Senin, 05 Oktober 2009

Perasaan yang Terguncang [guncang]


Perasaan/vedana hanyalah salah satu dari 6 cetasika/faktor batin yang selalu ada pada setiap citta/kesadaran (Sabbacittasadharana cetasika 7).

Perasaan merupakan padanan kata yang lebih tepat untuk vedana dibandingkan dengan sensasi seperti yang sering dijumpai.Seperti halnya kontak, perasaan merupakan sebuah kekayaan penting bagi setiap kesadaran. Perasaan dapat berwujud menyenangkan, tidak menyenangkan dan bukan menyenangkan juga bukan tidak menyenangkan / netral. Perasaan merupakan faktor batin yang merasakan objek ketika objek itu 'kontak' dengan indera.

Ramadhan yang lalu ini kita memasuki musim kering dan bulan kemarau yang terkesan ‘gahar’, jadi terasa betul bagaimana menjalankan puasa dengan haus dan dahaga yang teramat sangat. Namun dengan situasi seperti itu tak lantas mengendurkan ‘perasaan’ kita untuk surut dan menghentikan kita dari beribadah puasa.

Banyak yang berbeda ketika Ramdhan tiba; persiapan fisik yang dijaga; jadual kerja yang lebih diatur; lisan, hidung, mata yang direm serta yang tak mungkin dihindari adalah menjaga ‘perasaan’ dari segala macam godaan dan cobaan yang sangat mungkin saja datang menghampiri.

Ketika kita mulai khusuk dan asyik untuk berpuasa, siang itu /2 September tiba-tiba kita merasakan getaran gempa yang menggoyang bumi. Tiba-tiba pula ‘perasaan’ ikut berdebar [membayangkan yang lebih buruk terjadi], dimanakah gempa ini? Melalui TV kita mulai melihat saudara-saudara kita di wilayah Jawa Barat yang terlunta-lunta.Hanya doa kala itu yang terlontar dari ‘perasaan’ yang berdebar, semoga mereka tetap bisa menjalankan puasanya dengan baik.

Ketika musim mudikpun tiba; ‘perasaan’ pun ikut serta merta merasa gembira.tiba-tiba ada rindu yang menyeruak untuk segera ke kampung halaman, menemui Ibu yang kian renta dan ‘perasaan’ yang tertahan sambil berdoa smoga masih ada waktu berjumpa dengan Ibu.

Waktu berjumpa Ibu di kampung, ‘perasaan’ pun ikut serta berbunga. Bahagia nian Ibu yang renta ini masih tersenyum bangga dengan anak-anak serta cucu-cucunya. Ada sedikit yang berubah, ketika menyiapkan perjamuan untuk keluarga, Ibu sudah memblender bumbunya, tak diuleknya lagi bumbu untuk sambel goreng ati dan rendangnya, tenaganya yang kian rapuh.‘Perasaan’ pun berkecamuk melihat keriput di wajahnya yang ayu.Dengan perasaan seperti itu dalam hati kecil mendoa; “Ibu, semoga akan ada banyak waktu kita untuk senantiasa bersama”.

BREAKING NEWS di media TV: NOORDIN M TOP TEWAS DI SOLO! Noordin tewas ; dihajar peluru panas Detasemen 88 on September 17, 2009 11:54.

Lagi-lagi ‘perasaan’ ini mendidih.berita ini telah menjadi penyulut rasa yang selama ini juga ikut merasakan kecemasan, kemarahan dan kelelahan batin diombang-ambing oleh ledakan bom dan berita terorisme. Ada orang yang tewas dibulan Ramadhan dan di rumah, di gardu ronda, di mushola, di pasar hewan, di pasar sayuran kitapun ikut menggunjingkannya dengan ‘perasaan’ yang berbeda-beda.
Lebaran kian dekat tetapi Ramadhan belum usai, di tanah Jawa dari sudut-sudut kampung petani tampak gersang di sana-sini.Teriknya matahari menambah kering tidak hanya pada lahan garapan tetapi rasa nya juga merambah pada ‘perasaan’ yang seakan-akan terselimuti oleh rasa ketidak berharapan [hopeless] pada kenyataan kehidupan.
Sawah kering, palawijapun tertatih-tatih untuk hidup, batang-batang jagung kekurangan air, hewan-hewanpun merangas kekurangan pangan!
Rasanya serba kikuk untuk memulai pembicaraan, inikah konsep ekonomi kerakyatan yang dalam pemilu kemarin ramai dikumandangkan? Inikah pembangunan ketahanan pangan pedesaan itu? Inikah otonomi daerah itu? Petani-petani yang sementara tak memiliki lahan garapan, adalah petani-petani kita yang tabah, yang sangat kuat bertahan walaupun [untuk sementara] tak berpengharapan. Kenyataan ini sungguh sulit di terima oleh ‘perasaan’.

‘Perasaan’ ini terlunta-lunta di kampung halaman sendiri!

Dahulu di musim paceklik ada fenomena pulung gantung sebagai penyebab bunuh diri di Gunung Kidul. Dalam analisisnya seorang peneliti dari UGM menyimpulkan bahwa kasus kasus bunuh diri di Gunung Kidul lebih erat berkaitan dengan kemiskinan, kekeringan dan kesulitan hidup sehari hari. Kasus kasus bunuh diri lebih banyak terjadi di daerah daerah yang sangat kering, miskin dan sulit. Di tahun enam puluhan Gunung Kidul memang terkenal tandus dan rawan kelaparan. Tetapi perbaikan ekonomi selama beberapa tahun terakhir ternyata tak juga mampu mencegah kejadian bunuh diri. Masih banyak faktor psikologi dan psikiatrik yang tak membaik hanya semata mata dengan perbaikan ekonomi…”perasaan” ini tergelincir begitu jauh berimajinasi…


Kini Ramadhan telah usai dan lebaranpun telah berlalu.Walau musim [panas] belum berubah. Semua orang-orang [dari kampung-kampung di seantero negeri] pergi kembali ke kota. Menabur asa, menyemai harapan untuk sesuatu kehidupan yang lebih baik lagi.’Perasaan’ kembali bergelora dengan doa semoga harapan itu memang benar adanya.

Belum lama kaki melangkah di Ibu Kota, Gempa Padang 30 September membuat ‘perasaan’ ini lagi-lagi terguncang. Hujan air mata, ratapan dan derita tiba-tiba hadir di depan mata.dalam ‘perasaan’ yang bimbang berdoa; “Tuhan, gempa dan musibah Mu pasti tak pernah salah sasaran, Engkau adalah pemberi yang terbaik maka biarkanlah dengan apapun kami menerima kebaikan Mu…sekalipun dengan ‘perasaan’ yang tidak menentu”

Ada pula kabar gembira, melalui badan dunia Unesco; batik Indonesia dinyataan sebagai kekayaan dunia. Hari batik 2 Oktober kita sambut dengan ‘perasaan’ suka cita. Namun di belahan kampung-kampung di jawa, telah lama pengrajin-pengrajin batik telah gulung tikar karena ekonomi yang porak-poranda.’perasaan’ ini kembali bercampur aduk, batik; telah menjadikan kita bangga sekaligus meninggalkan tanggung jawab yang ternyata tidak sederhana.

Hanya karena masalah ‘teknis’ yang hanya PLN dan Tuhan yang tahu, masalah kelistrikan pun menyengat perasaan kita dengan tegangan yang tak kalah tinggi.’perasaan’ ini juga tidak bisa membiarkan PLN byar pet dan kita tidak siap menerima situasi ini.Pemadaman listrik bergilir telah membuat ‘perasaan’ kita marah dan melambungkan ‘perasaan’ pada ketidaknyamanan yang teramat sangat diantara ketidak berdayaan.
Semua manusia pasti memiliki perasaan, hanya saja kadarnya berbeda-beda, ada yang kuat ada yang lemah. Perasaan adalah rasa-rasa yang terletak di hati nurani insan.Perasaan-perasaan itu seperti rasa kasih, rasa cinta, rasa benci, rasa jijik, rasa simpati, rasa marah, rasa dendam, rasa rindu, rasa malu, rasa megah, rasa sombong, rasa takut, rasa serba salah, rasa kecewa, dll.
Perasaan-perasaan yang merupakan fitrah alami manusia, tidak mudah untuk diasuh, dididik, didisiplinkan, dikendalikan dan diurus karena ia ada yang positif, ada yang negatif. Yang positif hendak dilepaskan, yang negatif hendak ditahan.
Kitalah yang membuatnya menjadi menyenangkan, tidak menyenangkan dan bukan menyenangkan juga bukan tidak menyenangkan / netral.

Lupakan atau simpan semua yang terjadi…So, tunggu apa lagi, “Jagalah Perasaanmu!”…[LL/04/10/09].

Tidak ada komentar:

Posting Komentar