
Waktu kecil nenek saya sering mengatakan bahwa, “wong lanang iku dhowo panjangkane” [lelaki itu luas langkahnya].Awalnya ini hanya bujuk rayu nenek supaya saya mau bermain di luar rumah.Tetapi kata-kata ini tidak sekali saya dengar, seiring saya tumbuh layaknya anak-anak yang lain, akhirnya saya merasa ‘bisa’ memaknai kata-kata nenek dalam imajinasi masa kanak-kanak saya. Kata-kata itu saya pahami menjadi; bahwa lelaki harus sering berada di luar rumah, mencari apa yang mau dia cari, lalu ketika pulang ke rumah si lelaki membagi apa yang pernah didapatinya dari luar rumahnya kepada anggota keluarga yang lain.
Bapak saya seorang karyawan swasta di sebuah perusahaan minyak di Sumatera Selatan.Saya bangga kalau melihat bapak pulang dengan mobil produksi/dinas perusahaan, kayak ‘koboi’.Dengan baju berbahan drill [yang tebal dan terkesan keras], safety helmet, serta sepatu tinggi dan aroma ‘lelaki’ yang khas dari sumur minyak.Setelah bertelanjang dada dan menyeruput kopi hanggatnya, biasanya tak lama bapak bercerita dalam obrolan sehari-hari dari mana dia bekerja hari ini, apa yang terjadi di lokasi kerja, masalah-masalah teknis dunia perminyakkan serta printilan-printilan cerita kecil tentang bapak membeli golok hingga buah duren yang musimnya telah mulai.
Sore itu, menjadi sore yang mengasikkan mendengar cerita dari bapak.Inilah cara saya memaknai kata-kata nenek, memang begitu; contohnya seperti bapak, dia berada di luar rumah – di lokasi kerjanya, dan ketika pulang bapak berbagi cerita dari mana ‘perjalanan hidup sebagai lelaki-nya hari ini’.
Sebagai lelaki ‘kecil’ [baca - anak-anak], saya berimajinasi ingin sekali bisa berbagi dengan keluarga yang lain seperti yang bapak saya lakukan yaitu berbagi sepenggal cerita perjalanan sehari-hari.Celakanya, Nyaris tidak ada ‘kue’ cerita yang bisa saya bagi sebagai anak-anak, sebab apa yang saya lakukan juga dilakukan oleh semua anak-anak lain sekomplek [nyaris seragam].Berangkat sekolah dengan rute jalan yang sama, sekolah yang sama, bahkan kelas yang sama, pelajaran dan guru yang sama, olah raga renang di kolam renang yang sama, jajan empek-empek dan es krim dorong dipenjual yang sama, pergi mengaji di mushola dan guru ngaji yang sama…semua serba sama, semua sama ceritanya.
Bertahun-tahun masa kanak-kanak saya dalam keseragaman hidup di sebuah komplek perusahaan.setiap saat saya ingin memeliki cerita yang berbeda, setiap saatlah degup jantung saya kencang berdebar, karena ‘pergi’ lah yang akhirnya menjadi obsesi saya. Kadang diakhir pekan, di hari sabtu apalagi ditanggal ‘muda’ setelah gajian, banyak karyawan perusahaan yang melancong pergi ke Palembang, ada yang berbelanja, ada juga yang sekedar melepas kejenuhan saja. Saat-saat seperti itu saya sangat ingin pergi, saya ingin merasakan perjalanan dari komplek perumahan saya menuju kota besar seperti Palembang.Tetapi, keluarga dan bapak saya tidak terlalu banyak urusan ke Palembang, kepergian ke Palembang itu hanya menjadi impian bagi saya.
Namun sebagai anak-anak, rasa penasaran itu masih terus menghantui. Lega rasanya, di kala sore hari para pelancong dari Palembang itu berdatangan, saya pun kembali mendengarkan cerita-cerita dari mereka.Ada yang berfoto di jembatan Ampera, berbelanja baju di toko yang besar, ada yang membelikan anaknya mainan model baru dan lain sebagainya.Malam harinya menjelang tidur, saya pun menghayalkan perjalanan saya ke Palembang.Dalam tidur kata nenek saya sayapun sering ‘ngelidur’ [saya terjaga dan berjalan dalam keadaan mata masih terkatup], dan setiap ditanya saya selalu menjawab dari ‘bepergian’.
Esoknya nenek bilang, kalau orang tidur sampe bisa ngelindur, sepertinya ada yang tidak ‘tuntas’ yang dipikirkan dihatinya hingga terbawa-bawa ke alam mimpi.Saya hanya mengiyakan dalam hati, sebagai anak-anak waktu itu keinginan saya untuk menikmati perjalanan dalam kepergian saya memang terlalu tinggi, dan itu memang tidak pernah ‘tuntas’ dalam hati saya sampe keinginan itu terwujud.
Salah satu kegembiraan saya yang ‘luar biasa’ adalah ketika bapak libur kerja panjang alias cuti, bapak biasanya akan libur satu bulan penuh dan biasanya bapak akan pergi ke Jawa [baca – Blora] untuk menengok orang tuanya. Saat itulah saat menikmati ‘perjalanan hidup’ saya, karena sebagai anak-anak biasanya saya akan diikutsertakan dalam ‘paket’ liburan itu.Untuk pergi ke Jawa dari Sumatera kala itu membutuhkan waktu tiga hari dan dua malam perjalanan darat.Mulai dari naik bis [dari komplek perusahaan ke stasiun KA Prabumulih], naik kereta api [dari Prabumulih ke Tanjung Karang – Bakahueni], lalu naik kapal laut [Bakahueni – Merak], naik bis lagi [dari Merak – Jakarta], lalu naik kereta api lagi [Jakarta – Semarang] dan naik bis lagi [ dari Semarang – Blora] barulah sampai di tempat tujuan.
Itulah perjanan yang saya lakukan di masa kanak-kanak saya.Setiap selesai melakukan perjalanan, saya ingin mengulang dan mengulangnya lagi. Dan saat itulah, walaupun kecil saya merasa benar-benar sebagai seorang lelaki.Saya bisa pergi ke tempat yang saya mau, dan yang paling penting saya menjadi ‘istimewa’ karena saya mempunyai cerita yang bisa saya bagi, yang pasti tidak sama dengan cerita anak-anak komplek lainnya.
Tapi itulah perjalanan, sebelum dilakukan; saya mengimpikannya dan setelah dilakukan; saya menemui kenyaatannya…[24/01/09]


Tidak ada komentar:
Posting Komentar