
Negeri Aceh konon merupakan ‘serambi’ besar dan terlengkap yang pernah di miliki republik ini. Aceh telah ‘go international’ jauh sebelum Republik ini berdiri. Melihat Aceh merupakan sebuah cermin luas dimana sebuah peradaban dunia yang saling bertaut dan melebur di sebuah dermaga dagang yang langsung berhadapan dengan samudera Hindia. Membaca Aceh adalah membaca akulturasi budaya yang sangat kental.Orang-orang Aceh yang tinggal di pesisir pantai secara bercanda mengurai Aceh sebagai A=Arab, C=China, E=Eropa dan H=Hindia [baca – India].
Anda tentu bisa membayangkan bagaimana jadinya jika empat wilayah etnis dengan latar kebudayaan masing-masing di dunia ini melebur menjadi satu dalam Aceh! Bangsa Arab dikenal sebagai bangsa dengan latar budaya lahirnya agama-agama besar di dunia.Islam, Nasrani, Majusi dan Yahudi berakar kuat dan mendarah daging di sana.Maka, pada satu dimensi keyakinan pada budaya Aceh, hidup – mati untuk tuntunan mendirikan tiang agama.Dari jabang bayi, orang Aceh dininabobokan dengan lagu maju ke medan perang untuk membela agama.Kuat raga, kuat jiwa maka kuat pula keyakinannya.
Dari negeri China adalah negeri di mana tempat tumbuhnya segala macam ilmu pengetahuan.China nyaris menjadi perpustakaan bagi ilmu kesenian, pertanian, kedokteran dan science teknologi. Sebagaimana sering didengar; carilah ilmu, walau sampai ke negeri China sekalipun.Anda tentu bisa mengira-ngira, kalau mereka pandai berdagang tentulah karena ada ilmunya.Begitupun, kalau mereka terlihat gigih berusaha tentulah pula karena ada ilmunya.
Lalu bagaimana sosok budaya Eropa yang berimbas pada kebudayaan Aceh? Karakter Eropa adalah karakter yang yakin betul bahwa mereka merupakan bangsa yang lebih unggul dibanding bangsa lain di dunia. Mereka lebih tinggi dan tak pernah mau direndahkan. Ini tipikal martabat bangsa yang menguasai dan bukan bangsa yang dikuasai, apalagi ditindas.Sejarah nasional mencatat bahwa perlawanan terlama dan memerlukan stamina serta penaklukan yang besar atas kegigihan-kegigihan sang pemberani dari Aceh, baik laki-laki maupun perempuan.Teuku Umar, Tengku Cik Dik Tiro, Cut Nyak Dhien adalah pengobar perlawanan yang tinggi martabatnya. Aceh adalah bangsa yang gagah!
Banyak yang menyangka Hindia atawa India nempel pada budaya Aceh hanya sosok fisiknya saja. Secara berseloroh sering disebut India jahe-jahe…?? hidungnya mancung, warna kulit agak gelap mungkin juga pandai menyanyi dan menari…?? Tetapi secara kebudayaan sebenarnya bisa dilihat bahwa warisan India pada kultur Aceh ini adalah warisan kesetiaan pada etnisnya yang tinggi. Orang Aceh kebanyakan sangat kental tradisinya.Tradisi yang menjadi corak sehingga lebih mudah dikenali sebagai indentitas [baca – tanda pengenal] kebudayaan.
Anda jangan buru-buru mengiyakan apa yang saya tulis di atas. Memang butuh pembuktian [syukur-syukur bisa ilmiah]!
Saya tadinya juga menyangsikan ‘gurauan’ ini. Dari seorang teman Aceh yang saya kenal…saya melihatnya sebagai sosok yang gagah fisiknya, agak sedikit berbau arogan cara bicaranya… [saya bathin dalam hati; inikah Eropanya?].Teman saya inipun pandai berdagang, perdagangan perhiasan sangat dia kuasai, bujuk rayunya, cara menyakinkannya semuanya terasa ‘pas’… [saya bathin dalam hati; inikah Chinanya?].Soal beribadah, teman saya ini penganut Islam yang taat.Sholatnya rajin, baca Al-Quran-nya pun bagus, pengetahuan agamanya juga sangat baik…[saya bathin dalam hati; inikah Arabnya?].yang paling saya mudah kenali bahwa teman saya ini orang Aceh adalah pada ekspresi kulinernya; mie Aceh, martabak Aceh, kari Aceh, Roti Cane dsb, padahal teman ini sudah pernah hidup di negara orang di lain benua, namun lidahnya serta seleranya masih sangat Aceh…[saya bathin dalam hati; inikah Indianya?].
Saya hanya bisa menbathin Aceh dalam gugusan pertautan kebudayaan yang sangat besar.Terlepas dari benar – tidaknya gurauan di atas, saya menaruh respect yang tinggi atas Aceh dan respect ini tidak hanya ada dibathin hati saya, tetapi ada juga dalam pergaulan saya dengan kebudayaan Aceh secara umum.
Memang tidak salah mengapa lagu ‘Bungong Jeumpa’ [Bunga Cempaka] begitu terasa ‘pas’ dilagukan untuk peleburan besar budaya-budaya di Aceh yang terjadi begitu indah;
Bungong Jeumpa, bungong Jeumpa, megah di Aceh
Bungong telebeh, telebeh indah lagoina
Puteh kuneng, mejampu mirah
Keumang si ulah, cidah that rupa
Bunga cempaka, bunga cempaka mashur di Aceh
Bunga indah, bunga indah tiada tara
Putih kuning, bercampur merah
Bunga sekuntum, elok rupanya…[28/01/09].


Tidak ada komentar:
Posting Komentar