
Sering tiba-tiba dalam menjalankan hidup ini langkah kita merasa harus terhenti dengan apa yang kita sebut dengan Difficult Time.Waktu yang sangat sulit, bisa diibaratkan seperti suasana ketika seorang nelayang yang tak bisa menangkap ikan karena laut yang mengganas; sama halnya dengan petani yang tak lagi dapat menanam karena lahan garapannya sudah digusur untuk kepentingan pembangunan; ini kira-kira sama juga dengan dengan karyawan yang kehilangan kinerjanya dan harus berhadapan dengan PHK; atau kurang lebih seperti seniman yang kehilangan ide kreatifitas untuk berekspresi; atau ketika seorang budayawan tak memiliki gagasan tentang konsep kemanusian dalam semesta atau dapat digambarkan laksana politisi yang tak memperoleh dukungan suara dari para konstituennya; atau ketika kita mendapatkan penghianatan dari orang yang kita sangka sebagai teman,…begitulah kira-kira suasana [batin] nya.
Waktu ini membuat kita merasa tertekan, sejenak kita frustasi, meratapi yang tak mungkin kembali lalu kita kehilangan tempat untuk mengadu.Dalam suasana seperti ini perasaan kita terasa diaduk-aduk, tidak karuan entah mengapa, hidup seperti habis seketika, hidup seperti tak memberi solusi, kita menghabisi diri kita sendiri dengan kata sesal.
Ternyata diluar carut marut kegundahan hati kita ketika menghadapi waktu yang sulit ini; dunia tetap berputar, udara tetap berhembus, matahari tetap bersinar, burung-burung tetap berkicau, apa artinya? Artinya adalah ternyata dunia yang kita pijaki belumlah kiamat.Sekalipun tidak banyak orang yang menyukai waktu yang sulit ini, tetapi sebagai manusia yang hidup kita tak akan pernah bisa memungkiri dan ingkar darinya.Ini persoalan jatah orang hidup. Ini kodrat [takdir yang baik] dan juga irodat [takdir yang buruk] bagi orang-orang yang masih diberi nyawa.
Lalu harus bagaimana? Tidak mudah memang untuk segera bebenah diri menyelesaikan semua diwaktu yang sulit. Setidaknya inilah saat yang tepat untuk kita kembali mencoba mengenali diri kita sendiri.Mengapa? Sering tanpa disadari sebagai manusia kita tak pernah melepaskan diri dari nafsu dan ambisi pribadi.Nafsu dan ambisi ini terus melekat sejak nafas pertama kita hirup di dunia ini.Kita menjadikanya kendaraan yang nyaman untuk memenuhi konsep dunia yang ‘ideal’ yang kita damba-dambakan.Sebagai kendaraan [nafsu dan ambisi] telah mengantarkan kita kemanapun dunia yang kita inginkan.Sepertinya tidak ada yang bisa menghentikannya, melarangnya bahkan mencabutnya dari jasad hidup kita.
Kita terus saja membawanya berlari dan melaju sekencang mungkin dengan kecepatan yang kita mau.Nafsu dan ambisi itu bergelora-lora membakar dan menyelimuti kita menuju dunia yang ‘ideal’.Dunia yang ‘ideal yang kita bangun adalah; harta yang berkecukupan, ikan yang banyak serta lautan yang selalu teduh, hasil pertanian yang melimpah dan tanah yang selalu subur, gaji yang besar dan fasilitas kerja yang mewah, ide yang senantiasa melimpah dan karya yang jumawa dengan pasar pembeli yang bagus, ketajaman pikiran dan mendesign konsep kehidupan dunia seperti yang kita mau, atau para politisi yang selalu obral janji dan selalu dapat dukungan suara dengan membeli, atau kita berkecukupan suasana sehingga kita dapat merangkul dan berfoya-foya dengan teman disekeliling kita,… begitulah kira-kira suasana [batin] nya.Dunia ‘ideal’ tanpa duka dan nestapa.
Waktu yang sulit ini, ternyata mengingatkan kita akan harkat bahwa kita masihlah manusia [biasa]. Rocker juga manusia, punya hati-punya rasa. Inilah yang sering kita lupa terhadap diri kita, mungkin saja jasad [hidup] ini berada pada titik jenuh. Ibarat bunga setelah berkembang mungkin dia butuh tambahan pupuk dan siraman air yang lebih. Rotasi waktu membutuhkan ‘sedekah’ pada bumi dan laut untuk menjamin hasil yang langgeng. Tubuh dan segenap pikiran yang lelah ini juga butuh ‘diruwat’ sebagai sebuah interupsi. Interupsi ke dalam jiwa untuk kembali mengenal kesejatian diri dan meluruskan kembali nafsu dan ambisi yang kadung membesar.
Siapa bilang waktu yang sulit ini tidak bermanfaat? Untuk sementara waktu:
Bagi para nelayan ketika laut yang sedang murka ada baiknya untuk merawat jala dan perahu yang selama ini digunakan, bagi para petani mungkin harus kembali mengasah cangkul dan berhati-hati ke depan dengan tawaran mengiurkan terhadap lahan garapan untuk hidup, bagi para karyawan mungkin harus belajar lebih disiplin lagi terhadap komitmen, para seniman juga harus kembali pada kodrat penciptaan, tidak usah terseret pada ‘laku’ yang tidak produktif bagi kekaryaan yang nyata, bagi para budayawan harus kembali berada di tengah-tengah masyarakatnya tidak bermukim pada ruang ber-AC yang penuh dengan aroma kekuasaan, bagi para politisi harus bisa dengan jujur untuk bekerja dengan masyarakat disekitarnya, serta bagi kita pribadi adakah selama ini kita telah mengenal betul dan memberi arti yang lebih pada pertemanan kita? Atau hanya sekedar basa-basi yang tidak perlu untuk melegitimasi pergaulan kita? Wallahualam.
Inilah waktu yang sulit itu, karena dengan segenap kesadaran, kita akan tetap melihatnya sebagai keindahan yang nilainya juga tidaklah kalah dari ketika kita mendapatkan waktu yang mengembirakan.Semua ada suka citanya, semua ada suka dukanya, dunia selalu simetris, terbagi dua, berpasangan dan selalu menjaga keterseimbangan.
Hidup ini hanya mampir untuk minum, waktunya yang sangat singkat, sekejap saja, tak banyak yang bisa kita bawa, kecuali menghargai waktu yang akan datang pada kita.Pada saat kaya maupun miskin, pada saat muda maupun tua, pada saat longgar maupun sempit, pada saat sehat maupun sakit, pada saat hidup maupun mati…I do…, [LL/20/10/2009].


Tidak ada komentar:
Posting Komentar