena kampungnya tak terlihat lagi dari pandangan mata terhalang bukit Lapale.

Hati saya tergetar, karena saya menyimpan banyak kecintaan di tanah ini.Bagi saya Sumba membawa pesan untuk Indonesia hari ini.Tahun 97, Jakarta berdarah-darah dalam kerusuhan di bulan Mei persis seperti Pasola –orang-orang memerangi bangsanya sendiri dan bangga dengan darah. Dan di era 2000-an ini, dunia politik kita seperti mengalami Kalango –politikusnya kesurupan [perutnya membesar] oleh korupsi dan berputar-putar [badan dan kepalanya membesar] menguber tampuk kekuasaan...

Berita-berita tentang kekerasan kriminalitas, korupsi dan kekisruhan politik, sungguh membuat saya sangat ingin kembali ke Sumba lagi.

THE INSPIRATOR


Dalam keyakinan saya setiap perjalanan tentulah memiliki bermacam-macam motivasi. Dari literature sejarah, banyak kisah perjalanan ‘besar’ yang tercatat sejarah, sungguh mengundang decak kekaguman saya. Dan kisah-kisah sejarah inilah yang terus meng-inspirasi saya ...

Di dalam kisah ‘keimanan’ yang terdapat pada kitab suci agama Islam [baca – Al Qur’an), Nabi Muhammad mendapat mendapat ‘hak istimewa’ dalam perjalanannya sebagai orang suci yang sucikan yaitu, menempuh perjalanan Isra’ dan Mi’raj. Isra’ diterjemahkan sebagai perjalanan dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Palestina. Sementara Mi’raj diterjemahkan sebagai perjalanan dari Bumi ke Sidratul Muntaha – ke lapis langit ke tujuh. Muhammad di temani oleh malaikat Jibril, Muhammad menemui Sang Penciptanya, dan Muhammad mendapat perintah sholat untuk umatnya. Semua perjalanan keimanan bagi Muhammad itu, dilakukan hanya dalam waktu satu malam saja.

Sekitar abad ke 13, pada tahun 1275 Marco Polo membuka lembaran baru dunia kemaritiman dengan membuka jalur pelayaran yang menghubungkan dari arah Barat ke arah Timur.

Searatus tahun kemudian,Cheng Ho menghubungkan dari arah Timur ke arah Barat. Pelayaran-pelayaran Laksamana Cheng Ho, laksana ensiklopedia terapung bagi Dinasti Ming Cina - gabungan semua pengetahuan berharga dari Nanjing hingga Afrika. Ia melakukan perjalanan laut terbesar dengan armada kapalnya, Ia menjalani 7 ekspedisi dan singgah di lebih dari 30 negara.Perjalanan dalam pelayaran yang dilakukan Dinasti Ming didorong oleh alasan yang sangat sederhana, yaitu ambisi besar era Yongle [Kegembiraan Abadi].

Dari kisah penaklukan benua di dunia, kisah sejarah perjalanan Christoper Columbus beserta awak kapalnya melakukan pendaratan di Dunia Baru - menemukan benua Amerika merupakan cerita besar yang terlansir dalam catatan sejarah.Penemuan benua baru ini kemudian disusul pula oleh Vasco da Gama yang berlabuh di Kalkuta India. Setelah itu yang juga perlu diperhitungkan adalah ketika dengan armada maritimnya pula kelompok Ferdinand Magellhan melakukan perjalanan keliling dunia.

Dunia kian mengecil. Penemuan benua dan serangkaian perjalanan laut ini pula yang kelak banyak melahirkan cerita-cerita sejarah dalam balutan; “Gold, Glory and God”. Mungkin saja Cheng Ho, Columbus, Vasco da Gama, Magelllhan dan yang lainnya telah menginspirasi perjalanan kapal-kapal tentara Portugis, Spanyol dan juga kapal dagang VOC-Belanda menjelajah di semenanjung Afrika dan Asia, tidak hanya membelah lautan dalam visi perdamaian, dagang dan kebudayaan saja, sejarah juga mencatat, perjalanan maritim yang lebih modern ternyata hanya membuahkan daerah baru berupa ‘tanah jajahan’ semata.

Dari Tanah Air Ekspedisi utusan Majapahit, setelah sumpah Amukti Palapa-nya Gajah Mada, makna Nusantara menjadi kian meluas yaitu menjadi sebuah bentangan daratan kerajaan-kerajaan yang sekarang kita kenal dengan Asia Tenggara [Laos, Vietnam, Kamboja, Burma, Muangthai, Malaka, dan seluruh wilayah Indonesia].Eskpedisi ini juga tercatat oleh sejarah yang pada akhirnya secara kekuasaan melemahkan kerajaan Srivijaya.

Dianugrahi wilayah berupa gugusan kepulauan yang tersebar ternyata tidak menyurutkan jalur pelayaran di wilayah Negara kita.Dengan misi keagamaan berdatanganlah para Pendeta Budha dari India dan Shiam ke Swarna Bhumi [baca – Sumatera] dan ke Java Dwipa [baca – Jawa]. Bahkan Pedagang-pedagang dari Gujarat mengemban dua misi sekaligus yaitu berdagang sambil melakukan penyebaran agama. Maka masuklah pengaruh Islam dari semenanjung Malaka menuju Tanah Jawa.

Di wilayah Timur Nusantara, saudagar-saudagar Bugis – Makassar menguasai penuh atas parairan Nusantara untuk berdagang rempah-rempah [lada, cengkeh, kina, pala] ke seluruh pelosok wilayah Nusantara. Bahkan dalam konteks politik kewilayahan orang-orang Bugis - Makassar saling berafiliasi menjaga wilayah dagang mereka dengan kerajaan–kerajaan Nusantara lain, seperti terkirimnya pasukan Bugisan di Kerajaan Mataram Yogyakarta.

Sementara itu tanpa misi besar apapun, Suku Bajau yang memang orang laut telah menjadikan perairan Nusantara menjadi Negeri Bahari menjadi halaman sekaligus rumah kehidupan mereka. Suku Bajau beranak-pinak di lautan. Hidup mereka secara nomaden mengikuti siklus musim laut yang ada.Suka Bajau nyaris menjadi pelintas batas yang tak pernah mengenal batas wilayahan.

Dalam Legenda-legenda besar perjalanan selalu melahirkan kisah-kisah ekspedisi perdamaian, pengetahuan, dagang dan kebudayaan, namun tidak sedikit yang membawa kisah-kisah penaklukan,eksploitasi hasil bumi, darah dan air mata ...[25/01/09].

MELINTASI NEGERI BAHARI


merentang waktu, meretas jaman.

Manusia hidup didunia hanyalah untuk melakukan perjalanan –bahkan hanya untuk melintas. Orang Jawa bilang hanya mampir ngombe. Kalau dihitung dengan kurun waktu, amatlah singkat karena rata-rata tak melampuai seratus tahun. Sementara kehidupan ini telah melampaui berjuta-juta tahun bahkan lebih. Begitu juga Indonesia ini telah hidup selama itu.


Dari sabang sampai merauke luas wilayah NKRI adalah 1.904.556 km©˜. Sedangkan menurut Kompas, 5 September 2008 melalui Tim Nasional Pembakuan Nama Rupabumi menyatakan bahwa sedikitnya 6.702 pulau di Indonesia yang belum bernama. Lebih mengejutkan lagi, jumlah pulau yang dimiliki Indonesia tampaknya tidak sebanyak seperti yang selama ini didengung-dengungkan, yakni 17.508 buah!


Berapa luas alam semesta? Pikiran manusia tidak dapat memahami gambaran sesungguhnya tentang ukuran alam semesta. Kita bukan hanya hanya tidak mengetahui berapa besar ukurannya,juga sulit untuk membayangkan berapa besar alam semesta.Jika kita mulai dari bumi dan bergerak, kita akan mengetahui mengapa hal itu demikian. Bumi adalah bagian dari tata surya, tetapi merupakan bagian yang sangat kecil. Tatasurya terdiri dari matahari, planet-planet yang yang mengitari matahari, asteroid-asteroid, yang merupakan planet yang sangat kecil, dan meteor-meteor.

Sekarang keseluruhan tatasurya kita ini semata-mata adalah bagian yang sangat kecil dari tatasurya lain yang lebih besar yang sinamakan "Galaksi" Sebuah galaksi terdiri dari jutaan bintang,yang banyak diantaranya yang jauh lebih besar dari matahari kita, dan mungkin punya tatasurya sendiri. Jadi bintang-bintang yang kita lihat dalam galaksi kita, yang disebut "Bimasakti" semuanya adalah matahari. Bintang-bintang itu kian jauh letaknya sehingga diukur dengan tahun cahaya dan bukan dengan jarak mil.Cahaya bergerak dengan kecepatqan kira-kira 6.000.000.000.000 mil per tahun. Bintang yang paling cemerlang dan paling dekat dengan bumi adalah Alpha Centauri. Tahukah kamu berapa jaraknya? 25.000.000.000.000 mil!!

Galaksi kita sendiri Konon lebarnya kira-kira 100.000 tahun cahaya. Ini berarti 100.000 kali lipat 6.000.000.000.000 mil! Dan galaksi kita hanyalah bagian yang sangat kecil dari sistem yang masih lebih lebar. Kemungkinan besar ada jutaan galaksi dari jutaan galaksi Bimasakti.Dan munkin gabungan dari semua gabungan galaksi ini masih bagian yang lebih kecil dari bagian galaksi yang lebih besar.


Dimanakah kita? Tidak usahlah begitu rumit memikirkan hal-hal yang tak mampu kita jangkau dengan alam pikiran kita. Banyak sekali hal yang tidak bisa kita pahami dengan semua ilmu yang ada pada kita. Jadi mulailah kita melakukan perjalanan saja. Melintasi negeri bahari, merentang waktu, meretas jaman

Sabtu, 24 Januari 2009

IMPIAN LELAKI KECIL



Waktu kecil nenek saya sering mengatakan bahwa, “wong lanang iku dhowo panjangkane” [lelaki itu luas langkahnya].Awalnya ini hanya bujuk rayu nenek supaya saya mau bermain di luar rumah.Tetapi kata-kata ini tidak sekali saya dengar, seiring saya tumbuh layaknya anak-anak yang lain, akhirnya saya merasa ‘bisa’ memaknai kata-kata nenek dalam imajinasi masa kanak-kanak saya. Kata-kata itu saya pahami menjadi; bahwa lelaki harus sering berada di luar rumah, mencari apa yang mau dia cari, lalu ketika pulang ke rumah si lelaki membagi apa yang pernah didapatinya dari luar rumahnya kepada anggota keluarga yang lain.

Bapak saya seorang karyawan swasta di sebuah perusahaan minyak di Sumatera Selatan.Saya bangga kalau melihat bapak pulang dengan mobil produksi/dinas perusahaan, kayak ‘koboi’.Dengan baju berbahan drill [yang tebal dan terkesan keras], safety helmet, serta sepatu tinggi dan aroma ‘lelaki’ yang khas dari sumur minyak.Setelah bertelanjang dada dan menyeruput kopi hanggatnya, biasanya tak lama bapak bercerita dalam obrolan sehari-hari dari mana dia bekerja hari ini, apa yang terjadi di lokasi kerja, masalah-masalah teknis dunia perminyakkan serta printilan-printilan cerita kecil tentang bapak membeli golok hingga buah duren yang musimnya telah mulai.

Sore itu, menjadi sore yang mengasikkan mendengar cerita dari bapak.Inilah cara saya memaknai kata-kata nenek, memang begitu; contohnya seperti bapak, dia berada di luar rumah – di lokasi kerjanya, dan ketika pulang bapak berbagi cerita dari mana ‘perjalanan hidup sebagai lelaki-nya hari ini’.

Sebagai lelaki ‘kecil’ [baca - anak-anak], saya berimajinasi ingin sekali bisa berbagi dengan keluarga yang lain seperti yang bapak saya lakukan yaitu berbagi sepenggal cerita perjalanan sehari-hari.Celakanya, Nyaris tidak ada ‘kue’ cerita yang bisa saya bagi sebagai anak-anak, sebab apa yang saya lakukan juga dilakukan oleh semua anak-anak lain sekomplek [nyaris seragam].Berangkat sekolah dengan rute jalan yang sama, sekolah yang sama, bahkan kelas yang sama, pelajaran dan guru yang sama, olah raga renang di kolam renang yang sama, jajan empek-empek dan es krim dorong dipenjual yang sama, pergi mengaji di mushola dan guru ngaji yang sama…semua serba sama, semua sama ceritanya.

Bertahun-tahun masa kanak-kanak saya dalam keseragaman hidup di sebuah komplek perusahaan.setiap saat saya ingin memeliki cerita yang berbeda, setiap saatlah degup jantung saya kencang berdebar, karena ‘pergi’ lah yang akhirnya menjadi obsesi saya. Kadang diakhir pekan, di hari sabtu apalagi ditanggal ‘muda’ setelah gajian, banyak karyawan perusahaan yang melancong pergi ke Palembang, ada yang berbelanja, ada juga yang sekedar melepas kejenuhan saja. Saat-saat seperti itu saya sangat ingin pergi, saya ingin merasakan perjalanan dari komplek perumahan saya menuju kota besar seperti Palembang.Tetapi, keluarga dan bapak saya tidak terlalu banyak urusan ke Palembang, kepergian ke Palembang itu hanya menjadi impian bagi saya.

Namun sebagai anak-anak, rasa penasaran itu masih terus menghantui. Lega rasanya, di kala sore hari para pelancong dari Palembang itu berdatangan, saya pun kembali mendengarkan cerita-cerita dari mereka.Ada yang berfoto di jembatan Ampera, berbelanja baju di toko yang besar, ada yang membelikan anaknya mainan model baru dan lain sebagainya.Malam harinya menjelang tidur, saya pun menghayalkan perjalanan saya ke Palembang.Dalam tidur kata nenek saya sayapun sering ‘ngelidur’ [saya terjaga dan berjalan dalam keadaan mata masih terkatup], dan setiap ditanya saya selalu menjawab dari ‘bepergian’.

Esoknya nenek bilang, kalau orang tidur sampe bisa ngelindur, sepertinya ada yang tidak ‘tuntas’ yang dipikirkan dihatinya hingga terbawa-bawa ke alam mimpi.Saya hanya mengiyakan dalam hati, sebagai anak-anak waktu itu keinginan saya untuk menikmati perjalanan dalam kepergian saya memang terlalu tinggi, dan itu memang tidak pernah ‘tuntas’ dalam hati saya sampe keinginan itu terwujud.

Salah satu kegembiraan saya yang ‘luar biasa’ adalah ketika bapak libur kerja panjang alias cuti, bapak biasanya akan libur satu bulan penuh dan biasanya bapak akan pergi ke Jawa [baca – Blora] untuk menengok orang tuanya. Saat itulah saat menikmati ‘perjalanan hidup’ saya, karena sebagai anak-anak biasanya saya akan diikutsertakan dalam ‘paket’ liburan itu.Untuk pergi ke Jawa dari Sumatera kala itu membutuhkan waktu tiga hari dan dua malam perjalanan darat.Mulai dari naik bis [dari komplek perusahaan ke stasiun KA Prabumulih], naik kereta api [dari Prabumulih ke Tanjung Karang – Bakahueni], lalu naik kapal laut [Bakahueni – Merak], naik bis lagi [dari Merak – Jakarta], lalu naik kereta api lagi [Jakarta – Semarang] dan naik bis lagi [ dari Semarang – Blora] barulah sampai di tempat tujuan.

Itulah perjanan yang saya lakukan di masa kanak-kanak saya.Setiap selesai melakukan perjalanan, saya ingin mengulang dan mengulangnya lagi. Dan saat itulah, walaupun kecil saya merasa benar-benar sebagai seorang lelaki.Saya bisa pergi ke tempat yang saya mau, dan yang paling penting saya menjadi ‘istimewa’ karena saya mempunyai cerita yang bisa saya bagi, yang pasti tidak sama dengan cerita anak-anak komplek lainnya.

Tapi itulah perjalanan, sebelum dilakukan; saya mengimpikannya dan setelah dilakukan; saya menemui kenyaatannya…[24/01/09]