
Era tahun 90an ketika Pak Harmoko menjabat sebagai Menteri Penerangan Orde Baru, dalam kancah panggung nasional muncul kepermukaan seorang penyanyi yang sekaligus komedian yang bernama Dorce dengan embel-embel Gamalama. Sebagai entertainer sungguh luar biasa, suaranya bisa menyanyikan lagu apa saja mulai dari pop, dang dut, keroncong, rock semua bisa dilahapnya. Dorce ternyata pernah menjadi laki-laki yang kemudian berubah menjadi wanita [baca - setidaknya kewanita-wanitaan], bahkan pernah menunaikan ibadah haji.Tetapi siapakah ‘Gamalama’?
Tahun 96 saya baru tahu ada daerah di Indonesia yang bernama Tobelo. Nama daerah ini saya ketahuai dari sebuah etnographic film yang berjudul “Tobelo Marriage”. Film ini di buat oleh dosen saya di Leiden University bapak Dirk Njland pada dekade 80-an. Film ini menceritakan kisah cinta melibatkan dua pasangan muda mudi dari daerah Tobelo dan Galela.Seperti kebanyakan film ethnographic, maka film inipun sangat detail mendiskripsikan kondisi geografis, kehidupan keseharian masyarakat, adat istiadat setempat serta nilai-nilai leluhur yang dianut. Tetapi dimanakah Tobelo?
Tahun 2000 Bank Indonesia menerbitkan uang pecahan senilai Rp. 1000,- yang bergambar depan Pahlawan nasional kapitan Pattimura dan bergambar belakang Pulau Maitara dan Pulau Tidore. Setiap orang rasanya, mulai dari anak-anak smapai orang dewasa tentulah pernah memegang uang kertas seribu rupiah ini, uang receh bagi orang dewasa dan menjadi uang jajan bagi anak-anak. Uang ini saya pikir sangat popular [hingga kini]. Tetapi dimanakah Pulau Maitara?
Dalam atlas Indonesia dan dunia, dijelaskan Gamalama adalah nama sebuah Gunung Api yang terletak di Pulau Ternate, sementara Tobelo adalah nama salah satu daerah yang terletak di Pulau Halmahera [utara], sedangkan Pulau Maitara terletak antara Pulau Ternate dan Pulau Tidore. Dan Anda tahu, ternyata semua itu sekarang berada disatu provinsi yang sama yaitu provinsi Maluku Utara, setelah pemekaran dari propinsi induk Maluku.
Dalam catatan sejarah nasional, daerah-daerah ini ternyata bukanlah daerah baru.Kesultanan Ternate, Kesultanan Tidore, serta Kesultanan Jailolo [Halmahera Utara] adalah kerajaan yang menguasai perdagangan rempah di Maluku – Perairan Timur Nusantara. Tiga Kesultanan inilah yang diyakini juga sebagai pintu gerbang masuknya syiar Islam di wilayah timur. Dalam hal perdagangan, ketiga kesultanan ini bersaing keras dan juga melakukan peperangan dengan kapal dagang Portugis.
Pada Perang Dunia II, wilayah Maluku Utara juga menjadi daerah basis sekutu untuk melumpuhkan Jepang.Di bawah komando Jenderal Dauglas Mc. Artur, Pulau Morotai manjadi base camp pertahanan udara dengan menjadikan Morotai sebagai landasan udara pesawat-pesawat sekutu. Dalam bukti fisik yang pernah tercatat, Morotoi dikenal dengan ‘Landasan Pitu (7)’. Tujuh track landasan pacu pesawat! Anda bisa membayangkan betapa sibuknya landasan ini!
Kini Morotai baru menjadi daerah kecamatan dari rencana sebagai daerah kabupaten pemekaran.Morotai sebagai kecamatan yang sangat sederhana, berbeda dalam hingar bingar catatan sejarah. Landasan Pitu kini secara operasional merupakan milik AURI. Sementara bangkai-bangkai besi bekas pertempuran telah ludes menjadi besi tua rongsokan yang konon menjadi bisnis ‘orang Jakarta’?!
Tahun 2004 saya berkesempatan menginjakkan kaki ke Ternate dan sekitarnya. Saya ikut bermain ‘Bamboo Gila’.Sebuah batang bambu yang setelah dijampi-jampi, akhirnya memiliki kekuatan ‘magis’ yang membuat pemegangnya pontang-panting terbawa kekuatan sang bamboo.Hanya perasaan senang disamping rasa lelah dan keringat yang bercucuran memainkan ‘mainan’ ini. Tapi kekuatan ‘magis’ bamboo gila sepertinya tak lenyap begitu saja di daratan Maluku Utara.Setelah ‘kisruh’ Pilkada Gubernur yang berlarut-larut, Tobelo dan Galela juga terseret konflik etnis yang berkelanjutan. Banyak desa yang terbakar dan banyak pengungsi yang masih ‘trauma’.Kesadaran politik dan kesadaran Berbangsa, hilang begitu saja rasanya, seperti hilangnya logika dipermainkan bamboo gila.
Kisah-kisah politik di Maluku Utara, berbanding terbalik dengan kondisi alamnya yang memang seperti surga. Batu akik dari Pulau Bacan dan ikan tuna yang melimpah untuk di ekspor ke Jepang. Serta Gugusan pulau-pulau kecil yang berpantai pasir putih [Pulau Gurauci], terumbu karang dan lautnya yang biru. Dari lereng Gunung Gamalama, saya melihat Ternate sebagai semenanjung pesisir yang sangat elok, berpagar Pulau Tidore dan Halmahera. Dari Pulau Tidore saya melihat Pulau Ternate yang gagah berlindung Gunung Gamalama. Semuanya melengkapi indahnya Surga di Ujung Timur [Indonesia].
Ada sebuah pertanyaan dalam rasa penasaran saya yang tak hilang –hingga tulisan ini saya turunkan, “mengapa Dorce mengambil Gunung Gamalama untuk namanya?”...semoga saja bukan karena efek bamboo gila.[01/02/09]


Tidak ada komentar:
Posting Komentar